
Pukul delapan malam, Dinda sudah selesai mengepak pakaiannya dalam koper kecil. Tekadnya sudah bulat, Dinda akan tinggal di rumah Ibu Bapaknya untuk sementara waktu. Dia sudah tidak betah dengan Syarif, di tambah kejadian tadi pagi.
Kalau sedari awal tidak suka ya, jangan mau lah dijodohkan, gerutu Dinda dalam hati.
Air matanya sudah kering, mau nangis lagi males. Perih di mata dan berefek pusing.
Dinda akan berangkat besok pagi, malam ini dia akan membicarakan kesepakatan yang akan dia buat untuk Syarif. Biarlah egois sedikit, asalkan tidak merugikan orang lain.
Dinda segera menaruh kopernya di pojok ruangan, bersebelahan dengan rak sepatu miliknya dan Syarif. Meninggalkan kamar untuk mengambil cemilan dan air minum, persedian tengah malam jika kelaparan.
Tak lama kemudian, ketika Dinda berada di dapur. Deru mobil Syarif memasuki pekarangan rumah.
Dinda abai, biarlah dia tidak menyambut kepulangan suaminya. Toh, dia bisa bawa tasnya sendiri sampai kamar.
Dinda sengaja berlama-lama di dapur, malam ini dia semakin malas bertemu dengan Syarif. Biarlah dia dikatakan istri durhaka.
Air satu botol, keripik tempe satu toples, roti isi coklat dua biji, plus potato dua bungkus sudah berada di tangan Dinda.
Sekarang saatnya menyiapkan hati untuk bertemu dengan suaminya, semoga saja sudah tidur. Harap Dinda sedikit cemas.
****
"Koper punya siapa itu?!" Teriak Syarif ketika Dinda baru saja menutup pintu kamar dari dalam.
__ADS_1
Dinda berjengkit kaget, jantungnya berdegup kencang. Terkejut dengan teriakan Syarif yang menggelegar.
Dinda menguatkan hati dan berbalik menghadap Syarif, mencoba menantang. "Punyaku," jawab Dinda singkat.
Rahang Syarif mengeras, napasnya berhembus tak beraturan, bahkan tangannya terkepal menahan emosi di dadanya.
Tidak memperdulikan Syarif yang marah, Dinda melewati Syarif yang berdiri di depan ranjang untuk menaruh Snack yang ia bawa di atas nakas, pegal rasanya.
"Apa maksudmu dengan semau itu, hah?!" Syarif tahu, koper kecil itu berisi baju milik Dinda. Hendak kemana gerangan istrinya pergi.
Oh, jangan sampai Dinda meminta pisah darinya. No, Syarif tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Aku mau pulang ke rumah Bapak sama Ibu." Jawab Dinda terlihat santai, meskipun di hatinya sungguh ketar-ketir. Syarif belum pernah membentaknya sekalipun.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi kemana pun!" Tekan Syarif, raut wajah dan tatapan matanya masih garang.
"Tapi aku mau. Apa peduli Abang aku mau kemana?" Tantang Dinda.
Syarif maju mendekati Dinda, emosinya semakin tidak terkendali. "Aku suamimu Dinda. Aku berhak atas kamu!"
Dinda semakin menantang, "suami yang mengabaikan istrinya yang lagi hamil. Dan jalan sama perempuan lain, suami macam apa itu Bang?" Sinis nada bicara Dinda. Durhakalah kau Dinda melawan suamimu.
Tubuh Syarif kaku mendengar penuturan Dinda. Tuhan, Dinda-nya tahu.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Syarif langsung memeluk Dinda yang direspon keterkejutan Dinda.
Tubuh Dinda kaku, tidak menyangka respon Syarif yang malah memeluknya erat.
"Maafin Abang, Dek. Abang salah." Sesenggukan Syarif berkata.
Dinda diam. Matanya memanas.
"Maafin Abang, jangan pergi tinggalin Abang sendiri."
Dinda menghela napas, menahan bulir bening yang siap tumpah. "Jelaskan ke Dinda, Bang apa yang terjadi. Setelah itu, Dinda pikir ulang keputusan Dinda."
Oh sungguh, Dinda sedih melihat Syarif yang seperti ini. Lemah dan nampak putus asa.
Syarif mengurai pelukannya, matanya berbinar. Ada harapan yang besar dalam bola mata hitam pekat miliknya.
Dinda menghapus air mata di pipi suaminya. Memandang ulang rupa suaminya yang dua hari ini menjauh darinya.
Syar'i tersenyum dan memegang erat tangan Dinda yang berada di wajahnya.
"Kita ubah posisi dulu ya? Biar enak Abang ceritanya." Pinta Syarif yang saat ini masih duduk di pinggir ranjang, berhadapan dengan Dinda.
Dinda mengangguk, kini Syarif berada di belakang Dinda. Duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk Dinda. Tangannya juga aktif mengusap perut Dinda yang sedikit buncit.
__ADS_1
"Siap denger cerita, Abang?" Tanya Syarif memastikan dan hanya mendapatkan anggukan pasti dari Dinda.
"Jadi..."