
Happy reading!
_______
"Bagaimana kamu ini, Didik. Merayu anak ingusan saja tidak bisa?!" Sembur Fera setelah kepulangan Syarif dan Syam.
Syarif tidak terima dengan tuduhan Mamanya pun menantang, "Mama kira aku hanya diam saja. Didik juga sudah merayu Ma, tapi Syarif bukan laki-laki sembarangan. Dia memiliki prinsip yang teguh dan kuat."
"Ma, tenang. Semua pasti bisa dibicarakan baik-baik." Indro hanya bisa menenangkan.
Fera mengibaskan tangan, tanda malas. "Ah, sudahlah. Mama yang akan urus. Kapan perusahaan kamu ulang tahun?"
"Seminggu lagi, Ma. Kenapa?" Didik curiga, pasti ada maksud tertentu ini.
"Kamu siapkan cincin, Mama akan buat Aura dan Syarif langsung bertunangan di ulang tahun perusahaan kamu. Biar tidak ada penolakan lagi dari dia." Licik bukan.
Semua orang terkejut, rencana apa ini? Didik geram dengan tingkah Mamanya.
"Maksud Mama apa? Ini tidak semudah yang Mama bayangkan." Indro tentu tidak setuju.
"Udahlah Pa. Papa, Didik, sama Desti ikuti saja rencana Mama. Ini demi Aura, bukan buat Mama." Keputusan Fera lah yang menang.
Desti diam, tubuhnya memang sedang berada di antara suami dan mertuanya. Tapi pikirannya kalut, melanglang buana entah kemana. Yang dia sesali adalah sikap keras kepala keluarga besarnya.
Semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.
Tapi, ada satu wajah yang tersenyum penuh kemenangan. Wajah yang jika dihadapan keluarganya pucat dan menahan sakit, tapi kali ini tidak ada raut itu sama sekali.
Yah, wajah Aura. Sedari tadi dia tidak tidur, ia hanya pura-pura. Jantungnya hampir keluar dari tempatnya ketika Syarif datang menjenguknya. Rasa-rasanya ia ingin melompat dan memeluk Syarif.
Kesenangan itu hilang kala Syarif dengan kata kejamnya menolak untuk menikahinya, meskipun Oma sudah mengiming-imingi dengan hartanya.
Syarif sangat sulit ditaklukkan.
Keputusan Oma diluar dugaan, dan itu menguntungkan bagi Aura, tentunya. Lihat saja, Aura tidak akan pernah gagal untuk mendapatkan sesuatu. Yang Aura inginkan harus dia dapat, bagaimanapun caranya.
****
"Loh Aura, kamu sudah sehat?" Tanya Syam ketika melihat Aura sudah masuk kerja. Bukannya dua hari lalu, Aura sekarat?
Aura menyunggingkan senyum, "sudah Pak, hehe." Bagaimana tidak sehat, kan lima hari lagi dia akan bertunangan dengan Syarif.
Tentunya Aura harus sehat dan tampil cantik.
"Tapi kamu kuat kan buat kerja?"
"Kuat, Pak. Tenang aja, Aura is strong girl, hehe."
"Oke, selamat bekerja."
"Siap, Pak."
Syam muak dengan gaya Aura, nyatanya wajah cantiknya hanya topeng. Dengan cekatan Syam membuka smartphone nya untuk memberitahu Syarif tentang keberangkatan Aura di kantor.
__ADS_1
Misi yang dia dan bosnya akan jalankan ini sedikit menarik, dan beresiko besar tentunya. Tapi, menghadapi orang licik, harus dengan cara licik pura. Dan bukti sebanyak-banyaknya.
"Pagi Pak," sapa Syam ketika Syarif melewati meja kerjanya.
"Pagi juga, Syam. Loh, Aura kamu sudah sehat?"
"Sudah, Pak." Tuturnya sambil menunduk.
"Baiklah, selamat bekerja."
Syarif masuk ke ruangan miliknya, untuk meneliti berkas-berkas dan juga rencananya. Hari ini tidak ada jadwal penting, meeting juga tidak ada.
Dia benar-benar lesu dua hari ini, dimana rencananya sudah mulai ia jalankan. Dan itu benar-benar menyiksa, harus mendiami sang istri tercinta. Padahal, setiap harinya Syarif selalu rindu dengan Dinda–istrinya.
Ting.
Lovely Wife❤️
Assalamualaikum, Bang.
Adek mau izin ke supermarket sama Mbok Tien, jam delapan nanti
"Wa'alaikumussalam, boleh Dek." Jawaban yang tidak akan Syarif sampaikan.
Syarif hanya membaca tanpa membalas, karena ini termasuk dari rencananya.
Ke supermarket? Mungkin ini saatnya Syarif beraksi. Oke, berat sebenarnya.
"Wa'alaikumussalam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Iya Pak, biasanya Mbok Tien belanja di supermarket mana, ya?"
"Ooo, di supermarket Blok E, Pak. Ini nanti saya mau nganterin Mbok Tien, Pak."
"Oke Pak, terima kasih. Nanti Pak Rahmat bantuin saya, ya. Seperti rencana kemarin, paham kan Pak?"
"Iya, Pak. Peralatan sudah siap semua."
"Oke, kalau begitu saya tutup."
"Haaaahhh..."
Pukul delapan, sedangkan sekarang masih pukul setengah delapan.
"Syam, ayo ikut saya ke supermarket." Ajak Syarif pada Syam yang sedang sibuk dengan komputernya.
"Oh, iya Pak."
"Em, maaf Pak. Boleh saya ikut," takut-takut Aura meminta.
"Ya, silahkan."
Yes, girang rasanya Aura mendapat kesempatan bersama Syarif. Yah meskipun masih ada Syam di antara mereka, tapi tak apalah.
__ADS_1
"Supermarket yang mana, Pak?"
"Yang ada di blok E."
"Kamu tidak turun, Syam?"
"Tidak, Pak. Saya di sini saja, tunggu mobil."
"Oke, saya ke dalam dulu."
Sebenarnya apa sih yang dicari Syarif di supermarket? Batin Aura yang mengikuti Syarif.
Rasa-rasanya ia ingin bersebelahan dengan Syarif lalu menggandeng tangannya. Ugh, pasti rasanya sangat menyenangkan.
"Kamu mau cari apa Aura?"
"Eh, mau ke alat kecantikan Pak." Biar Bapak kecantol sama saya. Lanjut Aura dalam hati.
"Ya, silahkan."
Syarif berlalu begitu saja, ia sendiri bingung mau cari apa ke supermarket. Mungkin membeli pulpen bisa.
"Pak saya sudah," lapor Aura ketika melihat Syarif sedang memilih gantungan kunci yang lucu-lucu.
"Ya, silahkan kalau mau duluan."
"Saya tunggu Bapak saja."
"Ayo, saya sudah."
Oke, satu pena dan dua gantungan kunci berpasangan sudah berada di kantong jas Syarif.
Aura berjalan di belakang Syarif, matanya sedari tadi tidak lepas dari punggung Syarif dengan tatapan memuja.
"Akh!"
"Kamu kenapa, Aura?"
"Aduh, Pak. Kaki saya terkilir, Pak." Rintih Aura yang terduduk sambil memijat pergelangan kaki sebelah kanannya.
"Ayo saya bantu."
Harapan Aura sirna sudah. Padahal ia berharap Syarif akan menggendongnya, ternyata ia hanya di bantu berdiri.
Ugh, sia-sia usahanya.
Tapi bukan Aura namanya kalau tidak banyak akal, dengan memanfaatkan keadaan kakinya Aura memegang lengan Syarif untuk tumpuan berjalan.
Tidak benar-benar sakit, sih sebenarnya. Tadi kan ia hanya pura-pura.
_______
TBC...
__ADS_1