Sah!

Sah!
Sah~~Sembilan


__ADS_3

Seminggu sebelum Syarif cuek terhadap Dinda.


"Halo," sapa pria yang sedang disibukkan dengan berbagai dokumen di mejanya.


Dialah Syarif Maufiq Altama–CEO Altama Grup yang bergerak di bidang tekstil. Wajah rupawan nya hari ini nampak letih. Pekerjaan yang tidak ada habisnya ini menguras tenaga dan pikiran Syarif.


"Maaf Pak, mengganggu. Ini ada Pak Didik Sujatmiko ingin bertemu dengan Bapak. Tapi belum punya jam temu dengan anda." Tutur laki-laki diseberang telepon.


"Tidak apa-apa suruh masuk saja." Titah Syarif. Hah, mau apa Om Didik menemuinya?


"Baik, Pak." Laki-laki diseberang mematuhi titah Syarif.


Syarif harus menyelesaikan tumpukan dokumen ini dalam waktu dua hari. Bahkan ia melupakan makan siangnya.


Tok. Tok.


"Masuk." Bahkan Syarif tidak mengalihkan tatapannya pada si pengetuk yang ternyata sudah berada di dalam ruangan Syarif.


Hingga suara berat mengalihkan perhatian Syarif, "CEO Altama nampak sibuk hari ini." Seloroh pria paru baya dengan senyum khasnya.


Syarif terkejut, "oh Om Didik. Maaf, pekerjaan numpuk akhir-akhir ini. Silahkan duduk," Syarif mempersilahkan pria yang ia panggil Om Didik duduk di sofa. Ternyata Om Didik tidak sendiri, beliau bersama seorang wanita.


"Ah, terima kasih." Didik mendudukkan dirinya di sofa empuk berwarna abu-abu.


"Om mau minum apa?" Tanya Syarif yang dijawab gelengan oleh Didik.


"Tak usah, Om tidak lama."


"Bagaimana kabar Om? lama tidak berjumpa." Syarif sedikit berbasa-basi.

__ADS_1


"Hehe, kau bisa lihat sendiri. Sangat sehat bukan?" Kelakar Didik.


"Dan bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah sehat, Om." Syarif melirik wanita di sebelah Didik yang hanya tertunduk, malu mungkin.


"Oh, iya. Kedatangan Om kesini untuk mengenalkan putri sulung saya–Aura Putri Sujatmiko." Toleh Didik pada gadis di sampingnya yang tak lain putrinya sendiri.


Merasa namanya terpanggil, gadis yang biasa disapa Aura tersebut mendongak dan tersenyum malu-malu memandang Syarif.


Dan Syarif membalas dengan senyum juga, namun ada yang aneh. Gadis itu nampak sedikit mirip dengan Dinda–istrinya.


"Jadi, anak Om ini baru saja lulus kuliah bisnis manajemen di Singapore. Masih 19 tahun umurnya, haha dia ikut akselerasi." Ada nada bangga dan sedikit arogan dari ucapan Didik.


Syarif yang duduk di depannya hanya menganggukkan kepala, seolah ikut senang. Sebenarnya Syarif sedikit malas dengan kesombongan Om Didik.


"Nah, Om minta sama kamu untuk menerima Aura di perusahaan kamu. Meskipun pintar, dia masih perlu belajar kan?"


"Haha, kamu benar. Tapi masalahnya, Aura harus belajar mandiri dulu. Dan Om rasa, jika dia belajar di kantor Om malah berleha-leha. Karena merasa kantor itu milik Papanya." Jelas Didik yang ada benarnya.


Syarif manggut-manggut, "jadi Om mau Aura ditempatkan pada bagian apa?" Ah, sudahlah.


"Kamu ingin bagian apa, Sayang?" Tanya Didik pada putrinya yang sedari tadi diam.


Aura nampak berpikir keras, "sekretaris bagaimana, Pa?" Ugh, Aura ingin dekat dengan Syarif. Pria itu membuat Aura terpesona.


"Bagaimana Syarif?"


Ingin rasanya Syarif menolak, kenapa gadis itu ingin menjadi sekretarisnya? Meskipun ada Syam–sekretarisnya, tapi kehadiran Aura membuat Syarif tidak nyaman.

__ADS_1


"Baiklah, mulai besok Aura bisa bekerja. Tugasnya akan dijelaskan oleh Syam–sekretaris utama saya." Jelas Syarif dan terdengar tidak ingin di tolak.


"Oke, besok Aura akan mulai bekerja. Terima kasih atas kerja samanya. Kalau begitu Om dan Aura pamit dulu." Pamit Didik pada Syarif.


"Iya Om, hati-hati." Syarif mengantarkan Didik dan Aura sampai di depan pintu.


"Syam, besok kamu beri gadis tadi sebagian tugasmu. Tapi ingat, jangan beri tugas pokoknya padanya. Yang bersangkutan dengan saya tetap kamu yang handle." Titahnya pada Syam yang dibalas anggukan hormat.


"Baik Pak."


Syarif kembali ke ruangannya untuk mengerjakan tugasnya yang tertunda akibat kedatangan Didik dan Aura.


Syarif kembali disibukkan dengan kerjaannya dan lupa bahwa ia belum istirahat dan makan siang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua lebih.


*****


"Pa, aku suka sama Syarif." Celetuk Aura tiba-tiba. Yang membuat Didik terkejut dan spontan menginjak rem.


"Ah, Papa. Sakit, pelan-pelan nyetirnya, "ringis Aura sambil memegangi kepalanya yang terantuk dashboard. Salahnya juga dia tidak memakai sabuk pengamannya.


Didik yang tersadar pun meminta maaf dan melajukan mobilnya kembali. Untung mereka sedang di jalan yang sepi.


"Maksud kamu apa, Aura?" tanya Didik memastikan pendengarannya tidak salah.


"Aura suka sama Syarif, Papa." Ada penekanan dan keyakinan di setiap ucapan Aura.


"Jangan gila Aura! Syarif sudah punya istri." Teriak Didik frustrasi.


Aura menyeringai, "aku gak peduli. Aku bisa jadi istri keduanya."

__ADS_1


"Jangan bodoh, Aura. Papa tidak setuju." Apa-apaan, anak kebanggaannya hanya menjadi istri kedua.


TBC....


__ADS_2