Sah!

Sah!
Sah—Tiga


__ADS_3

Assalamualaikum semua


Happy reading 🤗😚


Dinda POV


02 Maret 2020, bukan tanggal cantik. Tapi akan menjadi hari bersejarah bagiku. Dimana tepat hari ini aku akan melepas masa lajang di usia hampir dua puluh tahun.


Hem, deg-degan banget dari tadi bangun pagi. Acara akad akan berlangsung dua jam lagi, sambil menunggu pihak laki-laki datang.


Ya Allah, padahal aku baru ketemu dia dua kali, pas lamaran dan malam setelah lamaran. Selebihnya kami nggak pernah kontekan. Ibu dan Bunda-Ibu Syarif melarang kami berdua untuk berbalas pesan via apapun. Aku sih seneng-seneng aja.


"Jangan gugup Din." Melisa yang sedari kemarin mengibap di rumahku, membisikkan kata-kata penyemangat.


Aku hanya mengguk dan tersenyum, gelisah tentunya. Ya Allah, anak Ibu sama Bapak dah mau kawin ini.


"Doi orangnya ganteng kan Din?" Tanya Melisa sekali laki, anak satu ini sedari awal mengetahui pernikahanku pasti yang di tanyakan doi ganteng nggaknya.


"Ganteng." Yah, aku nggak nyangkal soal itu. Syarif Maufiq Altama adalah pria paling tampan dari sekian pria-pria yang mencoba mendekatiku. Meski aku masih sedikit belum terima sih.


Perpaduan Jawa-Malaysia dan ada sedikit bumbu Eropa dari kakeknya, membuat wajahnya emm-yummy. Haha.


Nanti sajalah aku jelaskan, yang pasti saat ini aku sedang gugup setengah mati.


"Bagus deh, kalau nggak ganteng aku ajak kabur kamu. Kan kasian dah kamunya jelek, doi juga jelek. Apa kabar anak kalian nanti?" Astaghfirullah Melisa! Mulutnya, untung aja aku lagi di dandani, kalau nggak udah aku unyel-unyel. Tiga Mbak periasnya aja sampai ketawa. Dasar.


"Mulutnya kondisikan Mbak. Awas aja kamu nanti." Sebal bangat sama mulut lamis Melisa, pengen aku kruek rasanya.


"Hehehe, oke deh. Aku mau lihat sikon dulu, kamu baik-baik ya di dandani Mbaknya." Melisa bangkit dari duduknya, hendak keluar kamar yang katanya lihat sikon. Palingan lihat gebetan barunya, tetanggaku yang ikut bantu-bantu di rumah.


"Mbak dandanin yang cantik ya, sahabatku."


Mbak-mbak perias hanya mengguk sambil tersenyum. Heran pasti mereka lihat Melisa.


Hah, Ya Allah lancarkanlah hari ini dan hari berikutnya. Aamiin.


😚


"Bagaimana para saksi, sah?!"


"Sahhh!!!"


"Alhamdulillah."


Ya Allah, air mataku meleleh. Aku bukan milik Bapak dan Ibu lagi. Aku sekarang sudah sah menjadi istri dari Syarif Maufiq Altama. Semoga aku bisa amanah, aamiin.


"Lah mantennya mewek." Ibu masuk bersama Melisa-aku masih di kamar. Kulihat ada bekas air mata di pelupuk mata Ibu. Ah, Ibu meskipun galak, tapi engkau tetap terbaik.


Aku langsung menghambur ke pelukan Ibu, masih dengan air mataku.


"Sudah jangan nangis, jelek nih. Luntur bedaknya." Ibu masih saja bercanda.


"Ibu, maafin Dinda ya, kalau selama ini bikin susah Ibu sama Bapak. Belum bisa jadi anak yang baik, masih suka marah, kekanakan. Terima kasih juga sudah jadi Ibu terbaik buat Dinda." Ucapku dengan air mata berlinang.


"Ssttt, Dinda putri Ibu satu-satunya."

__ADS_1


Aku beralih memeluk Melisa, sahabatku sejak orok.


"Cup. Cup. Manten nggak boleh sedih."


Melepaskan pelukan Melisa, aku mengusap air mataku, aku tidak boleh sedih di hari bahagiaku.


"Yuk keluar, Syarif sudah nunggu." Ajak Ibu.


Ibu berada di sebelah kananku, sedangkan Melisa di sebelah kiri ku. Kami berjalan beriringan menuju tempat akad berlangsung tadi.


Suasana ruang tamu lumayan ramai, kebanyakan mereka menunggu di gedung tempat resepsi nanti. Hanya keluarga inti saja yang berada di sini.


Bapak, beliau nampak tersenyum. Wajah tampannya mulai nampak keriput, ada wajah haru di sana.


Sedangkan dua Masku, Mas Danang dan Mas Dino beserta istri-istrinya dan anak-anak mereka, berdiri di samping Bapak, tersenyum. Bukan senyum jahil seperti biasanya.


Dan tidak jauh dari mereka ada keluar Altama, yang sekarang juga menjadi keluargaku.


"Sana hampiri suamimu." Bisik Ibu ketika kami sudah sampai di dekat mereka. Mataku tertuju pada sosok pria berbaju adat jawa. Dia imamku. Sosoknya tersenyum, membuatku menjadi gugup dan merona. Aih, padahal merona bukan Dinda banget.


Aku berjalan mendekatinya, "Assalamualaikum, imamku." Salamku sambil mengecup tangannya yang terasa hangat.


"Wa'alaikumussalam, makmumku." Syarif menjawab sambil membelai pucuk kepalaku. Setelahnya dia mengecup singkat dahiku. Astaghfirullah, rasanya nano-nano.


Aku pun tertunduk malu, apalagi mendengar ejekan dari keluarga ku.


Acara akad dan segerendelannnya sudah selesai. Dan kami pun segera meluncur ke gedung tempat akad akan di langsungkan.


Tentu ide itu bukan berasal dari keluargaku, mertua yang mengusulkannya. Hah, bagaimanapun mertuaku adalah orang kaya, pasti banyak kolega yang ingin mereka undang.


Ya Allah, pegelnya tanganku. Pengen aku copot bentar rasanya. Seberapa terkenal sih keluarga Altama? Tamunya luar biasa maa syaa Allah.


"Capeknya banget ya?" Tanya Syarif sambil memijit lengan kananku, ugh enaknya.


"He'em." Jawabku seadanya.


"Sabar ya, bentar lagi selesai."


Aku hanya mengguk saja, pijitan tangannya yang lembut membautku terlena.


"Manten anyar sudah nggak sabar nih gaes, mau ngamar, hahah" Celetuk laki-laki klimis dengan baju batik yang muncul tiba-tiba di depan kami. Bersama dua orang lainnya dengan tawa mengejek.


Syarif menggeleng, "makanya kawin sana. Jangan cuma koleksi cewek aja." Balas Syarif.


"Uluh-uluh, Aa' Syarif merajuk gaes, haha." Goda teman satunya yang menggunakan jas hitam.


"Kalian mending pulang deh, ganggu." Usir Syarif sambil mengibaskan tangannya.


Mereka bukannya tersinggung malah tambah tertawa girang. Dasar.


"Hay, aku Adrian Martadinata. Panci saja Ian, terganteng dari mereka semua." Pria berbatik tadi mengulurkan tangan mengajakku berkenalan.


Plak!


"Nggak usah pake pegang tangan." Syarif menampol tangan Ian kuat.

__ADS_1


"Sakit Rif." Keluh Ian yang hanya mendapat pelototan Syarif.


"Aku Azka Hutama. Termuda dari mereka." Kini giliran pria yang menggunakan jas, tapi tidak mengulurkan tangan. Takut ditampol Syarif mungkin, hihi.


"And I Aldric Aldero. Panggil aja Al, smarter then them." Oh yang terakhir bule banget mukanya.


"Oke, dia Dinda Amelia. Istri gue." Mulutku belum sempat terbuka, Syarif sudah mendahuluiku dulu.


"Woy, bukan kamu lah." Protes Ian.


"Sudahlah, pulang sana. Kami mau istirahat." Syarif langsung menarik tanganku meninggalkan mereka.


"Asek, mau malam pertama gaes, hahaha." Teriak Ian, yang di sambut gelak tawa tamu lain.


Ya Allah, malunya aku.


"Hey, pelan-pelan." Protes ku, lihat aku berjalan terseok-seok akibat tarikan cepat Syarif.


Duk!


"Aduh, sakit." Dahiku kejedot apa sih? Kenapa juga Syarif berhenti.


"Abang."


Aku menyerngit bingung, "maksudnya?"


"Panggil Abang, bukan hey." Ucapnya tajam. Oalah, masih mau di panggil Abang to.


"Abang. Dah."


"Kurang manis."


"Nggak ada gula."


"Ulangi." Kekeuhnya.


"Nggak mau, ayo masuk. Aku udah ngantuk." Rengekku-eh kok aku merengek sih.


"Panggil Abang yang manis dulu." Ya Allah, harus ya?


"Abaaanggg, dah."


Cup. Syarif mengecup singkat keningku.


"Ayo masuk." Syarif-ralat Abang Syarif menarikku masuk ke kamar hotel yang akan menjadi tempat kami menginap.


Jangan pikirin macam-macam ya, kami cuma mau tidur, nggak lebih.


Oke, good night.


TBC...


Vote and coment gaes!


❣️

__ADS_1


__ADS_2