Sahabatku Berkhianat

Sahabatku Berkhianat
Martabak dan terang bulan


__ADS_3

Selamat Membaca 🧡


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Lea yang sudah selesai mandi berjalan ke arah meja riasnya, kemudian duduk dan memilih skincare untuk ia pakai. Lea memang suka mengoleksi skincare ada banyak skincare di meja riasnya, dan semua skincare miliknya kusus untuk kulit remaja. Selesai memakai skincare ia pun mengambil handphonenya kemudian membalas pesan dari Alex.


^^^Lea.^^^


^^^Maaf ya, baru bales kamu ngapain chat aku banyak banget.^^^


Alex yang sedang berada di rumah kaca sambil menonton drama Korea, mendengar notifikasi handphone miliknya berbunyi. Saat Alex melihat Lea yang membalas pesannya, ia begitu kegirangan. Benar-benar kamu ya Lea, dari tadi siang aku chat nungguin balasan dari kamu baru di balas malam astaga! mana balasnya singkat baru ini gue di cuekin cewek. Makin pengen kenal kan jadinya kalau kayak gini gumamku.


Setelah membalas pesan, Lea menaruh handphonenya kembali di meja riasnya. Baru saja ia berdiri dan mau turun ke bawah untuk membeli cemilan handphonenya berbunyi.


Alex.


Nggak ada, godain kamu aja haha.


Udah pulang?


^^^Lea.^^^


^^^Jail banget sih kebiasaan deh? udah dong.^^^


Alex.


Hari minggu jadi nggak?


^^^Lea.^^^


^^^Jadi dong?^^^


Alex.


Ok, tuan putri.


Lea tidak membalas pesan terakhir Alex, ia pun melihat pesan Wa dari seseorang yang selama ini dekat dengannya. Selain punya Wa dan IG Lea juga mempunyai FB, rasanya tidak afdol jika di jaman modern ini anak-anak muda tidak mempunyai sosial media. Bukan hanya Lea saja, tapi teman-temannya yang lain juga mempunyai aplikasi yang sedang hits sekarang. Tiga aplikasi itu memang sedang hits di kalangan anak muda.


Sebelum pindah ke Surabaya Lea memang sering mengunggah fotonya, ia paling sering membuka FB miliknya. Setiap Lea mengunggah foto ada seseorang yang selalu like dan mengirimkan pesan padanya, bahkan Lea dan orang itu juga berteman di IG. Sampai sekarang Lea jadi sering chatan dengannya. Awalnya Lea tidak terlalu peduli dengan orang itu, tapi akhirnya ia pun penasaran dan melihat foto yang ada di FB nya. Lea juga sering memberi like setiap orang itu menggugah foto. Dari situlah mereka sering berkomunikasi dan saling bertukar nomor Wa. Mereka juga sering video call entah mengapa, Lea sangat senang jika orang itu mengirim pesan apalagi kalau vidio call.


Ya, orang itu adalah Rehan. Orang yang membuat Lea menyimpan perasaan padanya. Lea tidak tahu jika Rehan dan Nadia saling mengenal. Begitu juga Rehan, ia tidak tahu jika Lea adalah teman akrab Nadia.


Rehan.


Kamu nggak percaya aku pulang, kalau aku beneran pulang ke Surabaya mau ketemuan.


^^^Lea.^^^


^^^Kamu sering bohongin aku, aku nggak percaya kamu pulang. Udah ya, aku mau keluar dulu.^^^


Rehan.


Jangan ngambek dong? nanti cantiknya hilang. Mau kemana emangnya.

__ADS_1


^^^Lea.^^^


^^^Beli martabak.^^^


Rehan.


Beli di mana?


^^^Lea.^^^


^^^Depan indomaret dekat rumah, kenapa sih!^^^


Rehan.


Nggak apa-apa cuma nanya.


Apaan!" nggak jelas deh gumam Lea.


Lea yang sudah siap langsung memakai tas selempang dan memasukkan handphonenya, kemudian bergegas turun untuk pergi membeli martabak, terang bulan dan juga minuman boba.


"Mau kemana non Lea?" tanya Bibi Ida yang sedang membuat teh hangat di dapur.


"Mau beli cemilan Bibi, pengen nyemil," jawabku sambil menuruni anak tangga. Papa sama mama belum pulang bi?"


"Belum, non.


"Oh?" ya udah aku keluar dulu ya Bi.


"Hati-hati, Non Lea.


Setelah enam jam di perjalanan dengan mengendarai sepeda motornya Rehan tiba di Surabaya. Sebentar lagi ia akan sampai di rumahnya. Rehan pulang bersama temannya, mereka membawa motor sendiri-sendiri. Seharusnya Rehan sudah sampai pukul tujuh malam, tapi karena temannya mudah lelah ia sering beristirahat.


"Kevin, gue pergi duluan ya," ucap Rehan yang sedang memakai parfum.


"Mau ketemu cewek nih kayaknya," ucap Kevin.


"Kok, tahu?"


"Iya lah!" tumben banget gitu, temen gue mandi di jalan. Biasanya kan kalau pulang lo, nggak pernah mandi.


"Rehan tertawa kecil," meledek temannya.


"Lo nggak capek apa Re?" nggak istirahat dulu di rumah.


"Nggak ah, gue lagi semangat pengen cepat ketemu cewek yang selama ini cuma liat di vidio aja.


"Dih!" gaya lo Rehan?" Rehan.


"Gue duluan ya?" doain semoga temen lo yang ganteng dan baik hati ini lancar PDKT.


"Iya, iya?"


Rehan pun bergegas menyetir sepeda motornya, ia akan pergi menemui Lea di depan indomaret dekat rumahnya. Di dekat rumah Lea hanya ada satu indomaret. Rehan tahu jalan tempat di daerah rumah Lea, karena rumahnya melewati jalur di jalan raya itu.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Lea, Rehan menyusulnya dan berhenti di gerobak nasi goreng yang ada di sebelah gerobak martabak. Ia pun sampai dan terlihat melirik semua orang yang sedang membeli martabak.


Mana ya? padahal sering video call kenapa jadi lupa. Rehan yang sedang bingung mencari Lea, matanya tertuju pada gadis yang sedang duduk di belakang gerobak. Ia pun memastikannya dengan menelfon Lea dan segera membuka helm.


Lea yang sedang asik membaca novel, sembari menunggu martabak dan terang bulan matang melihat sebuah panggilan telfon masuk. Ia kaget ternyata yang menelfon dirinya adalah Rehan, karena biasanya mereka sering vidio call itupun Rehan selalu bilang jika akan vidio call. Ia pun mengangkat telfon dari Rehan.


Lea.


Halo, Re? ada apa? tumben telpon.


^^^Rehan.^^^


^^^Aku lagi beli martabak nih, di dekat rumah kamu.^^^


Lea.


Hah! jangan bohong Rehan, ya udah ya, nanti aja telpon dada?


Loh!" malah di matiin" celetuk Rehan. Ia pun turun dari sepeda motornya dan bergegas menghampiri Lea. Gadis cantik bermata indah, wajahnya yang menggemaskan seperti bayi panda. Bulu mata lentik, dengan alis lengkung presisi dan bibirnya yang menawan. Rehan tidak menyangka jika Lea begitu sangat cantik, bahkan lebih cantik aslinya dari pada di foto.


Untungnya saat hampir sampai Surabaya Rehan dan temannya istirahat di masjid, Rehan juga sekalian mandi untuk menyegarkan badannya. Rasa lelahnya terobati, ketika bertemu Lea.


"Permisi?" boleh duduk di sebelah kamu nggak," tanya Rehan sambil menahan tawa.


"Oh!" iya boleh mas," jawab Lea, ia tidak tahu jika lelaki yang ada di hadapannya adalah Rehan.


"Rehan yang duduk di samping Lea, membuka maskernya dan berkata" beli apa cantik.


"Ha! Apaan sih, ini cowok ganjen banget , baru saja Lea akan menjawab dan akan pindah tempat duduk karena risih. Ia pun menatap lelaki yang ada di sebelahnya, ia seperti mengenal lelaki yang menggodanya itu.


"Kamu!" kamu Rehan," tanya Lea.


"Rehan tersenyum lebar dan menganggukkan kepala," iya ini aku.


"Kamu ih!" kenapa nggak bilang kalau pulang," kataku sambil memukul pelan pundak Rehan.


"Aku kan, ngasih kejutan?" tadi pas kita chatan aku udah di dekat sini.


Mereka pun saling bercerita seperti seorang kekasih yang lama tidak berjumpa, setelah antri membeli martabak dan terang bulan. Giliran Lea yang di panggil karena pesanannya sudah matang. Rehan pun tiba-tiba berdiri lalu membuka dompetnya, ia membayar martabak dan terang bulan yang Lea beli.


"Eh, ngapain Re?" nggak usah.


"Nggak apa-apa santai aja Lea?" nih martabak sama terang bulannya. Ya udah, kamu pulang ya?" nanti dingin malah nggak enak.


"Makasih loh Re?" ya udah kalau gitu aku pulang dulu, kamu nggak mampir.


"Sama-sama Lea, hem?" nggak deh lain kali aja ya, lagian aku juga baru pulang.


"Ok deh, pokoknya kamu harus main ke rumah ya?" kalau udah nggak sibuk.


"Siap!" hati-hati ya Lea" kataku sambil melambaikan tangan.


Lea begitu senang sampai lupa jika ia akan membeli minuman boba dan langsung pulang. Sedangkan Rehan masih mampir ke toko buah, untuk membeli buah mangga kesukaan bundanya.

__ADS_1


Setiap pulang ke Surabaya Rehan memang pulang mengendarai motor vario kesayangannya, ia sudah biasa pulang menyetir sendiri. Keluarga Rehan memang berasal dari keluarga sederhana, dari kecil ia sudah belajar mandiri. Ayahnya bekerja serabutan kadang bekerja di sawah, kadang juga bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan bundanya bekerja sebagai pembantu di salah satu perumahan yang dekat dengan rumahnya. Meskipun begitu Rehan sangat bangga mempunyai orang tua seperti mereka.


Dulu Rehan sempat tidak ingin melanjutkan kuliahnya, ia ingin membantu kedua orang tuanya bekerja setelah lulus SMA. Orang tuanya melarang dan menentang Rehan, mereka ingin melihat anak-anaknya bisa melanjutkan kuliah. Mereka juga ingin kelak anaknya bisa sukses dan mudah mendapatkan pekerjaan. Akhirnya Rehan berinisiatif untuk kuliah sambil bekerja, untuk membiayai kuliahnya sendiri. Agar orang tuanya bisa fokus membiayai sekolah adiknya. Untungnya di Malang, ia tidak tinggal di kos-kosan. Rehan tinggal bersama adik ayahnya dan bekerja di konternya, karena memang ayah Rehan berasal dari Malang. Adik ayahnya juga begitu sangat baik, setiap memberikan gaji selalu di berikan lebihan.


__ADS_2