Sah!

Sah!
Sah~~Dua Puluh Dua


__ADS_3

_______


Dua remaja sepasang itu sedari tadi tidak buka suara, mereka hanya diam dalam makannya. Tidak beda halnya, dengan Dinda dan Syarif yang asyik dengan makan mereka.


Tadi, setelah mereka memesan makan, adzan Maghrib berkumandang. Jadi mereka menunda pesanan, untuk sholat terlebih dahulu. Dan saat itu pula, Arya bergabung setelah Aira memberi kabar lewat Wa.


"Kalian pulang ke rumah, apa gimana?" Dinda memulai obrolan setelah selesai dengan makannya. Dia melihat dua anak di depannya ini malu-malu, karena selalu menunduk.


Padahal ia dan suaminya tidak menggigit.


"Ke apartemen, Kak." Arya yang menjawab, tidak beda dengan Aira tadi. Arya juga sangat terkejut saat pertama kali melihat Dinda.


Wanita di depannya ini persis seperti Mamanya, tapi dengan wajah yang lebih dominan Papanya. Ia sempat tak fokus ketika Dinda mengajak berkenalan.


"Merantau ya?" Dalam pikiran Dinda anak yang tinggal di apartemen itu anak-anak yang merantau ke kota orang.


Arya tersenyum lembut, "bukan Kak. Tapi Mama yang suruh tinggal di apartemen." Jawab Arya kalem, ia terkejut dengan pemikiran Dinda.


Dinda pun manggut-manggut, paham dengan maksud Arya. Anak jaman sekarang banyak yang sudah diberi apartemen dan fasilitas lainnya. Padahal kalau dipikir, lebih enak tinggal bareng keluarganya. Banyak kasih sayang yang tercurah dari banyak pihak.


"Kok malah disuruh?" Bukan pertanyaan dari Dinda, melainkan Syarif. Ia merasa heran dengan keputusan Mama mereka yang malah mengizinkan untuk tinggal di apartemen.


Bunda dan Ayahnya saja masih keberatan ketika ia akan pindah rumah dengan Dinda.


Arya dan Aira tersenyum kikuk, pasalnya alasannya cukup pelik. "Hehe, ada sedikit masalah sama Papa, Kak." Arya menjawab seadanya, meskipun dia nyaman dengan pasangan di depannya ini, bukan berarti ia akan menceritakan masalahnya.


"Loh, jangan berlarut-larut ya. Gak baik loh, marahan sama Papanya." Nasehat Syarif yang diangguki keduanya.


"Iya Kak, kemarin cuma salah paham aja sih. Tapi di rumah ada masalah lain, jadi masih ke tunda Kak." Jelas Arya, ia paham dengan keadaan keluarganya yang sedang kacau gara-gara Kakak perempuannya.


"Iya, besok lagi kalau ada masalah diselesaikan dengan baik. Karena setiap orang tua pasti pernah salah, dan kita sebagai anak harus mengingatkan dengan cara yang baik dan sopan. Jangan gampang bentak dan marah, gak baik." Tambah Syarif lagi, meskipun ia tidak tahu akar permasalahannya.


Mereka kembali mengangguk, pikirannya bergulir ke rumah dan kedua orangtuanya. Mungkin nanti mereka akan meminta maaf pada Papanya.

__ADS_1


Mereka larut dalam perbincangan yang lebih hangat lagi hingga pukul setengah delapan malam.


***


"Bang, aku kok masih kepikiran sama Kak Dinda, sih? Dia itu mirip banget sama Mama sifatnya, kalau wajah kayak Papa. Liat Kak Dinda bikin aku jadi kangen Mama," celoteh Aira sendu karena teringat Mamanya.


"Ya kan katanya setiap orang punya tujuh kembaran, mungkin Kak Dinda itu salah satu kembarannya Papa versi perempuan." Jawab Arya memaknai kemiripan Dinda dengan Papanya menurut rumor yang sering dibicarakan.


"Tapi Bang, Kak Dinda ini beda benget. Rasanya ada ikatan batin gitu, apa jangan-jangan Kak Dinda Kakak kita?" Ceplos Aira dengan wajah super lebay.


Pletak!


"Sakit Bang," ringis Aira sambil memegangi kepalanya yang baru saja dijitak oleh Arya.


"Lagian kamu aneh-aneh aja, mana ada Kak Dinda itu Kakak kita. Jelas-jelas Kakak kita cuma satu, Kak Aura."


"Lah, siapa tau? Kayak di novel-novel itu, kan banyak cerita kayak gitu. Anak pertamanya dibuang, terus pas udah gede ketemu karena mirip sama orang tuanya."


Aira seperti memiliki keterikatan batin dengan Dinda, ia langsung merasa bahwa Dinda adalah bagian dari dirinya.


Ah, entahlah. Aira pun menyusul Arya untuk tidur, di kamar berbeda tentunya.


***


"Aura sudah sehat?" Tanya Desti ketika putrinya ikut turun makan malam.


Aura tersenyum kecil, ia masih merasa tidak enak dengan Mama dan Papanya. "Sudah, Ma."


"Makan yang banyak, Nak. Biar tambah sehat," Didik tersenyum lembut melihat putri pertamanya yang sudah kembali seperti dulu. Meskipun terkadang masih sering melamun saat sendiri.


"Arya sama Aira mana, Ma?" Aura meneliti kursi kosong di depannya yang biasanya diisi oleh kedua adik kembarnya.


Desti tertegun, ia baru ingat akan dua anak kembarnya. Memikirkan Aura dan juga mertuanya yang keras kepala membuatnya lupa tidak mengabari mereka.

__ADS_1


"Ehm, mereka lagi ada tugas di luar kota. Jadi nginap," bukan suara Desti. Melainkan Didik, ia membantu istrinya menjawab pertanyaan Aura. Meskipun sebenarnya ia tidak tahu di mana keberadaan putra dan putri kembarnya itu. Yang pasti, pemeran utama dari ini semua adalah istrinya.


Aura manggut-manggut, ia melanjutkan makannya yang bisa ia rasakan kenikmatannya setelah beberapa Minggu ini masalah menimpanya.


Ia bersyukur karena masih memiliki Mama dan Papa yang menyayanginya dan tidak menyalahkan dirinya.


"Ma, jawab jujur ya?" Didik mengajak Desti duduk di balkon kamar mereka. Menikmati angin malam sambil mengobrol.


Desti menatap suaminya, ia tahu apa yang ingin ditanyakan suaminya. Ia pun mengangguk pasti, sudah tidak ada lagi yang harus ditutupi.


"Anak-anak ke mana? Apa Mama tahu?" Didik menatap lembut istrinya.


Desti menghela napas, "mereka ada di apartemen Mama yang dulu. Mama yang suruh mereka pergi," Desti memberi jeda.


"Mama tidak terima Papa selalu memprioritaskan Aura. Arya dan Aira juga anak Papa, tapi perlakuan Papa sama mereka beda. Mama sakit hati, Pa. Jadi Mama suruh mereka pergi, sebelum mereka semakin benci Papa." Desti tak bisa membendung air mata mengingat perlakuan suaminya yang tidak adil.


Didik menegang mendengar pengakuan istrinya, seburuk itukah dia untuk anak-anaknya?


Didik pun langsung memeluk Desti erat, ia gumam kan kata maaf untuk istrinya. Ia merasa menjadi suami dan ayah yang tidak berguna. Ia gagal.


"Maafin Papa, Ma. Papa salah, Papa egois."


"Papa jahat. Papa bunuh anak Mama," Desti menangis tersedu-sedu.


"Maafin Papa." Hanya kata maaf yang bisa Didik ungkapan untuk Desti. Meskipun kesalahannya tidak mudah dimaafkan.


"Papa ja-hat. Hiks... Hiks..."


Didik semakin bersalah mendengar rancauan dan tangis istrinya. Ia penuh dosa, apalagi untuk putrinya. Gadis mungilnya yang telah ia lukai.


Tuhan, jika masih ada kesempatan ia ingin bertemu dengan putrinya. Ia ingin memeluk dan meminta maaf atas segala sikapnya selaman ini. Ia Papa yang buruk untuk putrinya.


____

__ADS_1


__ADS_2