
Kening Syarif sedari tadi berkerut tanda bingung, segala penjelasan laki-laki paruh baya di depannya tidak bisa ia pahami maksudnya. Entah apa yang sebenarnya beliau bicarakan, yang pasti hatinya diliputi kemarahan.
"Syarif, tolong Om. Aura putri kesayangan kami." Pinta laki-laki itu yang tak lain Didik.
"Maaf Om, apa Om tahu kalau saya sudah punya istri?"
Dinda mengangguk lemah, "Om tahu. Tapi itu keinginan Aura yang terakhir." Memelas wajah Didik, syarat akan permohonan.
Syarif menggeleng heran, permintaan terakhir? Bukankah keluarga mereka termasuk konglomerat, kenapa tidak berobat saja. Ilmu kedokteran sekarang sudah canggih, cih ini pasti alasan.
"Apa Om sudah bangkrut, Aura masih stadium dua. Masih ada kemungkinan untuk sembuh." Telak, Syarif tidak akan basa-basi.
Didik menelan ludah kasar, "Syarif. Om mohon, tolong Om." Didik tidak malu untuk memohon kepada seseorang yang lebih mudah, jika ini menyangkut Aura.
"Tidak Om. Apa Om pikir aku mau menolong orang, tapi menyakiti hati istriku? Istri saya adalah prioritas, meskipun Om akan memberikan imbalan seluruh harta Om pun saya tetap menolak." Tegas Syarif.
Didik semakin lesu, "Om paham Syarif. Tapi Om mohon, kamu jenguk Aura. Pasti kehadiranmu membuat semangat hidupnya kembali."
Tidak tahu malu. Batin Syarif geram.
"Oke, nanti aku akan jenguk." Putus Syarif, ah orang seperti ini harus diladeni dengan cara berbeda.
"Terima kasih Syarif, Om sangat berharap dengan kehadiranmu."
Syarif hanya manggut-manggut, melirik jam di pergelangan tangannya, pukul dua siang. Cukup lama ia terjebak dengan Didik, dua puluh menit.
"Apa masih ada hal penting Om, yang perlu dibicarakan. Sebentar lagi, saya ada rapat."
"Oh, silahkan. Sudah tidak ada. Terimakasih atas waktunya, Syarif."
"Baik Om, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Syarif berlalu meninggalkan Didik yang masih duduk di caffe tempat mereka ngobrol.
Caffe dan kantornya hanya bersebrangan dengan jalan raya, tidak butuh waktu dua menit untuk sampai di kantor.
Syarif masih memikirkan permintaan Didik yang terdengar konyol. Permintaan terakhir, heh?
Di Jaman seperti ini masih saja alasan sakit parah digunakan. Untung saja Syarif bukan pria yang mudah tertipu. Dan ya, Syarif akan mengikuti alur permainan keluarga Sujatmiko.
Tentunya dengan rencana yang lebih cerdik lagi. Syarif menyeringai sinis, dia sudah berada di kursi kebesarannya.
Rapat? Tadi hanya akal-akalan Syarif, oh dia harus segera bertobat karena sudah berbohong. Tapi, jika tidak seperti itu pasti Didik akan meminta lebih.
Oke, Syarif akan menyusun rencananya. Sedikit berat memang, apalagi ia harus melibatkan istrinya. Yah, Syarif harus mengabaikan istrinya untuk mempermudah rencananya.
Bismillah, semoga semua lancar sesuai dengan harapannya.
__ADS_1
****
Pukul tujuh malam, Syarif mengajak Syam untuk pergi ke rumah sakit tempat Aura di rawat. Di tangan Syam, satu keranjang buah-buahan segar untuk Aura.
Syarif sudah menceritakan rencananya pada Syam, dan Syam pun turut meramaikan rencana Syarif.
Syam juga tidak terlalu suka dengan Aura yang dia nilai kegenitan dan kegatelan itu.
"Syam, kamu ingatkan tugas kamu?" Syarif memastikan lagi perihal tugas Syam.
Syam mengangguk pasti, "ingat, Pak."
"Oke, ayo kita masuk."
Ruang VVIP menjadi pilihan keluarga Sujatmiko menempatkan Aura. Rumah sakitnya bukan rumah sakit biasa, ini rumah sakit nomor satu di kotanya dengan fasilitas dan pelayanan yang unggul.
"Assalamu'alaikum." Salam mereka bersamaan.
"Wa'alaikumussalam," Didik yang membuka pintu tidak menutupi kesenangannya melihat kedatangan Syarif.
"Ayo silahkan masuk."
Kamarnya luas, di ranjang pesakitan Aura nampak terlelap. Yang menurut Syarif tidak ada wajah pucat nya sama sekali. Hanya wajah polos tanpa make up saja.
Apa keluarga Sujatmiko memiliki rabun? Hingga tidak bisa membedakan mana yang sakit dan yang pura-pura sakit?
Cih, untuk ukuran anak kesayangan mana mungkin akan ditanyakan perihal kebenarannya. Yang mereka tahu apapun akan dilakukan untuk kesayangannya.
"Syam, Tante." Jawab Syarif melihat wajah kebingungan Desti.
"Oh, iya. Syarif dan Syam, silahkan duduk."
Syarif dan Syam memilih sofa yang berhadapan dengan keluarga Sujatmiko.
"Ini Tante, ada sedikit buah."
"Terimakasih, malah repot." Desti dengan sigap menyiapkan minuman untuk Syarif dan Syam.
Sedangkan satu pasangan lanjut usia di depannya tidak pernah lepas menatap Syarif.
"Bagaimana keadaan Aura, Om?"
Didik menghela napas berat, "yah begitulah. Aura masih harus di rawat."
Syarif manggut-manggut, "saya turut prihatin Om."
"Iya, terimakasih. Kedatangan kamu sungguh sangat membuat Om senang."
"Kamu Syarif?" Celetuk suara dari samping kiri Didik.
__ADS_1
"Iya, saya sendiri." Ah, drama akan dimulai.
"Kamu sudah tau keadaan cucu saya? Dan juga permintaannya?" Langsung pada tujuannya, tipikal Sujatmiko.
"Ya, Om Didik sudah memberitahu saya."
"Jadi, bagaimana? Kamu setuju kan?"
Syarif mengerutkan dahi, "setuju dalam hal apa?"
"Menikahi Aura, apalagi?" Ugh, nadanya terdengar tidak sabaran, siapa lagi kalau bukan Fera Sujatmiko.
Syarif tersenyum menanggapi, "maaf sebelumnya em–Nyonya. Saya sudah punya istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah."
"Aura bisa jadi istri kedua?"
"Tapi saya tidak ingin memiliki dua istri." Santai tanggapan Syarif.
Indro yang di sebelah Fera mencoba menenangkan emosi Fera. Istrinya ini sungguh sangat sensitif dengan Aura–Cucu kesayangan.
Didik merasa sangat malu, Mamanya sudah ia beritahu sebelumnya. Tapi tetap saja ngotot.
"Kamu? Imbalan apa yang kamu inginkan, hah? Kamu pasti hanya ingin harta kami kan?!"
"Ma, tenang. Aura masih tidur." Didik memperingati Mamanya.
Mata Fera memerah, tatapannya menajam ke arah Syarif.
Syam yang berada di sebelah Syarif merasa geram. Enak saja, bosnya ini lebih kaya dibandingkan keluarga Sujatmiko.
Syarif terkekeh sinis, "maaf Nyonya. Bukan saya ingin sombong, tapi saya rasa harta keluarga saya lebih melimpah dari keluarga anda."
Fera semakin berang mendengar jawaban Syarif, kalau bukan demi Aura dia malas melakukan ini.
"Kamu–"
"Ma, cukup. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan sesuai keinginan kita." Potong Indro yang sudah geram dengan kelakuan istrinya.
Kenapa semakin tau, istrinya malah semakin keras kepala saja?
"Syarif, Om minta maaf atas semuanya."
"Baiklah Om saya juga minta maaf, dan saya harus segera pulang. Kami permisi, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, terima kasih atas kunjungannya." Desti mengantarkan Syarif dan Syam sampai depan pintu. Ugh, Desti sangat malu dengan kelakuan mertuanya.
"Bagaimana, kamu sudah dapat hasilnya?" Tanya Syarif pada di perjalanan pulang. Ia tidak akan pulang ke rumah, tapi ke kantor. Rencananya dimulai dari sekarang, dengan pulang larut malam dalam keadaan acak-acakan.
"Sudah, Pak. Semuanya beres."
__ADS_1
"Oke, besok kita ke tahap selanjutnya."
________