Sah!

Sah!
Sah—Enam


__ADS_3

Assalamualaikum... Syarif and Dinda come back again.


Let's enjoy the story'!🤗


Bulan keenam pernikahan Dinda dan Syariat tidak ada masalah berarti. Hubungan mereka semakin harmonis saja, dan dua bulan kemarin mereka mendapatkan kejutan besar. Dinda mengandung, hal yang paling di tunggu Syarif dan Dinda.


Kandungan Dinda kini sudah memasuki usia tiga bulan. Morning sickness, ngidam, dan hormon ibu hamil yang bikin baper Dinda rasakan.


Syarif dengan telaten membantu Dinda menjalani masa kehamilan anak pertama mereka. Dari yang mulai meladeni ngidamnya, menuruti mood Dinda yang naik turun, dan permintaan aneh-aneh Dinda.


***


Pukul sepuluh malam, tapi Syarif belum pulang dari kantornya. Biasanya Syarif akan pulang pada pukul tujuh, dan jika terlambat hanya sampai pukul sembilan.


Dinda sedari tadi gelisah, tidak hentinya mondar-mandir menunggu kepulangan sang Suami. Hp Syarif juga tidak bisa dihubungi, itulah yang membuat Dinda bertambah gelisah.


"Ya Allah, Bang Syarif ke mana sih?" Gumam Dinda cemas.


Sedari tadi, Dinda tidak hentinya menelpon dan mengirim pesan. Ah, Dinda sungguh gelisah.


Lima belas menit kemudian, terdengar deru mobil memasuki halaman rumah mereka. Dinda tahu itu suara mobil milik Syarif, suaminya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Dinda langsung berlari ke arah pintu utama, untuk menyongsong suaminya.


"Bang, kok baru pulang?" Tanyanya setelah menyalimi Syarif dan mengambil tas kerja Syarif.


"Hem." Hanya deheman Syarif yang diterima Dinda.


Dinda heran, ada apa gerangan dengan suaminya ini. Apa ada masalah di kantor?


"Bang, sudah makan belum?" Tanyanya lagi, masih berusaha menyelami apa yang Syarif rasakan.


"Hem." Dehaman lagi. Syarif tidak berniat menjawab pertanyaan Dinda, moodnya hari ini sangat down.


Sedangkan Dinda yang merasa terabaikan nampak murung, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Ada apa dengan suaminya?


Dinda menyiapkan setelan piyama tidur untuk Syarif, meletakkannya di atas ranjang. Ia bergegas ke dapur untuk memanasi sayur dan lauk untuk makan malam Syarif.


****


Tidak sampai lima belas menit, makanan yang Dinda siapkan sudah tertata rapi di meja makan. Ia akan memanggil Syarif untuk makan malam, mungkin tadi suaminya hanya gerah belum mandi. Semoga.


"Bang, makan dulu. Sudah Dinda siapkan." Panggil Dinda yang ternyata Syarif sudah tidur di atas ranjang.

__ADS_1


Ia mengguncang bahu Syarif pelan, "Bang. Nanti sakit kalau belum makan." Ajak Dinda lagi. Tapi tidak ada respon sama sekali.


Hah, Dinda menghela napas lelah. Oke, Dinda akan mencoba sekali lagi. "Bang A-"


"Ck. Bisa diem gak sih?! Aku mau tidur, gak usah ganggu!" Nada tinggi dari Syarif membuat Dinda berkaca-kaca.


Terkejut. Selama enam bulan pernikahannya dengan Syarif, dia tidak pernah membentak ataupun bernada tinggi sekalipun. Tapilam ini, Syarif membentaknya.


Dinda yang merasa kecewa dan sakit hati pun berlalu, keluar dari kamar untuk memberesi makanan yang sudah ia siapkan. Sia-sia, kenapa dia tidak tidur sedari tadi, jika buah yang ia dapat hanya kecewa dan sakit hati. Segalanya terasa percuma.


Dinda tidak segera kembali ke kamar, ia masih merenung. Mungkin lebih baik dia tidur di kamar tamu saja. Maklum saja, hormon ibu hamil membuatnya cengeng dan gampang tersinggung.


Sedangkan Syarif merutuki mulutnya yang tidak bisa di rem. Ia tak sengaja, hanya saja jiwanya sedang tertekan. Ia tidak ingin melukai hati istrinya, sungguh.


Tapi jika ia mengejar bukan hal baik, kondisi emosinya belum stabil. Mungkin esok hari ia akan menjelaskan yang sebenarnya pada Dinda, istrinya. Lebih baik dia tidur agar besok pikirannya normal kembal.


TBC....


😍🥰


Vote and coment gaes!🤗

__ADS_1


__ADS_2