
_________
Kejadian itu sudah berlalu dua Minggu, Dinda dan Syarif sudah beraktivitas seperti biasanya.
Selama itu pula, mereka tidak pernah mendengar kabar terbaru dari Aura. Keluarga Sujatmiko menutupi masalah itu dengan rapat. Media sama sekali tidak bisa mengendus.
Tapi, bukan berarti mulut-mulut para tamu akan diam saja. Media memang tak bersuara, tapi mulut para penjilat sudah sampai di mana-mana.
"Bang, kok perut aku besar banget, ya? Padahal baru empat bulan," adu Dinda sambil mengelus perut buncitnya yang besarnya tidak seperti orang hamil seumurannya.
Mereka sedang berbaring di ranjang, jam memang masih menunjukkan pukul delapan malam. Tapi pasangan ini sudah bersantai di kamar.
Syarif yang sedang membalas email pun menoleh ke arah perut istrinya. Tangannya juga ikut mengusap perut Dinda, "iya nih, Dek. Kemaren check up gak ada masalah perasaan, Abang."
Syarif mengingat-ingat yang dokter kandungan sampaikan ketika dia menemani Dinda check up sepuluh hari yang lalu.
"Besarnya nambah itu sekitar lima hari ini, Bang. Kayak isinya dua gitu," Dinda masih memasang raut bingung dan khawatir. Ia takut terjadi apa-apa dengan bayinya.
Syarif berpindah posisi memeluk Dinda, ia mengusap perut Dinda semakin intens. Berharap jabang bayinya tidak apa-apa juga dengan istrinya.
"Apa kita cek ke dokter, lagi? Biar jelas," ajak Syarif. Ia tidak ingin ambil resiko buruk.
Dinda berfikir sejenak, "em. Nanti aja, Bang. Kalau ada yang aneh baru periksa." Dinda rasa, ini bukan hal yang mengkhawatirkan. Jadi, ia ingin berpikir positif dulu dengan kehamilannya.
Syarif mengangguk setuju, "ya udah gak papa. Tapi kalau ada masalah sama dedeknya bilang sama Abang, ya?"
"Iya, Abang tenang aja."
"Abang mau lanjut kerja dulu, ya?" Izin Syarif yang sudah melepaskan pelukannya pada Dinda dan fokus pada laptop yang ia letakkan di kasur.
"Iya, Bang. Adek mau tidur dulu." Dinda mengambil posisi tidur di sisi kanan Syarif. Akhir-akhir ini dia mudah sekali capek dan ngantuk.
__ADS_1
"Sleep tight." Syarif memberikan kecupan selamat malam untuk Dinda.
Dinda langsung terlelap di alam mimpinya, sedangkan Syarif melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk.
Maklum, Syarif ingin segera menyelesaikan tugas-tugasnya. Agar ketika istrinya sudah masuk di trisemester akhir, ia memiliki waktu yang cukup untuk menemani istrinya. Apalagi kalau sudah mendekati persalinan, Syarif akan mengambil cuti.
***
"Desti, di mana anak-anakmu kamu sembunyikan!" Sentakan dari Fera membuat Desti semakin menunduk. Bukan karena takut, tapi ia masih menghormati Mama mertuanya.
Sejak tadi, Fera menghakimi Desti karena Arya dan Aira yang menghilang hampir tiga Minggu ini.
Tentu semua orang tertuju pada Desti, tapi hanya Fera yang langsung menghakimi Desti.
"Ma, sudahlah. Anak-anak mungkin lagi liburan," Indro mencoba menenangkan istrinya yang sudah kelewatan akhir-akhir ini. Indro malas mendengar keributan lagi, apalagi ini sudah jam delapan malam lebih. Tapi, istrinya masih saja cari gara-gara.
Fera menoleh ke arah Indro yang berada di belakangnya, tatapannya tajam karena suaminya tidak mendukungnya. "Papa diam saja, menantumu ini sudah kelewat batas!" Tatapan Fera tajam mengarah ke Desti.
Didik sudah geram dengan kelakuan Mamanya yang selama ini ikut campur dengan urusan keluarganya. Bahkan, terkadang menuntut hal-hal yang tidak masuk akal. Ia baru saja melihat Aura di kamarnya, tapi ketika ia turun ke lantai bawah ia mendapati Mamanya yang menuduh istrinya.
Tentu ia tidak terima, meskipun ia tahu Desti yang menyuruh anak-anaknya untuk sembunyi. Yang ia yakini adalah, Desti melakukan semuanya dengan tujuan yang baik.
"Kamu bentak Mama, hah?! Berani kamu Dik!" Fera merasa tidak terima dengan bentakan anaknya. Didik sudah keterlaluan!
"Iya, aku berani. Aku tidak ingin Mama mencampuri urusan keluargaku lagi. Cukup dengan perginya Arya dan Aira, juga kejadian yang menimpa Aura. Seterusnya tidak lagi!" Jawab Didik mantap dan dengan nada penuh amarah, ia melangkah menuju istrinya. Ia merangkul Desti yang terlihat ketakutan. Ia akan melindungi istri tercintanya.
"Pa! Lihat anakmu, mulai membangkang!" Tunjuk Fera di wajah Didik. Ia tidak terima anak satu-satunya bersikap kurang ajar dengannya. Apalagi karena membela Desti, yang jelas-jelas hanya perempuan lemah.
Indro menghela napas lelah, istrinya ini memang keras kepala. Sejak dulu, tidak berubah sama sekali. Meskipun usianya sudah hampir kepala tujuh.
Harus dengan apa ia mengurangi atau bahkan menghilangkan kekeras kepalaan istrinya ini.
__ADS_1
"Mama, lebih baik biarkan Didik mengurusi keluarganya sendiri. Jangan ikut campur lagi! Didik bukan anak kecil lagi yang masih harus diatur!" Indro memberi penegasan pada kalimatnya.
Istrinya ini sekali-kali harus di kerasi, agar tidak ngelunjak. Mungkin ini juga salahnya karena tidak bisa mendidik istrinya dengan baik. Atau karma atas perbuatannya tiga puluh tahun yang lalu.
Entahlah, yang pasti Indro merasa sangat menyesal dan bersalah.
Fera menggeram marah, "apa maksud Papa?! Papa mau bela anak kurang ajar ini?! Hah?!"
"Lebih baik kita pulang! Mama di sini hanya bikin rusuh!" Indro menarik tangan Fera untuk keluar dari rumah Didik.
Sebelum semuanya jadi berantakan, bisa jadi Aura yang sedang terlelap terbangun karena keributan yang dibuat anaknya dan istrinya.
"Pa, lepas! Anak kurang ajar kayak Didik harus diberi perhitungan!" Fera berusaha melepaskan pegangan tangan suaminya yang masih kuat meskipun tidak muda lagi.
Tentu tidak mendapat tanggapan dari Indro, ia menulikan pendengarannya. Indro berniat untuk mengurangi akses Fera bertemu dengan Didik dan keluarganya.
***
"Pa, hiks.." Desti menangis di pelukan Didik.
"Maafin Papa, Ma." Didik merangkul Desti erat, ia merasa sangat bersalah, bodoh, dan egois. Gara-gara dirinya yang tidak becus menjadi suami, dan ayah yang baik untuk istri dan anaknya.
Mereka berdua larut dalam duka, berpelukan. Menyalurkan segala rasa yang membelenggu hati dan pikiran.
Di atas tangga, gadis berbaju tidur motif Mickey mouse menyimak semua kejadian tadi.
Ia juga larut dalam air mata, gadis itu merasa sangat bersalah. Gara-gara dirinya keluarganya kacau. Ia sangat egois. Gadis itu adalah Aura, yang sudah banyak hari larut dalam kesedihannya dan juga rasa malu.
Mungkin kalau dia tidak nekat, semuanya akan baik-baik saja. Adik kembarnya tidak akan pergi, Mama dan Papanya tidak adak sedih dan menanggung malu. Juga Omanya tidak akan bertengkar dengan kedua orangtuanya.
Dan semua itu terjadi karena, dirinya. Si gadis egois dan manja.
__ADS_1
_______