Sah!

Sah!
Sah~~Tujuh


__ADS_3

"Bang, tidak sarapan dulu?" Pertanyaan Dinda yang sedang menyiapkan menu sarapan menghentikan langkah Syarif yang hendak berangkat ke kantor.


Syarif berhenti sejenak di depan meja makan, hanya melirik sekilas. Tetapi tidak ada niatan untuk mencicipi tumis bunga kol bercampur bakso masakan Dinda yang sudah tersaji di meja makan-menu kesukaannya.


Sedangkan Dinda menggigit bibir bawahnya gelisah, tangannya saling bertautan. Harap-harap cemas menunggu respon Syarif.


Akan tetapi harapannya sirna, tanpa ucapan Syarif langsung berlalu untuk berangkat ke kantor. Meninggalkan Dinda yang kini terpaku di tempatnya.


Dinda berkaca-kaca menatap kepergian Syarif tanpa menyentuh masakannya.


Tanpa bisa dicegah, cairan bening itu mulai membasahi pipi gembul milik Dinda. Dia sedih diacuhkan dan diabaikan. Sakit rasanya.


Namun setelah tersadar Dinda cepat-cepat menghapus air matanya, dia tidak boleh sedih. Ada bayi dalam kandungannya yang perlu dijaga, Dinda mengambil duduk di kursi tempatnya biasa duduk bila sedang makan bersama Syarif.


Mengambil nasi seujung centong, dan lauk kesukaan suaminya. Dinda makan dengan lesu, ini hari kedua suaminya tidak sarapan di rumah.


Sejak kejadian malam itu, Syarif tidak menyentuh dan mengajak Dinda ngobrol. Dia hanya diam dan acuh.


Dinda berusaha menikmati sarapannya, ia menunduk menyembunyikan raut sedih dan kecewanya dari sekitar.


Mbok Tien yang berada di pintu penghubung antara dapur dan ruang makan menitikkan air mata.


Sedari tadi Mbok Tien melihat interaksi antara Tuan dan Nona nya. Ia merasa begitu sedih melihat sang Nona diabaikan.


Mbok Tien mengusap air matanya yang meleleh. Dia akan membuat Nona nya tersenyum kembali. Mbok Tien pun menuju ruang makan untuk menghampiri Dinda sekaligus menghiburnya.


"Nona, hari ini mau ikut Mbok belanja, tidak?" Tanya Mbok Tien yang sudah berada di sebelah kanan Dinda.


Dinda yang terkejut pun berjangkit sedikit, menetralkan mimik wajahnya sebelum mendongak ke arah Mbok Tien. Dinda mencoba tersenyum, "boleh Mbok. Dinda bosen di rumah terus, kayaknya Dedeknya juga pengen jalan-jalan." Tutur Dinda sambil mengusap perutnya yang mulai buncit.


Mbok Tien tersenyum, "kalau gitu jam delapan nanti kita berangkat ya, Non."


Dinda mengangguk setuju, "boleh. Sekarang aku mau siap-siap dulu ya, Mbok. Mau mandi lagi, hihi. Habis masak gerah banget." Tawa dalam luka, itu yang Dinda tunjukkan saat ini. Tidak mungkinkah dia harus bersedih di depan orang lain? Meskipun ia yakin Mbok Tien sudah tau dengan permasalahan rumah tangganya.


"Oke Non. Mbok juga mau beresin dapur dulu." Mbok Tien mulai memberesi meja makan, yang masih sisa banyak.

__ADS_1


"Oke Mbok. Aku ke atas dulu ya. Maaf nggak bisa bantuin Mbok beres-beres." Sesal Dinda dengan wajah sedih, dia ingin membantu, tapi moodnya kurang bersahabat.


Mbok Tien tersenyum maklum, "nggak papa Non. Mbok bisa sendiri."


Dinda tersenyum meski tidak sampai matanya, "Dinda ke kamar dulu ya Mbok." Pamit Dinda yang sudah menghabiskan sarapannya dan berlalu menuju kamarnya di lantai dua.


Mbok Tien mengangguk dan memandang kepergian Nona nya dengan pengharapan agar masalah mereka cepat selesai. Kasihan Dinda, hamil dan banyak pikiran.


****


Di dalam kamar yang di dominasi warna putih dan abu-abu, Dinda duduk di ujung ranjang sambil memegang benda pipih miliknya. Sedari masuk kamar tadi, ia ragu untuk menghubungi Syarif, ia ingin meminta izin pergi belanja bersama Mbok Tien.


"Izin nggak ya?" Monolognya lagi, ini benar-benar rumit. Dinda masih kecewa, tapi kan istri tidak boleh meninggalkan rumah tanpa izin suami.


"Ah, bodo amat. Yang penting aku izin, masalah boleh nggak nya urusan belakangan. Lagian dianya juga kayak patung gitu." Keluh Dinda dengan jemari kecilnya terampil menari di atas keyboard hp. Mengetik pesan yang akan ia kirim pada Syarif.


"Dah, aku mau refreshingggg!" Teriak Dinda seolah mengeluarkan beban dalam hatinya. Pesan sudah terkirim, hanya menunggu dibaca saja.


Huh, ingin rasanya Dinda pulang ke rumah Ibu dan Bapak. Menyampaikan permasalahannya dan meminta masukan dari mereka. Tapi jika dipikir ulang, dia tidak ingin menambah beban pikiran orang tuanya, apalagi suaminya ini mantu pilihan mereka. Kan, kasihan.


Tidak berlama-lama, lima belas menit kemudian Dinda sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Keramas membuat kepalanya dingin, ia menuju ranjang untuk mengecek ponselnya. Apakah pesan yang ia kirim mendapat balasan dari sang suami.


******* kecewa keluar dari bibir Dinda, hanya centang biru dan tidak ada balasan. Apa sebenarnya yang suaminya inginkan, bila dia ada salah bisa dirembukkan bukan? Bukannya seperti ini, diam dan tanpa penjelasan.


Tak ingin berlarut-larut dan membuat Mbok Tien menunggu terlalu lama, Dinda memutuskan bersiap-siap. Semoga setelah ini semuanya akan baik-baik saja. Aamiin.


****


Tidak butuh waktu lama untuk sampai super market, Dinda dan Mbok Tien kini sudah berada di halaman super market.


Dia dan Mbok Tien akan belanja mingguan untuk kebutuhan memasaknya. Sekaligus membeli beberapa bahan untuk membuat camilan sehat ala Dinda.


Semenjak mengandung, Dinda semakin doyan makan dan nyemil. Jadi tidak heran kalau beratnya bertambah 6 kilo dalam tiga bulan ini.


"Mbok, ke bagian daging dulu yuk." Ajak Dinda ketika sudah memasuki Super Market.

__ADS_1


Mbok Tien mengangguk, "mau beli daging apa ini, Non?"


Mereka berjalan ke sebelah kanan menuju bagian daging.


"Bentar Non, Mbok ambil ranjang belanja dulu." Pamit Mbok Tien meninggalkan Dinda sendiri yang sedang memilih daging.


"Iya Mbok." Dinda melanjutkan memilih daging-daging segar yang akan ia dan Mbok Tien oleh menjadi makannya lezat.


Menimang-nimang antara daging yang satu dengan yang lainnya.


Mbok Tien kembali dengan ranjang di tangan kanannya yang sudah terisi beberapa bumbu siap jadi.


"Sudah Non dagingnya?" Tanyanya ketika Dinda memasukkan lima potong daging ukuran besar.


Dinda mengiyakan dan mengajak Mbok Tien menuju bagian sayuran yang berada di bagian depan.


Tapi, mata awas Dinda tiba-tiba terbelalak, kaget. Melihat pemandangan di depannya.


Itu... menyesakkan sungguh. Air matanya tidak bisa dicegah lagi. Turun membasahi pipinya.


Mbok Tien yang heran pun melihat apa yang sedang Nona nya lihat. Pekikan halus dan ranjang jatuh menjadi reflek Mbok Tien.


Jantungnya berdegup kencang, ia cepat-cepat mengambil ranjangnya dan menolah ke arah sang Nona.


Mbok Tien mendekati Dinda berusaha menenangkan dengan mengelus bahu Dinda.


Apa yang mereka lihat sungguh tidak bisa dipercaya, tapi benar adanya.


Di sana, di luar super market. Dinda dan Mbok Tien melihat Syarif bersama seorang wanita sexy sedang bergandengan tangan.


Mereka baru saja keluar dari super market, dan sedang berjalan menuju parkir mobil.


Apa ini yang membuat Syarif berubah?


Pikiran-pikiran buruk mulai menggerayangi Dinda.

__ADS_1


__ADS_2