Sah!

Sah!
Sah—Dua


__ADS_3

Assalamualaikum,


Malam gaes.


Enjoy my story'!


Dinda POV


"Kartu kuliah sudah, tugas sudah, hp sudah. Sip. Beres."


Jam setengah sepuluh, setengah jam lagi kelas mata kuliah Sintaksis akan di mulai. Masih ada lima belas menit perjalanan, dan lima belas menit buat leha-leha. Hehe.


Bapak sudah pulang hari Sabtu kemarin, beliau membawa pesanan ku. Sambal terasi buatan Mbah, yang sedari dulu menjadi favoritku.


Ibu sedang di dapur, dan Bapak pasti di depan rumah dengan burung-burungnya. Hah, Bapak memang suka sekali dengan burung, bahkan piaraannya sudah ada 30, bikin pusing kalau lagi berbunyi.


"Dinda! Mau kemana kamu?" Teriak ibu dari arah belakang.


Aku berhenti sejenak, kenapa lagi sih ibu ini?


"Pak, Ibu kenapa sih?" Tanyaku pada Bapak yang sedang memberi makan burung.


Bapak mantapku sejenak, "paling kamu belum selesai cuci piring." Ih, Bapak ki.


"Dinda!" Ya Allah Bu, nggak usah teriak juga. Ini rumah nggak segede istana.


"Apa Bu?" Tanyaku malas, pasti kena marah lagi. Ibu Halimah ini memang sangat galak dan cerewet. Melibihi ibu-ibu arisan, hehehe. Kan ibu nggak ikut arisan.


"Kamu mau kemana? Rapi gini?" Tanya Ibu memincing curiga.


Aku menatap tampilan ku lagi, gamis dongker dengan lengan biru langit, jilbab biru langit motif bunga. Sepatu pantofel, pakai kaos kaki, terus tas kuliah. Apa yang salah?


"Kenapa Bu? Biasanya kuliah juga gini." Heran deh sama Ibu.


"Pak, bilangin anakmu satu ini. Wong sudah masa pingit kok masih mau kuliah." Omel Ibu pada Bapak. Sedangkan, Bapak hanya diam mendengarkan.


Bentar-bentar, pingit?


"Maksud Ibu apa sih? Dinda nggak paham." Pingit apaan sih.


"Pak jelasin. Ibu mau selesain cucian dulu." Ibu berlalu begitu saja.


Aku langsung menatap Bapak minta penjelasan.


"Paakk... Jelasin." Rengekku pada Bapak.


Bapak yang sudah selesai dengan kegiatannya menghampiriku. Mengajakku duduk di meja teras rumah.


"Dinda sudah berapa tahun sekarang?" Tanya Bapak lembut, mengelus pucuk kepalaku.


"Jalan 20 Pak."


"Haha, sudah besar ternyata. Masak nggak paham juga omongan Ibu."


"Ih Bapak, malesi ah." Rajukku.

__ADS_1


"Haha, kan Dinda seminggu lagi mau nikah. Dalam adat kebiasaan sebelum jadi manten kan ada yang namanya pingitan. Calon manten tidak boleh bertemu, tidak boleh keluar rumah. Nah, sekarang Dinda lagi dalam masa pingit. Jadi, libur dulu ya kuliahnya." Jelas Bapak, yang justru membuatku melongo. Kok akhir-akhir ini orang-orang seneng buat aku jantungan sih?


"Jadi,....?" Tanyaku ragu.


Bapak mengangguk, "iya. Kamu kemarin Bapak ke kampus izinin kamu selama satu bulan." Jawab Bapak.


Aku bertambah kaget, berita dari Bapak ini juga sangat mengejutkan.


"Ya Allah, Bapak. Kok nggak ngomong dulu sih, sama Dinda." Sedih rasanya, mau nikah tapi nggak tahu apa-apa.


"Haha, maafin Bapak ya Nak? Kamu kan mau jadi ratu, jadi nggak boleh mikir yang aneh-aneh." Ujar Bapak yang kini memelukku.


Ugh, bentar lagi nggak bisa manja-manjaan sama Bapak.


"Tapi manfaat pingitan buat apa sih? Takut mantennya kabur ya, Pak?"


Bapak terkekeh mendengar pertanyaanku, "haha, kamu ini ngawur. Ya banyak manfaatnya, salah satunya biar rasa kangennya bertambah besar. Jadi, nanti kalau sudah sah, bisa kangen-kangenan sepuasnya, hehe." Pasti bapak dulu juga gitu sama Ibu. Eh, tapi kan Ibu galak. Mana mau gitu-gituan.


"Hayoo, Bapak dulu gitu ya, sama Ibu?" Goda ah, siapa tahu dapat bocoran.


Bapak tersenyum teduh, "iya atuh Neng. Jaman dulu belum ada pacar-pacaran, suka, lamar, nikah. Jadi kangennya luar biasa."


Ya ampun, nggak bisa bayangin deh Bapak sama Ibu sehabis manten. Coba aja aku bisa lihat.


"Bapak dah yakin kalau Dinda bisa jadi istri yang baik?" Tanyaku pada Bapak.


Pasalnya, Ibu dan Bapak ini dulu sangat melarang anak-anaknya nikah muda. Tapi kenapa sekarang aku malah di jodohkan di usia muda.


"Bapak yakin, anak gadis Bapak ini the best."


Hm, semoga aku tidak mengecewakan Bapak dan Ibu. Tentunya suamiku nanti, apalagi kadang aku masih kekanakan.


💘


Author POV


Brak!


"Dinda! Mau kawin nggak bilang-bilang! Sahabat apaan ini?!"


Dobrakan dan teriakan suara cempreng milik gadis berhijab modis ini membuat Dinda terusik dalam tidurnya.


Berisik!


"Dinda! Bangun!" Teriak gadis itu lagi, dia tidak terima, harga dirinya seolah jatuh. Sahabat edannya ini mau nikah, tapi tidak berkabar sama sekali. Ugh, benar-benar.


Gadis itu masih terus mengusik tidur Dinda, digoyangkan tubuh Dinda sekuat-kuatnya, agar cepat bangun.


"Dinda!!!" Teriaknya tepat di telinga Dinda.


"Astaghfirullah! Berisik." Dinda yang terkejut pun terbangun dan menggerutu.


Dia baru saja terlelap, setelah acara batal kuliahnya tadi ia isi dengan membantu Ibu membuat kue bolu.


Saat ia benar-benar sadar, di hadapannya berdiri seekor–eh seorang gadis yang menatapnya garang dengan berkacak pinggang. Ih, mirip Ibu Halimah ini kalau marah, cuma beda versi saja.

__ADS_1


"Apaan sih Mel? Ganggu tau nggak. Aku baru aja tidur." Protes Dinda, dia hendak merebahkan badannya kembali.


"Eits! Jangan coba-coba tidur lagi." Cegah Mel, alias Melisa Wulandari. Sahabat sehati Dinda.


"Kenapa sih? Datang teriak-teriak. Di rumah orang lagi." Dinda masih saja tidak terima acara tidurnya di ganggu.


Sebelum menjawab pertanyaan Dinda, Melisa mendudukkan dirinya di kasur, bersebelahan dengan Dinda.


Tangannya ia lipat di dada, menandakan bahwa ia benar-benar kesal. "Kamu itu kebangetan ya, Din. Masa aku nggak kamu kasih tau kalau mau nikah."


Dinda berdecak sebal, "aku yang mau nikah aja nggak tau. Apalagi kamu?"


Melisa melotot, "lah kok gitu?"


Dinda mengangkat bahu acuh, dia mah terima beres aja. "Aku ini pihak terima beres. Mana tau yang begituan, undangan dan segala macem dah diurus sama Ibu. Bahkan untuk izin kuliah pun Bapak yang ngurusi." Jelas Dinda lemas.


"Ya ampun! Baik banget sih keluarga kamu. Pengen deh kayak kamu." Melisa heboh sendiri mendengar itu.


"Enak apanya. Lah aku yang jadi manten, tapi nggak tau apa-apa." Sangkal Dinda.


"Enak lah, berarti kamu spesial. Nggak boleh megang apa-apa. Kan ada mantennya yang turun tangan sendiri." Jelas Melisa dengan pemikirannya sendiri, saat ini dia sudah merebahkan diri di kasur queen milik Dinda.


"Terserah deh, eh apa kamu mau jadi mantennya. Gantikan aku." Tawar Dinda dengan muka bodoh.


Plak!


"Aduh! Sakit Mel." Protes Dinda karena mendapat geplakan di bahunya.


"Gemblong! Jangan bilang kamu dijodohkan?" Tanya Melisa dengan muka terkejut. Yang justru membaut Dinda memutar bola matanya malas.


"Pikir aja dong Mel, aku mana pernah deket sama cowok. Eh, tiba-tiba mau kawin."


Melisa manggut-manggut, "tapi Dinda. Siapa tau aja kamu bunting duluan? Aaaa?" Melisa hesteris dengan pemikirannya.


Tanpa aba-aba Melisa meraba perut rata Dinda, membaut empunya jengkel setengah mati. Astaghfirullah, ada-ada nih anak.


"Stop Melisa! Bunting dari mananya. Aku masih 1000% ting-ting tau." Ujar Dinda dongkol.


"Hehe, sorry Din. Abisnya mendadak banget. Ceritain dong." Pinta Melisa yang kini sudah anteng.


"Hem, mau yang romantis apa biasa aja?"


"Emang ada dua versi?" Tanya Melisa penasaran.


Dinda manggut-manggut, "yep. Tinggal pilih yang mana, terus kamu lakuin deh."


"Dindaaa! Aku seriusan loh."


"Hehe, iya-iya. Jadi...."


Oke, skip. Biar Dinda dan Melisa menyelesaikan cerita mereka. Hehe.


Love you all😘


TBC...

__ADS_1


__ADS_2