
________
"Bang, kira-kira Papa cariin kita gak, ya?" Pertanyaan yang keluar dari mulut gadis remaja yang sedang berbaring bersama Kakak laki-lakinya. Mereka sedang asyik dengan ponselnya masing-masing.
Remaja yang dipanggil Kak itu pun menoleh ke arah adiknya. "Entah, paling Papa lagi sibuk sama Kak Aura." Jawabnya acuh, seolah ini pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.
Aira mendesah sedih, sudah tiga Minggu lebih ia dan Kakak kembarnya pergi dari rumah. Tapi belum ada tanda-tanda Papanya sibuk mencari mereka. "Papa gak sayang kita, ya Bang?"
Arya menghentikan permainan di ponselnya, ia fokuskan pandangan pada Aira yang terlihat sedih. Padahal hal ini sudah biasa terjadi, tapi kenapa Aira menjadi sangat melankolis.
"Kamu kenapa sih? Papa kan udah biasa kayak gitu kan, sama kita?" Heran Arya dibuatnya. Habis kejedot pintu kamar mandi mungkin Aira.
Aira mencebikkan bibirnya sebal bercampur sedih. "Ya kan aku pengen kayak yang lainnya. Kalau gak pulang ke rumah dicariin gitu. Kemarin aja Fika pulang telat udah ditelpon mulu sama Papanya. Lah kita ini udah tiga mingguan loh pergi dari rumah, tapi pesan Papa gak ada yang masuk." Aira kan juga ingin seperti mereka, yang dicari ketika pulang telat. Dikhawatirkan dengan pergaulannya, diperhatikan tentang pendidikan dan lain-lainnya. Memang ada Mamanya yang sangat perhatian, tapi Aira juga butuh perhatian dari Papanya.
Arya menjitak kepala Aira pelan, gemas dengan pemikiran adik kembarnya ini. Hah, sebenarnya dia juga merasakan apa yang Aira rasakan. Tapi ia laki-laki, gengsi untuk menampakkan. Dia juga harus terlihat kuat, untuk Aira dan Mama tersayangnya. Prioritasnya saat ini hanya Aira dan Mamanya, tidak lebih! Kalaupun Papanya, Aura dan Opa Omanya muncul, itu hanya sebagai figuran saja.
"Iya, Abang tau. Tapi mengharapkan hal seperti itu sama Papa itu sia-sia. Mustahil! Yang ada kita dapet sakit hati aja, dan itu gak menguntungkan buat kita. Mending kita pikirkan Mama aja, pasti Mama kesepian di sana."
Aira yang mendengar Mamanya di sebut Arya pun langsung tersadar. Arya benar, dia masih punya Mama dan tentunya Arya yang akan selalu menyayanginya. Biarkan saja Papanya bersama Aura dan Oma Opanya.
"Abang bener! Aku jadi kangen Mama kan?" Nah loh, sedih lagi! Arya berdecak sebal melihat Aira yang mudah sekali baperan. Huh! Sabar-sabar!
"Telpon lah," perintah Arya cuek.
"Udah, tapi pengen ketemu." Ekspresi Aira sudah berganti ingin menangis.
"Dah, dari pada sedih lagi. Besok kita pergi ke mall, refreshing lah."
Aira terpekik riang dan langsung menubruk Arya riang. Tau aja adiknya pengen jalan-jalan. "Sayang Kakak!"
Arya mengabaikan Aira yang memeluknya dan mencium wajahnya. Sudah biasa dengan adiknya ini.
****
__ADS_1
"Bang, jadikan nanti ke mall?" Tanya Dinda yang sedang menyiapkan sarapan untuk Syarif.
Hari ini rencananya mereka akan pergi ke mall untuk sekedar jalan-jalan.
Syarif menatap istrinya dengan senyum teduh, "jadi dong. Tapi sorean ya? Abang ada rapat jam dua nanti."
Dinda mengangguk setuju, lagian kalau sore kan gak panas-panas banget.
"Iya, malah enak kok sore. Udah gak panas," Dinda sudah duduk dengan piringnya yang penuh dengan nasi dan lauknya.
Hari ini ia dan Mbok Tien memasak capcay, telur dadar, dan juga menggoreng ikan asin. Menu rumahan yang bisa membuat Syarif betah di rumah, dan ketagihan dengan masakan istrinya.
"Mau main ke rumah Bunda apa Ibu gitu, gak? Sekalian nginep?" tanya Syarif pada Dinda.
Dinda berpikir sejenak, memang dia dan Syarif jarang nginep di rumah kedua orang tuanya. Selama ini dia hanya datang, tapi sorenya pulang.
"Akhir bulan gimana Bang, aku lagi males nginep-nginep."
Dinda tidak mengantarkan Syarif sampai depan rumah, karena dia sendiri yang melarang. Takut kenapa-kenapa sama istrinya dan bayinya. Padahal sih ya tidak apa-apa, wong gak sampai seratus meter ini. Tapi yang namanya Syarif tidak bisa dibantah, apalagi Dinda termasuk istri penurut.
****
"Hah, padahal kayak ginian di pasar banyak loh, Bang. Kenapa jauh-jauh beli di mall segala sih?" Nah kan, Dinda sudah dalam mode cerewet.
Syarif yang kena omel istrinya hanya cengar-cengir, kan dia beli mumpung ada di mall, jadi sekalian lah.
"Maaf, Dek. Kan sekalian, dari pada ke pasar lagi."
Dinda merengut sebal, "kan Mbok Tien besok ke pasar. Bisa titip juga, harganya itu loh Bang, beda jauh. Di pasar cuma 10 ribuan, lah ini? Tiga kali lipat harganya." Omel Dinda karena satu pasang kaos kaki hitam yang Syarif beli.
Bukannya apa, tapi kalau beli di pasar kan bisa dapat tiga pasang, kualitasnya juga tidak jauh beda.
"Iya, besok gak beli di mall lagi deh." Syarif tidak jengkel, justru ia sangat bersyukur memiliki istri yang sederhana seperti Dinda. Untuk datang ke mall ini saja sedikit dengan paksaan darinya, kalau nunggu kesadaran istrinya mana mau.
__ADS_1
"Beli es ya, Bang. Haus," pinta Dinda yang disetujui Syarif. Mereka menuju stand minuman, ia memesan satu capuccino untuk dirinya dan es jeruk untuk istri tercinta.
Mereka meminum esnya sebentar, dan melanjutkan acara keliling mereka untuk mencari barang yang mungkin memikat hati mereka.
Bruk!
"Astaghfirullah, maaf Kak. Aku gak sengaja," gadis berjilbab maroon itu meminta maaf kepada perempuan yang ia tabrak.
"Dek, kalau jalan hati-hati. Bahaya," nasehat Syarif membantu istrinya membersikan es yang sedikit tumpah di jilbabnya akibat ditabrak oleh remaja perempuan di depan mereka.
"Maaf Kak, aku tadi lagi gak fokus." Maafnya lagi, ia belum masih menunduk. Belum mau menampakkan wajahnya.
"Iya, gak papa. Tapi lain kali hati-hati ya, selain bahaya buat orang lain, itu juga bisa bahaya buat kamu." Tutur Dinda lembut, ia tidak marah. Gadis di depannya ini tadi tampak sedang risau.
Gadis yang tak lain Aira itu langsung mendongak ketika mendengar suara Dinda. Hatinya berdesir, kala tatapan matanya bertemu dengan Dinda yang tersenyum hangat. Aira membeliak terkejut, wanita di depannya ia seperti Mamanya.
"Dek, kamu gak papa?" Tegur Dinda yang melihat Aira hanya diam saja, tapi pandangannya tidak lepas darinya.
"Eh? I-iya gak papa. Sekali lagi saya minta maaf ya, Kak?"
"Iya, gak papa. Kamu sendiri ke sini?"
"Em, sama Abang aku. Tapi tadi lagi ke toilet," memang Arya tadi sedang ke toilet. Saat dirinya tidak sengaja melihat sekelebat Papanya yang sedang berjalan bersama klien. Aira takut ketahuan, jadi ia berjalan dengan cepat dan tidak memperhatikan jalan.
"Kalau gitu kita makan bareng aja, gimana? Udah sore juga ini? Ya Bang?" Ajak Dinda pada Syarif yang sedari tadi hanya diam menjadi pendengar.
"Boleh, ayo cari tempat makan."
Syarif berjalan mendahului Dinda menggandeng Aira, padahal Aira belum mengatakan untuk setuju ikut makan bersama mereka. Apalagi mereka baru bertemu, berkenalan saja belum. Tapi sudah diajak makan bareng.
Tapi apa daya Aira yang sudah didudukkan di tempat makan.
_______
__ADS_1