Sah!

Sah!
Sah—Lima


__ADS_3

Assalamualaikum, happy reading all.


And enjoy the story.


"Baik-baik ya, di sana. Jangan sungkan hubungi Ibu kalau ada kerepotan. Jadilah istri sholihah, patuh sama suami." Pesan Ibu ketika aku akan berangkat menuju rumah suamiku, dan akan menjadi rumahku juga.


Aku masih sesenggukan di pelukan Ibu, belum rela sebenarnya meninggalkan segala kenangan di rumah ini.


"Sudah, jangan ciwek. Gak malu apa sama suamimu." Ledek Ibu sambil mengusap air mata di pipiku. Akupun cemberut, Ibu ini masih sempat-sempatnya ledek aku.


"Iya, kamu ini Dek. Udah kawin juga masih ciwek." Ledek Mas Danang disertai tawa jeleknya.


"Ibu...." Rengekku pada Ibu. Sedangkan Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anaknya.


"Ngadu-ngadu." Imbuh Mas Danang. Huh, awas aja.


"Sudah-sudah, nanti gak habis-habis. Kalian ini juga, sudah punya anak masih suka ledekin Adiknya." Haha, rasain. Mas Danang dan Mas Dino menahan tawanya, dasar Mas jahat.


Untung Mbak-mbak ipar sama keponakanku tidak ikut, kalau ikut bisa aku kompori biar tidur di luar.


"Ya sudah kalau gitu Bu, Mas Danang, Mas Dino, kami pamit." Pamit Bang Syarif akhirnya yang sebelumnya hanya menjadi penonton drama kemenyek ala-ala ku.


"Iya, hati-hati di jalan ya."


"Salam buat Bapak Bu, semoga cepat sembuh." Ucap Bang Syarif sebelum menggiringku menuju mobil merah hati miliknya.


Oh iya, aku hampir lupa dengan Bapak. Beliau tidak ikut mengantar kepindahanku pagi ini. Beliau mendadak typusnya kambuh dan butuh banyak istirahat. Untung tidak harus ke rumah sakit. Beliau saat ini sedang beristirahat di kamar, ketika aku ingin membatalkan kepindahan ku. Beliau bilang sebentar lagi pasti juga sembuh. Kamu jangan tunda kepindahanmu hanya gara-gara Bapak sakit, Bapak gak papa. Yah, aku bisa apa kalau Bapak sudah bertitah seperti itu.


"Kami pamit Bu, Mas, Mbak. Assalamualaikum."


Aku dan Bang Syarif meninggalkan pelataran rumah, mobil yang kami tumpangi mulai menyusuri jalanan kota yang tidak terlalu padat.


"Kalau ngantuk tidur aja, perjalanannya lumayan jauh. Tiga jam. Nanti Abang bangunin." Pinta Bang Syarif yang fokus menyetir, tadi rencananya kami ingin membawa supir, tapi ternyata Pak Inong–supir di rumah Mertua sedang demam. Jadi pagi ini Bang Syarif mengendarai sendiri.


"Oke Bang, sorry ya aku tinggal tidur." Tak enak juga sih, masa dia nyetir malah aku tinggal tidur. Tapi sumpah, mataku tidak bisa di ajak kompromi. Maklum efek nangis tadi.

__ADS_1


Bang Syarif mengacak rambutku gemas, "udah tidur aja. Abang gak papa."


Oke, karena Bang Syarif yang minta lebih baik aku manfaatkan sebaik mungkin. Belum tentu nanti setelah sampai rumah aku bisa tidur, aku harus beres-beres barnagku.


😚


"Bang, rumahnya besar banget sih?" Tanyaku heran, karena rumah di depanku ini sungguh mewah dan besar.


Aku jamin main petak umpet di sini tidak bakal ketahuan.


Bang Syarif hanya diam dan malah mernagkul pundakku mengajakku masuk rumah. "Kan nanti ada anak-anak kita, Sayang. Dan Abang pengennya punya anak lima."


"Wah kok sama sih. Aku juga pengen punya anak lima." Pekikku girang. Mungkin di antara kesamaan kami adalah dalam hal keinginan memiliki momongan banyak.


"Haha, berarti Abang gak salah pilih dong." Goda Bang Syarif.


"No. Pas banget." Hihihi, nggak jadi nyesel ah, nikah sama Bang Syarif.


"Yuk lihat kamar kita." Diajaknya aku oleh Bang Syarif menuju ruangan di dekat tangga. Pintunya lebar, bercat abu-abu tua. Yang ternyata itu kamar kami berdua.


Sedari aku masuk tadi, aku tidak hentinya mengagumi keindahan dan kemewahan rumah ini. Dan sekarang ketika aku melihat isi kamar yang akan aku tempati, rasanya aku ingin pingin. Sungguh, bukan aku lebay ya.


"Gimana, suka?"


Yang aku jawab dengan anggukan semangat, "banget Bang. Ini mah bisa main sepak bola di sini."


"Iya, nanti tiap malam kita olahraga di sini." Ujar Bang Syarif dengan senyum menggoda. Ih, kok aku jadi merinding membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Oke, jangan dipikirkan sekarang.


"Beres-beres dulu yuk Bang." Ajakku pada Bang Syarif yang sudah rebahan di ranjang.


"Nanti aja, Sayang. Biar Mbok Tien yang beresi. Mendingin sini, tidur sama Abang." Bang Syarif menepuk ranjang kosong di sebelah kanannya. Mengajakku untuk tidur siang, kan tadi aku baru bangun tidur.


"Ayo sini." Baiklah, aku juga ingin merasakan seempuk apa kasur di rumah mewah ini.


Selamat tidur gaes!

__ADS_1


😗


"Hari-hati di jalan Bang." Pesanku pada Bang Syarif yang hari ini mulai berangkat ke kantor lagi, setelah seminggu cuti.


"Iya, Adek juga hati-hati di rumah. Cup. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Aku menunggu mobil yang di kendarai Bang Syarif menghilangkan dari pandanganku.


Pagi ini, pagi keempatku di rumah besar ini. Aku tidak merasa kesepian, karena di sini ada Mbok Tien–pembantu di rumah kami yang menemaniku ketika Bang Syarif pergi.


Sebenarnya aku bisa saja memberesi rumah ini sendiri, selagi aku dan Bang Syarif belum punya momongan.


Tapi dasarnya suami satu itu lebaynya minta ampun–dan aku baru tahu beberapa hari ini. Katanya aku tidak boleh capek-capekan dengan pekerjaan rumah, dia ingin aku segera mengandung. So, aku harus terhindar dari segala jenis pekerjaan berat.


Dan itu hanya berlaku jika Bang Syarif tidak ada di rumah, mana bisa aku anteng tanpa gawe. Kebiasaan di rumah dulu selalu di omelin Ibu kalau leyeh-leyeh.


"Eh si Eneng auranya semakin hari semakin beda." Celetuk Mbok Tien tiba-tiba, setelah aku sampai di dapur.


Aku menoleh penasaran, "beda gimana Mbok? Perasaan biasa saja." Apa aku tambah gendut ya?


"Aura kecantikannya bertambah, efek sudah punya suami paling ya, Neng?" Mbok Tien terkikik dengan pemikirannya.


"Haha, Mbok bisa aja." Amboy, kalau emang benar aku tambah cantik. Berarti Bang Syarif sukses dong menafkahi ku lahir dan batin, hihi.


"Ya udah Mbok, yuk cepet beresin. Biar bisa cepet rebahan. Hehe."


"Mantab itu Neng." Mbok Tien mengacungkan jempolnya semangat.


Haha, si Mbok ini emang ada aja. Jadi kangen sama Ibu deh.


Oke, kapan-kapan aku main ke rumah lah, pas Bang Syarif libur tentunya.


TBC...

__ADS_1


Vote and coment ya gaes 😘


❣️


__ADS_2