Sah!

Sah!
Sah~~Delapan Belas


__ADS_3

______


"Assalamualaikum, Ma. Apa yang di berita itu benar?" Tanya remaja laki-laki di seberang telepon.


Wanita yang di panggil Mama pun menghela napas berat, "Wa'alaikumussalam, iya. Beritanya udah nyebar, ya?" Sebenarnya tidak perlu ditanyakan lagi, keluarganya merupakan keluarga terpandang. Hal sekecil apapun pasti akan terekspos ke masyarakat, apalagi kejadian beberapa jam lalu yang membuatnya malu sekaligus lega.


"Iya, Ma. Tapi biarlah, ini untuk pelajaran buat Oma. Segala sesuatu itu tidak bisa dibeli dengan uang. Kak Aura gimana?" Yah, si penelpon adalah Arya. Rasanya tidak etis kalau dia tidak menanyakan kabar Kakaknya, meskipun ia tidak suka.


"Ini barusan tidur lagi, stress banget dia. Kecewa juga, sama Oma marah." Sejak pulang dari acara, Aura histeris. Tidak mau didekati oleh siapapun, kecuali Desti. Ia yang biasanya manja dengan Papanya pun tak ingin disentuh.


"Hah, biarin Ma. Biar Oma tau rasa!" Ada nada marah dan sinis dari suara Arya.


"Jangan seperti itu, Bang. Gak baik, biar gimanapun Oma itu keluarga kita. Ibunya Papa, harus dihormati." Desti tidak ingin anak-anaknya memendam kebencian pada keluarga sendiri. Meskipun benci itu tercipta oleh keluarganya, cukup tidak suka dalam sikap dan tindakan. Jangan sampai benci dengan jasmaninya juga.


"Aku begini juga karna Oma, Ma." Bela Arya, ia muak dengan Omanya.


"Iya, Mama tahu. Tapi jangan biarkan hati Abang penuh dengan rasa benci. Tidak suka boleh, benci jangan. Tidak suka pun jangan diperlihatkan, kalau sudah waktunya pasti Oma akan sadar dengan sikapnya."


Arya mengangguk tanpa sadar, ia juga tidak ingin menodai hatinya dengan menyimpan benci pada Omanya. Rugi. "Iya, Ma. Maaf. Kalau gitu, Abang mau tidur dulu ya, Ma. Good nite, Ma."


"Nite, sayangnya Mama."


"Assalamualaikum, Ma."


"Wa'alaikumussalam," Desti menghela napas berat. Anak kembarnya masih di dalam persembunyiannya, bahkan untuk kembali pun mereka enggan. Netranya memandang putri pertamanya–oh bukan, putri keduanya yang saat ini sedang tertidur. Wajahnya sembab karena tidak berhenti menangis.


Ceklek!

__ADS_1


"Aura sudah tidur, Ma?" Didik yang baru saja dari ruang kerja menghampiri Desti.


"Iya, Pa. Barusan, udah sedikit tenang." Desti tidak mengalihkan pandangannya dari Aura.


Didik mengambil duduk berhadapan dengan Desti, matanya sedari tadi tak lepas dari anak gadis kesayangannya. Kini ia tersadar, kasih sayang berlebih yang ia berikan pada Aura malah menjadi boomerang.


Didik sadar, kasih sayangnya yang timpang terhadap anak-anaknya membuat keluarganya pecah. Dua anak kembarnya entah kemana sampai saat ini, menanyai istrinya juga tidak ada jawaban.


"Hah, semua ini salah Papa, Ma. Papa tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk Mama dan anak-anak." Sesal Didik dengan kepala menunduk.


"Papa itu Papa terbaik untuk anak-anak juga Mama, masalah ini menyadarkan posisi kita, Pa. Setiap keinginan tidak harus terpenuhi, adakalanya kita ingin, tapi Allah tidak berkehendak." Desti berusaha menenangkan Didik, tangannya juga mengusap punggung tegap milik suaminya.


"Tapi Papa gagal, Arya dan Aira saja sampai pergi dari rumah gara-gara Papa. Papa hanya mementingkan kepentingan Papa, Papa pilih kasih, Ma." Desti langsung memeluk Didik. Apa yang diucapkan Didik memang benar adanya. Tapi ia tidak boleh memojokkan suaminya yang sedang terpukul. Ia harus berada di pihak penengah.


"Jadikan ini pengalaman untuk kedepannya ya, Pa. Biar gak ke ulang lagi," Didik mengangguk dalam dekapan Desti. Ia bersyukur memiliki istri penyabar seperti, Desti. Yang mampu menerima semua keegoisan dan kekeras kepala nya.


Desti tersenyum lembut setelah melepaskan pelukannya, "iya Pa. Nanti Mama telpon," tapi apa Arya dan Aira mau? Anak kembarnya itu juga memiliki sifat keras kepala dari Papanya.


Entahlah, yang penting dia harus menyampaikan kabar gembira ini. Bahwa Papanya yang meminta pulang.


🌺🌺🌺🌺


"Dek, kok belum tidur? Udah jam setengah satu, lho." Tanya Syarif yang setia mengusap perut buncit milik istrinya.


Wanita kesayangannya ini sejak tadi belum bisa memejamkan mata, entah apa yang sedang dia pikirkan. Padahal itu tidak baik untuk ibu hamil.


Dinda yang ditanyai malah semakin mendekatkan punggungnya dengan tubuh sang suami. Ia suka pada posisi ini, dimana ia tidur sambil dipeluk oleh suaminya. "Belum ngantuk, Bang."

__ADS_1


"Apa ada yang dipikirin, hem?"


Dinda mengangguk sekilas, "iya Bang. Aku kepikiran sama Aura, pasti dia shock banget."


Astaga, kenapa istrinya ini menggemaskan sekali. Kasihan dengan saingan? Aneh! Harusnya ia senang karena saingannya kalah telak. Ini malah kepikiran sampai tidak bisa tidur.


"Kenapa malah kasian? Semua itu akibat perbuatannya sendiri." Biar tahu rasa, batin Syarif kesal.


"Tapi kan, aku juga perempuan Bang. Bisa rasain sakitnya dia," lah. Syarif yang gemas pun menciumi pundak Dinda.


"Istri siapa sih, ini? Bikin gemes, pengen Abang gigit." Goda Syarif sambil pura-pura menggigit pundak Dinda.


"Abang, ih. Geli," elak Dinda menjauhkan badannya. "Udah, Bang."


"Merem dulu, baru Abang lepas."


"Belum ngantuk," tolak Dinda.


"Oke," Syarif semakin gencar menggigiti bagian tubuh Dinda yang sekarang bertambah dagingnya.


"Oke, Bang. Adek merem," teriak Dinda yang sudah kewalahan dengan kelakuan suaminya. Menggigit dan lagi tangannya tidak tinggal diam menggelitik pinggangnya.


Syarif yang mendengar itupun tersenyum geli, nurut juga akhirnya. Istri kecilnya ini memiliki perubahan mood yang ekstrim sejak hamil. Tapi, ia suka.


Baiklah lebih baik ia juga ikut merem bersama istrinya. Berharap esok bangun mendapat hal yang baik.


_____

__ADS_1


__ADS_2