
________
"Kamu nggak papa tho, Nduk? Ibu khawatir banget waktu denger berita itu." Tanya Bu Halimah khawatir pada putri satu-satunya, mendengar berita heboh malam itu dari besannya membuat Ibu Dinda marah bercampur khawatir.
Dalam pelukan Ibunya Dinda mengangguk, "gak papa, Bu. Dinda baik-baik aja, Ibu gak usah khawatir." ujar Dinda.
Ibu pun melepas pelukannya, matanya merah menahan tangis. "Ayo masuk, Bapak lagi sholat Dzuhur. Kalian sudah sholat belum?" Ibu menggiring putri dan mantunya masuk ke dalam rumah yang sudah ia huni setelah menikah.
"Alhamdulillah sudah, Bu. Tadi di jalan," kali ini Syarif yang bersuara.
Tadi pagi, ia memutuskan untuk mengajak Dinda berkunjung ke rumah Bapak dan Ibu. Ia ingin menceritakan perihal acara tadi malam.
"Ya udah kalau gitu, kalian mau minum apa?"
"Ya Allah, Bu. Gak usah, nanti biar Dinda ambil sendiri." Buru-buru Dinda mencegah Ibunya yang ingin mengambilkan minum. Seperti tamu saja! Ia kan bisa nyelonong ambil semaunya.
Ibu tersenyum, saking khawatirnya ia lupa bahwa rumah ini juga rumah anaknya. "Kalau gitu, Ibu tinggal sholat dulu ya. Kalian mending istirahat di kamar, kasian Dedek bayinya. Eh, atau belum makan siang, kalian?"
"Sudah kok, Bu. Tadi dedeknya pengen makan soto Betawi," ujar Dinda sambil mengelus perut buncitnya yang lebih besar dari usia kehamilan tiga bulan pada umumnya.
"Oalah, ngidam tho. Ya wes, Ibu mau sholat dulu." Pamit Halimah menuju tempat sholat di rumahnya.
"Iya, Bu." Jawab mereka kompak. Dan akhirnya menuruti saran Ibunya untuk istirahat di dalam kamar.
"Huh, leganya!" Desah Dinda ketika punggungnya mendarat mulus di kasur kesayangannya.
Syarif yang turut berbaring di samping Dinda pun tersenyum. Istrinya ini sungguh menggemaskan, rasanya ingin ia terkam saja.
"Bang, tidur dulu yuk." Ajak Dinda manja, tubuhnya ia rapatkan ke arah Syarif dan menarik tangan Syarif untuk memeluknya dari belakang.
Tentu disambut baik oleh Syarif, posisi ini menjadi posisi favorit bersama Dinda. Ia merasa sangat pas ketika memeluk tubuh mungil Dinda.
"Love you..." Bisik Syarif lirih tepat di belakang telinga Dinda.
"Love you too, Bang." Jawab Dinda yang tak kalah lirih. Dan akhirnya mereka terlelap dalam tidur siangnya.
__ADS_1
💞💞💞
"Makanya kamu harus hati-hati dengan keluarga, Syarief." Pesan Widodo ketika mendengar apa yang mantunya ceritakan.
Syarif manggut-manggut tanda setuju, "iya, Pak. Syarif juga udah mulai jaga jarak, takutnya juga Dinda yang jadi incaran." Syarif mengutamakan ketakutannya.
Widodo menghela napas berat, ia sudah tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga laknat itu. Ia sudah berusaha menjauhkan keluarganya dari keluarga Sujatmiko, tapi kenapa Dinda malah bertemu dengan mereka.
Widodo tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada putri semata wayangnya, Dinda. Dan apabila itu terjadi, maka ia tidak akan segan-segan mengeluarkan jurus terakhirnya.
"Kamu jaga istrimu baik-baik ya, Le. Jangan sampai Sujatmiko menyentuhnya, Bapak Ndak ikhlas lahir batin." Mohon pria paruh baya itu pada Syarif.
"Tanpa Bapak suruh pun, Syarif akan menjaga Dinda semaksimal mungkin, Pak. Syarif juga tidak rela, kalau sampai mereka deketin Dinda." Ujar Syarif menggebu-gebu.
Bapak dan Syarif melanjutkan obrolannya, dan membahas hal lain yang membuat emosinya tidak melonjak.
💞💞💞
Pukul dua siang, Dinda dan Syarif sudah berada di jalan seusai mengunjungi Ibu dan Bapak Dinda. Dan singgah sebentar ke rumah Ayah Bunda Syarif untuk mengambil kue yang Bunda buatkan spesial untuk Dinda.
Mereka tidak akan langsung pulang ke rumah, karena Melisa tiba-tiba saja mengajak ketemuan. Pastinya gadis itu akan memberondong Dinda dengan berbagai pertanyaan mengenai masalah semalam. Dinda hapal tipikal Melisa.
Melisa
Kamu sini aja
Oke, tunggu yak.
"Bang, ke caffe Indro ya. Melisa ada nunggu di sana." Pinta Dinda pada Syarif yang tengah fokus mengemudi.
"Kamu gak capek, memang?" Tanya Syarif memastikan, ibu hamil tidak boleh terlalu capek sebenarnya. Tapi kalau Dinda memang belum capek tidak apa lah. Kasian istrinya ini tidak pernah refreshing, hanya diam di rumah saja.
Dinda menggeleng tegas, "belum Bang. Kangen Melisa, udah lama gak ketemu." Ujarnya dengan wajah yang lucu bagi Syarif.
"Iya, tapi bentar aja ya? Kasian Dedek nya diajak jalan terus."
__ADS_1
"Siap, Bang."
Sepuluh menit waktu yang ditempuh menuju caffe tempat Melisa yang sudah menunggu. Jam siang seperti ini, banyak anak muda nongkrong. Entah bersama teman, ataupun pasangan mereka masing-masing. Tapi ada juga yang mengerjakan tugas sambil ngopi. Yah, contohnya Dinda dan Melisa, tempat ini sudah seperti tongkrongan wajib setiap hari.
"Assalamualaikum, Melisa." Salam Dinda ketika sudah berada di samping Melisa.
"Aaaa, wa'alaikumussalam Dinda. Sayangkuh." Melisa berhambur memeluk Dinda, ugh! Melisa sangat merindukan Dinda, terakhir bertemu dua bulan yang lalu.
"Apa kabar, Say?" Tanya Dinda yang sudah duduk manis di samping Melisa.
"Baik dongse, kamu gimana sama dedeknya?" Antusias sekali Melisa mendengar kabar kehamilan Dinda. Ia bahkan ingin menyumbangkan nama untuk anak Dinda, namun Syarif langsung menolak. Ia menyuruh Melisa punya anak sendiri lalu dinamai sendiri.
"Alhamdulillah sehat, aku kangen banget tau gak sih?"
Melisa mencibir, "pret! Kamu kalau udah sama misua mu mah lupa segalanya." Ujar Melisa cemberut, pura-pura.
"Kok gitu sih, Mel? Males ih, besok aku gak mau main lagi sama kamu, hihihi."
"Kan emang kamu gak pernah main sama aku." Jawab Melisa sok polos.
Dinda yang malas pun langsung memukul pundak Melisa, "awas aja kamu."
Melisa terbahak melihat ekspresi Dinda yang lucu menurutnya, sahabatnya ini semakin hari semakin bulat saja. "Iya-iya, Dindaku Sayang. Jangan ngambek dong, mending pesan minim sana."
"Udah kok. Bang Syarif yang pesan tadi," jawab Dinda cuek. Masih sebal sama Melisa.
Melisa mengalihkan pandangannya pada pria tampan yang duduk di seberang Dinda. "Bang, kok bisa sih semalem kayak gitu? Gimana ceritanya?" Kepo kan Melisa.
Syarif melirik Dinda sebentar meminta izin untuk bercerita, dan diangguki oleh Dinda. Mereka pun larut dalam cerita Syarif, Melisa yang dasarnya heboh pun malah seperti ulat bulu.
Gatel, pengen garuk sana sini. "Sumpah, kalau aku di TKP ya. Udah aku gibeng tuh orang! Sok-sokan banget," ujar Melisa menggebu-gebu, bahkan tangannya ia tinjukan ke atas, seolah-olah sedang memukul sesuatu.
"Lebay loh, di belakang aja gayaan." Cibir Dinda yang hapal betul sifat Melisa, sahabatnya yang sableng.
Melisa cengar-cengir, "hehe. Biarin lah, Din. Gaya itu perlu."
__ADS_1
Dinda hanya memutar bola mata malas mendengar ocehan Melisa yang pasti akan berbuntut panjang. Hah, untung Sabahat!
_____