
___________
"Aura, apa-apaan kamu? Papa tetap tidak setuju?" Tolak Didik tegas pada Aura.
Sedangkan Aura hanya cemberut mendengar penolakan Papanya yang entah ke berapa kali ini. Huh, Papanya benar-benar kolot.
"Ayolah Pa, Papa kan punya banyak kuasa. Pakai saja kuasa Papa." Bujuk Aura lagi.
Didik terlihat menghela napas lelah, putri sulungnya ini terbiasa di manja. Apapun keinginannya akan harus terpenuhi. Seperti halnya masalah satu ini.
"Kuasa Papa bukan untuk hal seperti itu, Aura. Biar bagaimanapun Papa tetap tidak setuju, dan tidak akan membantu." Final Didik.
Aura melipat tangannya di dada, matanya nyalang menantang sang Papa "oke kalau Papa gak mau bantu Aura. Aura punya banyak cara." Ucapnya dan berlalu dari hadapan Papanya menuju kamar.
Didik yang melihat putrinya marah hanya bisa mendesah lelah. Mungkin ini salahnya karena terlalu memanjakan Aura sedari kecil.
Tangan keriputnya memijit keningnya, berharap pusing yang di dera nya segera hilang. Permintaan putrinya sungguh di luar dugaan.
Pagi yang indah ini harus berakhir adu mulut, padahal Didik berniat meliburkan diri dari berbagai urusan di kantor. Tapi permintaan putrinya lebih memusingkan dan rumit dari pekerjaannya.
"Kenapa, Pa? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Desti kepada suaminya setelah duduk di samping sang suami. Ia membawakan kopi pahit kesukaan Didik.
__ADS_1
Didik menghela napas lelah, "Aura Ma. Keinginannya semakin hari semakin aneh, dan tidak bisa dibantah." Curhatnya pada Desti.
"Memangnya apa yang Aura minta, Pa? Biasanya Papa selalu turuti." Yah, semua orang tahu, bahwa Aura adalah anak kesayangan Didik dan juga cucu kesayangan orang tua Didik. Meskipun Aura memiliki dua adik kembar, tapi prioritas tetap pada Aura. Hanya Desti yang adil terhadap ketiganya, tidak condong di salah satunya.
"Masalahnya, Aura minta nikah sama Syarif, Ma. Suami orang." Tekan Didik di setiap kalimatnya.
Desti terkejut, jantungnya berpacu dengan cepat. "Ma-maksud Papa apa?"
"Ck, Aura minta nikah sama Syarif, pemilik Altama Group Ma. Dan dia sudah menikah enam bulan lalu."
"Aura ingin jadi istri kedua?" Tanya Desti dengan linglung. Sungguh, dalam hidupnya dia tidak pernah berharap hal ini.
"Iya, bahkan kalau bisa istri Syarif disingkirkan." Lirih Didik mengucapkannya. Pria 45 tahun ini benar-benar frustrasi. Apa kata orang nanti, jika putrinya menjadi istri kedua.
"Kita pikirkan nanti, Ma. Nanti kalau sudah membaik emosi Aura, kita kasih pengertian." Didik berusaha menenangkan Desti. Ia memeluk Desti dengan sayang, wanita yang sudah ia nikahi 20 tahun lamanya. Yang juga menemaninya sedari kuliah hingga sukses dan akhirnya memutuskan menikah.
Ah, semoga ini hanya menjadi keinginan di awal jumpa saja. Mungkin Aura hanya merasa kagum, ya Syarif memang pria tampan dan berkarisma. Wajar saja jika banyak gadis yang tergila-gila padanya.
"Pa, a-apa ini karma untuk kita?" Desti bersuara setelah keheningan melanda mereka berdua.
Tubuh Didik kaku mendengar pertanyaan tak terduga Desti. Setelah 20 tahun lamanya hal ini tidak pernah mereka singgung.
__ADS_1
"Bukan Ma, tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu." Sangkal Didik, meskipun di hatinya muncul berbagai kemungkinan.
"Bagaimana kabarnya, Pa? Apa dia baik-baik saja? A-apa–"
"Cukup Ma! Jangan ungkit dia lagi, bukankah kita sepakat untuk itu." Geram, Didik tidak ingin mengingat luka itu.
Selama ini Desti tidak pernah mengungkit, tapi kenapa hari ini Desti malah membahasnya.
Desti yang di bentak Didik semakin terisak. Harga dirinya sebagai itu terluka, juga menyesal.
***
"Arrrgghhh! Pokoknya aku hanya mau Syarif, bagaimanapun caranya." Teriak Aura frustrasi, saat ini ia sedang terlentang di atas kasur Queen size miliknya.
Kamarnya sudah tidak beraturan, mengingat dia yang kalap mengacak-acak barang yang ada di sana. Inilah Aura yang terbiasa keinginannya selalu terpenuhi, jika tidak benda-benda sekitarnya yang akan menjadi pelampiasan.
Setelah pembicaraan dengan Papanya tadi, Aura memikirkan berbagai cara agar keinginannya tercapai. Dan ya, harus. Tapi hingga detik ini Aura belum menemukan caranya, benar-benar membuatnya frustrasi.
Seringai licik terbit di bibir tipis Aura, dan ya dia sudah menemukan ide.
Apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan, meskipun tabu bagi orang lain. Dan keinginannya saat ini adalah Syarif. Syarif Maufiq Altama–CEO Altama Group.
__ADS_1
Harus.