
________
".....pertunangan antara Adinda Aura Putri Sujatmiko dengan Ananda Syarif Maufiq Altama...." Riuh tepuk tangan dan suara-suara gaduh memenuhi dengan pesta malam ini. Ucapan MC laki-laki sekitar tiga puluhan barusan, membuat semuanya heboh dan tercengang.
Pikiran buruk banyak dilayangkan untuk Syarif, mengingat Syarif sudah memiliki istri dan sedang menunggu anak pertamanya. Apa Syarif selingkuh? Tapi tadi datang bersama istrinya?
Ketegangan melanda keluarga Syarif, mereka sudah tahu akan rencana ini. Tapi rada terkejut itu masih menghantam ulu hati mereka, terlebih Dinda. Matanya sudah berkaca-kaca, siap menumpahkan lahar panas.
Suara-suara sumbang untuk Syarif di belakang masih terdengar riuh. Menambahkan hantaman di hati Dinda. Suaminya tidak seperti itu!
"Mari kita sambut raja dan ratu kita malam ini..." MC masih berlanjut, tanpa memperdulikan suasana yang mulai panas.
Dia Aura, gadis angkuh itu sudah naik di atas panggung dengan gaya congkaknya, merasa menang. Sedangkan Syarif dengan tenangnya memberikan ciuman panjang di dahi Dinda. Dia masih diam di tempat, tidak ada niatan untuk naik ke atas panggung.
"Baiklah, saudara Syarif silahkan menuju panggung. Acara tukar cincin akan segera dilaksanakan..." MC menginterupsi Syarif yang tidak beranjak dari tempat. Kasak-kusuk tak enek kembali terdengar, tapi kali ini untuk keluarga Sujatmiko.
Fera yang berada di samping suaminya menggeram marah, melihat Syarif yang malah terlihat biasa saja. Dan bermesraan dengan istrinya itu! Sial! Kegelisahan juga meliputi Aura yang sudah berdiri dengan sombong di panggung, ia merasa hal buruk akan terjadi!
Tapi, bukankah Omanya bilang semua akan berjalan lancar. Dan Syarif akan menjadi miliknya? Baiklah, Aura harus tenang dan percaya pada Omanya.
"Saudara Syarif...." MC masih berusaha mengundang Syarif menuju panggung.
"Apa yang anda maksud adalah saya?" Tanya Syarif pada MC dengan gaya yang tidak paham.
MC menekuk alisnya, bingung dengan pertanyaan Syarif. Memangnya ada Syarif Maufiq Altama yang lain? "Iya. Benar. Silahkan... Saudari Aura sudah menunggu."
__ADS_1
Syarif tersenyum tenang, dia pun langsung menuju panggung. Menuruti ucapan sang MC, yah meskipun berat. Tapi rencananya tidak boleh gagal!
Keriuhan terjadi lagi ketika Syarif menaiki panggung, hujatan dan umpatan menguar untuk Syarif. Mereka dulu tamu undangan ketika Syarif menikah, wajar saja mereka merasa marah!
"Sayang, yang kuat ya." Ujar Bunda pada Dinda. Mengelus tangan dingin milik menantunya. Yang hanya dibalas anggukan dan senyum terpaksa. Mereka bertiga nampak tegang. Dalam hati selalu berdoa untuk yang terbaik!
"Maaf bisa saya pinjam Microphone nya." Ujar Syarif pada MC, yang disetujuinya.
"Selamat malam semua..." Sapa Syarif pada tamu undangan yang memiliki raut tak bersahabat.
"....malam ini saya sungguh terkejut. Menjadi tamu undangan, dan di tengah acara dipanggil sebagai pria yang akan bertunangan." Jeda Syarif, "apa ini sebuah prank? Haha, saya terkejut? Jelas. Saya sudah memiliki istri yang sangat saya cintai. Perempuan Sholehah yang menjadi penyempurna iman saya. Bagaimana saya bisa bertunangan lagi?"
Suasa menjadi hening, riuh hujatan tak terdengar lagi. Tamu undangan mendengarkan secara seksama ucapan Syarif. Pikiran buruk berganti untuk keluarga Sujatmiko.
"Dia istri saya–Dinda Amelia..." Tunjuk Syarif pada Dinda yang sedang menunduk dalam dekapan Bunda, "perempuan yang membuat saya terpesona sejak baru lahir. Di mana Bunda saya mengenalkan pada saya bayi perempuan anak sahabatnya. Bagaimana setelah penantian panjang, saya malah berkhianat?"
"Saya minta maaf sebelumnya, mungkin yang dimaksud oleh keluarga Sujatmiko bukan saya. Karena saya tidak merasa memiliki acara ini, saya di sini hanya sebagai tamu undangan. Tidak lebih. Saya memang Syarif Maufiq Altama, seperti yang MC panggil. Tapi tidak menutup kemungkinan ada Syarif Maufiq Altama yang lain, kan? Mana mungkin putri sulung Didik Sujatmiko–pengusaha sukses ingin menjadi istri kedua? Mungkin ini kesalahan teknis, sekali lagi saya ucapkan beribu maaf. Terlebih terhadap istri tercinta saya, Bunda dan Ayah. Mungkin tadi membuat kalian shock dan ingin membunuh saya, haha. Baiklah, terma kasih atas perhatiannya." Syarif memberikan mic kepada MC, dan langsung menuruni panggung. Berjalan dengan elegan menuju istri tercintanya.
Suasana riuh kembali, MC tidak bisa berbuat apa-apa. Dia meminta Didik untuk mengendalikan acara, semuanya tidak sesuai rencana. Gagal total!
Aura yang malu langsung berhamburan menuju Desti, ia sangat membenci keadaan ini. Rencana Omanya gagal, ia malu!
Lain halnya dengan Fera yang menggeram menahan amarah langsung menuju Syarif, menampar pipi kanan Syarif.
Plak!
__ADS_1
"Kurang ajar! Puas kamu membaut cucu saya malu, hah?! Kamu sendiri yang meminta Aura pada kami, dan sekarang kamu mencampakkan nya! Hah?! Apa mau kamu?!"
Drama, batin Syarif. Ia masih memegangi pipi kanannya yang terasa perih akibat tamparan nenek lampir. "Oh, apa saya pernah bicara seperti itu? Saya tidak mengingatnya sama sekali, terkahir kali saya bertemu anda di rumah sakit. Ketika cucu kesayangan anda sedang sekarat, dan tidak ada ucapan saya yang meminta Aura untuk menjadi istri saya." Setenang air mengalir jawaban Syarif.
Fera berang ingin melayangkan tamparan lagi, "Ma! Cukup!" Teriak Indro mencegah tindakan Fera, ia sudah cukup malu dengan semuanya jangan ditambah lagi.
Didik yang memegang kendali acara membubarkan tamu undangan, agar mereka tidak melihat adegan memalukan lagi. Ia cukup sadar diri, ini semua salah Sujatmiko.
"Tapi Pa!"
"Cukup! Ini semua rencana Mama, jangan menyalahkan orang lain!" Bentak Indro yang sudah merasa muak dengan segala sikap keras kepala istrinya.
Tamu yang masih tertinggal pun berhenti untuk mendengarkan lebih lanjut drama keluarga ini. Satu dua di antara mereka mulai paham dengan situasi terkini, dan mungkin besok koran dan majalah bisnis akan mengabarkan kehebohan ini.
"Maaf Pak Indro, saya kecewa dengan keluarga anda. Terlebih dengan sikap istri anda, jangan menggampangkan sesuatu hal dengan kekayaan dan kekuasaan. Putra saya bukan boneka yang bisa anda atur dengan uang anda," tutur Ayah kecewa.
Didik yang baru saja turun menyahut, "Yudha. Saya dan keluarga minta maaf yang sebesar-besarnya, kami tau. Ini mengecewakan kalian, ta-"
"Jelas! Kami semua kecewa! Ingat Didik, jangan macam-macam kamu dengan saya. Saya bisa saja bocorkan rahasia mu kapan saja!" Potong Yudha–ayah Syarif dengan sorot mayta tajam. Ia tidak main dengan perkataannya.
"Ayo, kita pulang. Untuk apa di sini, bikin naik darah!" Ajak Yudha kepada keluarganya. Meninggalkan Didik yang tercengang dengan ancamannya.
Aura yang menangis diperlukan Desti yang juga ikut menangis. Fera dan Indro dengan keterdiaman nya. Dan gedung mewah dengan kesunyiannya.
Mereka semua dengan pikirannya masing-masing!
__ADS_1
_______