Sah!

Sah!
Sah~~Sebelas


__ADS_3

_______


"Ma, Kak Aura kok belum kelihatan dari tadi?" Tanya Aira-adik Aura. Dia heran saja, biasanya anak manja satu itu sudah cari perhatian di sana sini. Huh, padahal Aira adiknya, tapi Aira tidak suka dengan Kakaknya. Apalagi, kalau bukan karena Aura menjadi kebanggaan semua keluarganya.


Tidak ada yang memandang lebih dia dan Arya-Kakak kembarnya, meskipun mereka mendapat penghargaan dan juara di mana-mana. Semua mata hanya tertuju pada Aura, Aura, dan Aura. Mengingatnya membuat Aira sebal.


Desti tersadar dari ketidaklengkapan anak-anaknya, "iya ya. Dari pagi tadi Mama belum lihat lagi. Kamu panggil gih."


"Males ah, Abang aja yang panggil." Tolak Aira, malas berurusan dengan Aura. Yang ada malah kena omelan, paling parahnya tatapan mengejek dan sinis yang Aura keluarkan, persis seperti Omanya.


Arya yang merasa terpanggil menoleh ke arah Aira dengan alis terangkat sebelah, seolah mengatakan 'aku lagi makan dan tidak bisa diganggu'.


"Huh, kok malah pada lempar-lemparan. Jadi mau tidak ini?" Desti memastikan, yang sebenarnya dia sudah tau bahwa dua anak kembarnya ini sedikit tidak suka pada Aura–Kakaknya.


Aira yang mendapat tatapan tidak suka dari Papanya pun bangkit. "Iya, Aira panggil." Ketus nada bicaranya.


"Arya, kamu ini kenapa? Suruh panggil Kakakmu saja tidak mau? Jangan merasa iri atas perlakuan Papa, kalau sikapmu dan Aira masih seperti ini." Tutur Didik tajam, sungguh dua anaknya ini tidak ada yang mau mendengarkan ucapannya.


Arya membanting sendok kuat, "Papa berkata seperti itu seolah-olah Papa paling benar. Papa, Oma, sama Opa itu sama saja, pilih kasih. Jadi jangan salahkan sikap Arya dan Aira pada Papa."


"Arya! Tidak sopan kamu?!" Teriak Didik murka.


Desti yang di sebelahnya mengusap bahu Didik menenangkan. "Pa, sudah. Arya, minta maaf sama Papa." Titah Desti, meskipun Desti juga menyayangkan sikap suaminya yang pilih kasih, tapi Desti juga tidak berharap kedua anaknya bertindak tidak sopan.


Arya memutar bola matanya malas–remaja enam belas tahun ini sungguh muak dengan keluarganya. Mamanya yang tidak pilih kasih, kalah dengan orang-orang sombong seperti Papa dan Oma, Opanya.


"Arya tidak akan pernah minta maaf. Papa yang memulai, jadi Papa juga yang harus mengakhiri." Tekan Arya.


Plak!


"Kurang ajar kamu! Dasar anak tidak tahu diuntung. Kerjaannya hanya menghabiskan uang. Tidak ada gunanya sama sekali." Bentak Didik lagi, bahkan wajahnya sudah memerah karena amarah.


"Pa, hiks.... cukup. Jangan sakiti anakku, lagi. Papa keterlaluan." Desti selama ini diam, yah diam dengan semua keadaan. Dia kalah, semua argumennya tidak terpakai sama sekali. Tapi jika anaknya yang menjadi korban, Desti tidak akan tinggal diam.


Arya memegangi pipi kirinya yang menjadi sasaran empuk kemurkaan sang Papa, menatap sinis sebelum berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


Aira yang baru saja turun heran melihat suasana ruang makan yang tiba-tiba saja mencekam, "Pa, Kak Aura sakit." Lapor Aira singkat.


Kenapa Aira biasa saja melihat Kakaknya sakit, yang pasti karena ketidaksukaan Aira pada Kakaknya.


Didik yang mendengar laporan Aira langsung berlari menuju kamar putri kesayangannya, mimik wajahnya sudah berganti menjadi khawatir. Sementara Desti masih menangis.


"Ma, Mama kenapa?" Aira merangkul sang Mama. Hatinya sedih melihat kondisi Mamanya. Pasti tadi ada pertengkaran hebat, ditambah Arya sudah tidak ada di kursinya lagi.


"Ma-ma tidak apa-apa. Sekarang kamu dan Abang bereskan baju kalian. Bawa barang-barang yang kira-kira berharga. Pergi dari rumah ini, kalian ke rumah yang pernah Mama tunjukkan ke kalian satu tahun yang lalu. Kuncinya masih ada di kalian, kan?" Aira mengangguk meski masih bingung, "cepat. Bawa ATM kalian, ambil seluruh tabungannya. Mengerti?" Yah, ini jalan satu-satunya.


"Ta-pi kenapa Ma?" Apa Mama tidak sayang lagi dengannya dan Arya, pikiran Aira mulai berkecamuk.

__ADS_1


"Kamu akan tahu nanti, Mama akan hubungi kalian. Cepat, sebelum Papa tahu."


Aira yang paham maksud Mamanya pun bergegas menuju kamar Abangnya untuk memberi tahu arahan Mamanya. Yah, mungkin ini memang yang terbaik.


"Ma! Cepat suruh Pak Indra siapkan mobil! Aura pingsan!" Tergopoh-gopoh Didik membopong Aura dari lantai dua.


Desti pun berlalu memanggil Pak Indra–Sopir keluarga di rumah tempat pekerja beristirahat.


Ya Allah, kenapa keluarga ku tidak utuh seperti yang aku impikan. Batin Desti masih dengan air mata yang mengalir.


****


Semua berkumpul–kecuali Aira dan Arya yang memang sudah pergi seperti arahan Mamanya.


Wajah-wajah cemas masih membingkai empat orang yang berada di depan pintu UGD.


"Desti, Arya sama Aira kemana?" Fera Sujatmiko–Mama dari Didik tersadar, cucu kembarnya belum terlihat.


Wajah Desti memucat, "eng_anu Ma. Mereka tidak ikut." Jawab seadanya.


Fera mengerutkan dahi, heran. Kenapa bisa-bisanya dua anak bandel itu tidak ikut panik, sementara Kakaknya masuk rumah sakit.


"Tadi Arya berantem sama aku, Ma." Timpal Didik melihat kegelisahan istrinya.


"Kenapa lagi?" Kali ini suara Indro Sujatmiko–Papa Didik.


"Dua anak itu memang, tidak sadar diri." Cibir Fera geram, Aura memang patut diberi kasih sayang lebih. Selain cucu pertamanya, juga karena parasnya yang cantik serta kepintarannya.


Desti hanya diam, tidak ada gunanya membela. Suami dan mertuanya sama saja–pilih kasih dan keras kepala.


Ceklek!


Semua mata tertuju pada dokter yang baru saja menangani Aura.


Didik tergesa menyongsong sang dokter, "Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Tanyanya tidak sabaran.


"Anda, Ayahnya?" Didik mengangguk keras. "Mari ikut saya ke ruangan. Akan saya jelaskan di sana." Ajak dokter ber name tag Johanes Marcelo.


Sementara Desti, Fera dan Indro mengikuti suster yang memindahkan Aura ke ruang rawat inap.


"Hiks.... hiks.... Kenapa harus kamu, Sayang." Tangis Fera sedari setengah jam lalu belum juga berhenti. Meratapi nasib cucu kesayangannya yang ternyata mengindap kanker darah stadium dua.


Fera setia duduk di samping ranjang pesakitan Aura, sambil mengelus kepala Aura dengan sayang.


Aura tersenyum, "Oma, ini sudah takdir. Oma jangan sedih dong." Tangan Aura terulur menghapus air mata Fera.


Didik–entahlah, wajahnya dan penampilannya sungguh berantakan. Indro pun juga sama, hanya Desti yang menatap ke arah keluarganya dengan tatapan kosong. Sungguh peliknya keadaan saat ini.

__ADS_1


"Apa yang Aura inginkan, ayo bilang sama Oma. Semua keinginan Aura akan Oma kabulkan."


Akhirnya, batin Aura bersorak. Inilah yang ia tunggu dari tadi. Ternyata rencananya berjalan mulus, hihi.


Ya, Aura tidak benar-benar sakit. Dokter yang menanganinya tadi adalah sepupu dari temannya yang sudah ia boking. Dan lagi, ini adalah salah satu dari rencananya untuk mendapatkan Syarif.


Meskipun harus berbohong, tapi biarlah. Asalkan Syarif menjadi miliknya.


"Aura pengen nikah Oma." Tutur Aura –pura-pura–lemah.


"Boleh, kamu sudah punya calon. Biar Oma siapkan." Hanya Fera yang tidak terkejut, tiga orang lainnya terkejut dengan permintaan Aura.


"Ma," tegur Indro.


"Apa sih, Pa. Biarlah Aura mencecap bagaimana rasanya berumah tangga." Sergah Fera sebelum Indro menyela lagi.


"Aura pengen nikah sama Syarif."


"Pacar kamu? Mana nomor hpnya, biar Oma hubungi." Fera sungguh sangat antusias, berbeda dengan Didik dan Desti yang sudah tahu siapa Syarif.


Aura menggeleng, "Syarif bukan pacar Aura. Tapi suami orang."


"Apa!?" Suara kaget Indro terdengar seperti bentakan. Apa-apaan cucunya ini.


Fera terbengong sebentar, meresapi perkataan cucunya. Namun tak ayal senyum terbit di wajah keriputnya, "oke. Oma setuju, asal kamu bahagia."


"Ma!" Protes Indro dan Didik bersamaan.


"Syarif sudah punya istri, Ma. Dan aku tidak mau Aura jadi istri kedua, dan merusak rumah tangga orang." Tekan Didik Frustrasi.


Fera berbalik dan mendelik tajam, "kamu pengen lihat anak kamu sedih. Aura ini sedang sakit, Didik. Harusnya kamu turuti apa maunya."


"Ma-"


"Cukup. Papa tidak usah ikut protes. Lebih baik Papa dan Desti siapkan acaranya, dan kamu Didik bilang sama Syarif."


"Tidak semudah itu, Ma." Erang Didik.


"Mama tidak mau tahu, keinginan Aura harus terpenuhi." Final Fera.


Inilah yang tidak disukai Desti, Mama mertuanya ini sungguh keras kelapa dan tidak ingin dibantah. Sama seperti suaminya, dan Papa mertuanya jadi ikut-ikutan.


Tapi semua inilah yang Aura butuhkan, sikap tidak ingin dibantah Omanya sungguh membantu. Dan sebentar lagi Syarif akan menjadi miliknya.


_____


TBC....

__ADS_1


__ADS_2