Sah!

Sah!
Sah~~Lima Belas


__ADS_3

******


"Nanti Adek bareng Ayah Bunda ya. Abang berangkat dari kantor bareng Syam."


"Iya Bang. Tapi nanti tidak apa-apa kan?" Cemas Dinda, mengingat malam ini akan menjadi malam yang mendebarkan.


Syarif menghela napas kasar, ia juga tidak tahu apakah akan baik-baik saja. Yang pasti ia sudah berusaha dan berdoa untuk yang terbaik. "In syaa Allah baik-baik saja, Sayang. Percaya sama Abang ya, kepercayaan mu menguatkan Abang."


Dinda tersenyum haru, suaminya sangat setia. "Iya Bang, Adek selalu percaya sama Abang."


"Ya sudah, Abang tutup ya. Mau siap-siap."


"Iya Bang, assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Dinda memperhatikan tampilannya di depan cermin. Polesan make up tipis menghiasi wajah manisnya. Gamis maroon ber list hitam menjuntai indah di tubuh mungil Dinda, dengan paduan jilbab maroon menambah elok rupa Dinda.


Malam ini akan menjadi akhir dari sandiwara dari perempuan yang menggoda suaminya. Ia berharap semua rencana suaminya berhasil.


"Sayang, sudah siap?" Tanya Bunda menghampiri Dinda.


"Sudah Bunda." Dinda mencoba tersenyum, dia gugup.


"Jangan gugup, ada Ayah sama Bunda. Percaya, semua akan baik-baik saja." Hibur Bunda sambil mengelus pucuk kepala Dinda.


"Iya Bunda. Dinda gugup, soalnya pertama kali mau ke pesta besar."

__ADS_1


Yah, memang ini pengalaman pertamanya menghadiri pesta besar. Bapaknya hanya seorang guru, sedangkan Ibunya menjual kue pesanan orang-orang. Jadi pesta yang ia hadiri seperti pesta pernikahan tidak lebih.


"Ayo, Ayah sudah nunggu di bawah." Ajak Bunda, bukan hanya Dinda yang gugup. Tapi juga dia, ini menyangkut hal yang sangat besar.


Perjalanan menuju hotel tempat diadakannya pesta memakan waktu cukup lama.


Pukul setengah tujuh tadi, Dinda bersama mertuanya sudah membelah padatnya jalanan. Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, wajar saja. Besok weekend, pastinya banyak anak muda yang merayakan. Seperti kencan, mungkin.


Mewah. Itulah yang terlintas di benak Dinda ketika melihat bangunan di depannya yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat pesta.


Hem, pasti keluarga perempuan itu sangat kaya, pikir Dinda. Ah, ada perasaan minder. Meskipun dia adalah istri Syarif, tapi dia bukan dari kalangan orang terpandang seperti keluarga suaminya.


Tarik napas, hembuskan. Oke, tidak boleh berpikiran negatif semuanya akan baik-baik saja.


"Bun, mau turun sekarang apa nanti?" Tanya Ayah yang duduk di kursi sebelah Pak Soleh–sopir keluarga mertua Dinda.


"Emm, bentar Yah. Tunggu instruksi dari Syarif dulu."


Dinda mencoba tersenyum, "tidak apa, Ayah. Hanya gugup sedikit," jujur Dinda.


Bunda pun menguatkan menantunya dengan menggenggam tangan kanan Dinda. Mencoba menyalurkan kekuatan, dan seolah-olah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Acara sudah mulai kayaknya ya, Yah?" Mata hitam Bunda melihat lalu lalang di depan pintu masuk acara. Sepi, seperti acara di dalam sudah di mulai.


"Mungkin, kita tunggu aja apa instruksi dari Syarif."


Tidak ada yang berbicara lagi, semuanya larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Di antara mereka bertiga, Dinda lah yang paling cemas. Rencana ini sedikit gila menurutnya, tapi sangat berpengaruh untuk kelangsungan pernikahannya dengan Syarif.


Ting!


Bunyi ponsel milik Bunda membuat semua mata tertuju padanya. Penasaran.


"Apa Bun, katanya?" Cerca Ayah tidak sabar. Huh, dia malas sebenarnya berhubungan dengan keluarga Sujatmiko. Dan apa ini, anak perempuannya malah ingin menjadi istri kedua putra sulungnya.


No, tidak ada dalam benaknya untuk menjadikan keluarga Sujatmiko sebagai besan. Keluarga yang tamak, dan ambisius ditambah keras kepala.


Tapi, pengecualian untuk Dinda. Dia sudah menjadi calon menantu idamannya sejak masih bayi.


Ayah jatuh cinta pada Dinda, dan bertekad untuk menjadikannya menantu. Dan sudah terwujud sekarang, bahkan sebentar lagi ia akan punya cucu. Betapa senangnya, kebahagiannya akan bertambah sebentar lagi.


Syarif


Assalamualaikum,


Bunda, Ayah sama Dinda boleh masuk sekarang. Tapi, ingat rencana kita ya, Bun.


Hah, Bunda menghela napas kasar. Misinya akan di mulai, "kita boleh masuk sekarang, Yah."


"Oke, ayo. Jangan lupa baca basmalah." Ingat Ayah, awali segalanya dengan basmalah.


Mendengar itu Dinda langsung menjadi gugup. Tapi dia sudah gugup, tapi sekarang ia bertambah gugup.


Bismillah, semoga semua berjalan lancar, aamiin.

__ADS_1


Dinda, Bunda dan Ayah keluar dari mobil menuju tempat pesta. Mereka berjalan santai, meskipun hati dan pikirannya tidak sesantai cara berjalan mereka.


******


__ADS_2