Sah!

Sah!
Sah~~Empat Belas


__ADS_3

"Cup, cup. Sudah Sayang, maafin Abang ya. Jangan nangis lagi," sudah sejak setengah jam yang lalu Syarif memeluk dan mencoba menenangkan tangisan Dinda yang mendengar penjelasan Syarif.


Berbagai rasa bercampur aduk, Dinda ingin marah, tapi juga lega. Suaminya tidak benar-benar mengabaikannya.


"Hiks... Abang jahat. A-adek kan jadi sedih." Adu Dinda masih tertinggal suara seraknya.


"Iya, Abang salah. Adek jangan nangis lagi, Abang jadi ikut sedih ini."


Dinda melepas pelukan Syarif, mencoba menetralkan napasnya agar berhenti dari tangisannya.


"Abang janji, jangan ulangi lagi." Dinda mengangkat jari kelingkingnya sebagai tanda janji.


Syarif tersenyum, istrinya ini masih menggunakan jari kelingking untuk berjanji. "Janji."


Senyum Dinda terbit, setelah dua hari ini hilang bagaikan ditelan bumi. Ah, Syarif memang pusat Dinda. Poros yang membuat suasana hati Dinda bisa berubah-ubah.


"Sekarang, Adek mau apa?"


"Pengen makan bakso, Bang."


"Boleh, mau beli di luar apa buat sendiri?"


"Emang bisa?" Dinda memicingkan mata tanda tak percaya.


"Kamu ngeremehin kemampuan Abang masak ya. Ayo, Abang buktikan."


"Ayo."


****


"Dek, sudah siap belum?"


"Bentar, Bang. Ini lagi bungkus oleh-oleh buat Ayah sama Bunda."


"Oke, Abang ke depan dulu ya."


"Iya."


Hari ini, Dinda dan Syarif akan mengunjungi rumah Ayah dan Bunda Syarif, yang berarti mertua Dinda. Setelah semalam mereka bermewek-mewek ria, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi masalah ini pada orang tua mereka.


Bukan karena mereka tidak bisa mengatasi, hanya saja mereka perlu dukungan dan doa dari orang tua mereka.


Jam delapan lewat tujuh menit, Dinda dan Syarif sudah berada di depan pintu rumah Ayah dan Bunda Syarif. Terlalu pagi untuk bertamu, tapi tentu tidak bagi Syarif.


"Assalamualaikum." Salam mereka bersamaan ketika sudah sampai di rumah orang tua Syarif.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, eh kalian. Ayo, masuk-masuk." Bunda Hesty menyambut anak dan mantunya penuh semangat.


"Tumben, pagi-pagi ke sini. Kamu gak kerja Rif?"


"Hehe, bolos sekali lah, Bun." Cengir Syarif.


"Huh, sekali nanti nambah lagi. Mantu Bunda ini gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, sehat Bun. Ini ada buah buat Bunda sama Ayah." Dinda memberikan bungkusan berisi Apel dan kelengkeng kesukaan Ayah dan Bunda.


"Ya Allah, malah repot. Makasih Sayang, cup." Hesty memberikan kecupan sayang di pipi kanan Dinda. Ugh, Dinda memang mantu idamannya, apalagi ia sudah menandai Dinda seja lahir. "Mualnya masih?"


"Alhamdulillah, udah gak lagi. Sekarang malah nafsu makannya nambah, Bun." Adu Dinda manyun, pasalnya setelah masa mualnya habis, kini nafsu makannya malah melonjak drastis. Kecuali dua hari kemarin, pas Syarif sok cuek sama Dinda.


"Wajar Sayang, ibu hamil itu gampang laparnya. Gak papa, yang penting kamu sama dedek bayinya sehat."


"Bun, Ayah kerja?" Tanya Syarif karena sedari tadi tidak melihat penampakan Ayahnya.


"Ck, iya lah. Emangnya kamu, bolos terus."


"Ih, baru juga sekali Bun."


"Udah ah, males ngomong sama kamu. Oh iya, kapan cek lagi kandungannya?" Pandangan Hesty sudah sepenuhnya kembali pada Dinda. Membuat anak laki-lakinya berdecak sebal.


"Gak ah, Bunda mau jenguk Sarah." Sarah adalah adik satu-satunya Syarif, yang usianya sejajar dengan Dinda.


Dinda pun hanya manggut-manggut, ia sampai lupa tujuannya datang ke sini.


"Bang, katanya mau ngomong sama Bunda."


"Oh iya, sampai lupa Abang."


"Ngomong apa? Jangan aneh-aneh ya."


"Ih Bunda, gak lah. Gini lho Bun, sebenarnya kita ini mau diskusi sama Ayah juga sih. Tapi Bunda sampaikan aja ya, sama Ayah."


"Iya, kamu ini kayak sama siapa saja."


Syarif menarik napas sejenak sebelum menceritakan semua yang ia alami selama seminggu ini. Tentang keluarga Sujatmiko dan segala rencana liciknya. Tapi tidak dengan acara pura-pura ngambeknya pada Dinda, bisa kena omelan tujuh hari tujuh malam nanti.


"Astaghfirullah, kok tega banget sih keluarga mereka." Hesty shock mendengar penuturan anaknya. Benar-benar, Sujatmiko memang sangat ambisius. Segala cara akan mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dasar.


Ugh, Hesty lupa. Ada dua orang darah Sujatmiko yang sangat baik dan tidak neko-neko. Tapi sayangnya keberadaan mereka berdua di simpan rapat dari publik.


"Dinda yang tenang ya, Sayang." Hibur Hesty melihat mantunya bermuka sedih.

__ADS_1


"Iya Bun, kita butuh doa dan dukungan Bunda sama Ayah. Nanti kami juga mau ke rumah Ibu sama Bapak."


"Oke, Bunda belum bisa kasih solusi. Bunda diskusi sama Ayah dulu, nanti hasilnya Bunda kasih tahu. Yang penting kalian tetap semangat dan harus saling percaya, itu kuncinya. Syarif juga jangan sampai lengah di kantor, nanti kena godaannya."


"Astaghfirullah, gak lah Bun. Sementara ini kantor aku pasrahkan sama Syam, dia yang handle sampe masalah selesai."


"Baguslah, seperti apa sih rupa si Aura Aura itu? Bunda penasaran, Dinda udah pernah lihat?"


Dinda menggeleng pelan, "belum Bun. Dinda juga gak pengen tahu." Balasnya cuek, ugh cuma denger namanya aja udah males dan muak. Apalagi kalau sampai lihat mukanya, bisa kambuh lagi nanti sisi liarnya yang sudah ia simpan sejak menikah.


"Cantik Bun," sela Syarif cuek.


Plak!


"Oooooh, jadi kamu sudah mulai ke goda ya. Iya? Ngaku." Hesty berkali-kali memukuli tubuh Syarif, meskipun terhalang Dinda.


"Ampun Bun, ampun. Kan tadi Bunda tanya, ya Syarif jawab seadanya. Aura memang cantik, tapi... ya lebih cantikan istriku lah."


"Awas kamu macem-macem," huh Hesty jadi capek sendiri mukuli anak sulungnya itu.


Sedangkan Dinda hanya cengingisan tidak jelas. Yang pasti menertawai keapesan suaminya. Dosa tidak ya? Ah, tidak apa, sekali-kali, hihi.


"Tapi, Bun. Setelah aku timbang-timbang dari pengamatanku selama ini, Aura itu agak mirip sama Dinda lho." Informasi Syarif tentu mengejutkan Dinda, beda respon Hesty yang tubuhnya menegang.


"Eh, em iya kah? Masak sih?" Aduh, jangan sampai dua anak ini tahu ketegangan ku, batin Hesty mencoba menenangkan tubuhnya.


"Iya Bang. Kok semalem Abang gak cerita sih?" Kesal Dinda, suaminya ini, dasar.


"Hehe, maaf Dek. Abang cuma tidak ingin memperkeruh suasana, kan semalem adek lagi marah sama Abang."


"Huh, alasan."


"Beneran, suer deh."


"Gak percaya."


"Dek..."


"...."


Dinda dan Syarif terlarut dengan candaan dan godaan. Berbeda dengan Hesty yang sedang berkecamuk dengan berbagai prasangkanya. Diam-diam ia merasa sangat ketakutan, entah karena apa. Yang pasti dia memiliki satu firasat buruk. Tentang sesuatu yang sudah menjadi simpanan selama dua puluh tahun, yang jika itu terbuka maka akan ada pertumpahan. Pertumpahan air mata.


Oh Allah, jangan sampai pikiran buruk Hesty menjadi kenyataan. Cukup dipikiran saja, jangan sampai terjadi.


_______

__ADS_1


__ADS_2