
Selamat membaca 🧡.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oh!" ya Alex aku ingat, kita kan memang satu kelas tentu saja kita sering berpapasan," kataku dengan ragu.
"Nggak Lea kamu salah, coba deh kamu ingat-ingat lagi. Sebelum kita satu kelas, kita pernah bertemu," ucap Alex.
"Apa!" apa aku salah, kenapa dia membuatku penasaran. Memangnya di mana kita pernah bertemu maaf ya aku lupa" tanya Lea.
Tak lama kemudian, suara bel berbunyi. Rencana pertama Alex untuk mendekati Lea gagal, karena suara bel menyebalkan. Padahal Alex masih ingin mengobrol dengan Lea.
"Astaga!" kenapa sudah masuk kelas di saat yang tidak tepat, membuatku kesal saja," gumam Alex. Ya sudah Lea aku pergi dulu, nanti kita bertemu lagi "ok!" Alex mengedipkan mata kanannya ke arah Lea, segera Alex pergi berlari menyusul teman-temannya.
Lea hanya bisa terdiam, sebenarnya apa yang dia maksud, benar-benar membuatku bingung saja.
Aku sudah lelah karna beberapa hari ini merapikan barang-barang ku karena pindahan, sekarang dia yang bernama Alex dan baru berkenalan sudah membuatku pusing. Tapi dia tampan juga di lihat dari gayanya sepertinya dia playboy. Sadarlah Lea, lagi-lagi kau berfikiran yang tidak-tidak gumam Lea, sambil menepuk pelan kedua pipiku. Bagaimana kalau ternyata dia laki-laki yang setia, bisa bisanya aku berpikir begitu.
...****************...
Akhirnya jam pelajaran telah usai, mama pasti menungguku di parkiran. Lea pun membuka tasnya lalu memasukkan bukunya dan bergegas ke sana. Ia benar-benar sangat lelah, dan ingin segera pulang ke rumahnya.
Sesampainya di parkiran, ternyata Laila belum menjemput dirinya. Padahal biasanya Laila tidak pernah telat menjemput Lea. Akhirnya, Lea memutuskan untuk menunggu mamanya di gazebo samping parkiran.
"Sudah 15 menit, kenapa mama lama sekali menjemput ku," gumam Lea. Mana panas banget, capek astaga!" di telepon juga nggak du angkat-angkat.
Nadia yang sedang berjalan menuju parkiran, melihat Lea sedang duduk di gazebo samping parkiran. Ia pun mendatangi berlari menghampiri Lea, yang sedang kebingungan.
"Loh!" kamu belum pulang Lea, tumben banget biasanya kan mama kamu udah jemput," tanya Nadia.
__ADS_1
"Iya nih?" udah telepon mama tapi nggak di angkat," jawab Lea.
"Kamu juga kenapa belum pulang, bukannya tadi udah keluar kelas," tanya Lea.
"Oh?" iya tadi aku balik lagi, karena ada barang aku yang ketinggalan.
"Ya udah ayo!" masuk mobil bareng Nadia aja, lagi pula rumah kita nggak terlalu jauh kan?" kataku sambil tersenyum kecil.
Saat Lea memikirkan tawaran Nadia, tidak lama kemudian handphonenya berdering. Lea langsung membuka tasnya lalu mengangkat telepon dari mamanya.
"Halo Ma!" Mama di mana kenapa belum sampai," kataku dengan kesal.
"Ya ampun Lea?" maafin Mama ya, Mama masih belum selesai acara arisannya tunggu 15 menit lagi Mama sampai "ok!", tadi handphone Mama ketinggalan di mobil jadi Mama nggak tau kamu telfon sayang?" maafin Mama ya?"
"Oh gitu?" ya udah, nggak apa-apa Mama lanjutin aja arisannya, aku pulang bareng temen aku aja. Jarak rumah kita nggak jauh dan searah kataku dengan manja. Nadia yang penasaran, terlihat menguping di dekat Lea dan tersenyum.
"Loh!" kamu kok nggak pernah cerita ke Mama kalau punya temen, setau Mama kamu kan anaknya tertutup," ucap Laila sambil meledek putrinya. Siapa nama temen kamu sayang.
Lea sangat malu dan bergegas menghindari Nadia, yang sedari tadi menguping di sampingnya. Nadia pun semakin meledek dari kejauhan dan tertawa pelan-pelan, sambil memegangi perutnya karena menahan tawanya.
"Ya udah, ya Ma. Aku mau pulang dulu, panas banget ini," ucapnya.
"Eh tunggu dulu, Mama belum selesai ngomong sayang?" jadi ini kamu beneran pulang sama Nadia?"
"Iya Ma, nggak apa-apa kok Mama lanjutin aja!"
"Oh?" ya udah, kalau gitu daa sayang?" hati-hati di jalan ya.
Lea pun mematikan handphonenya dan menghampiri Nadia, yang sedang menunggunya di gazebo.
__ADS_1
"Tawaran kamu tadi masih berlaku nggak Nadia," tanya Lea.
"Masih dong?" jawab Nadia.
Nadia dan Lea pun pulang bersama. mereka saling bergandengan tangan seperti anak kecil. Nadia senang bisa mengenal Lea, begitu juga Lea. Ia senang sekali bisa mengenal Nadia, dan menjadi sahabatnya. Dua gadis, yang sebelumnya tidak saling mengenal. Kini mereka telah menjadi sahabat sejati. Betapa bahagianya, mempunyai sahabat. Terimakasih, sudah menjadikanku sahabatmu.
"Lea besok kalau mama kamu sibuk kita pulang bareng aja ya. Nadia malah seneng kita bisa pulang bareng. Bukannya aku sudah bilang, kita ini kan udah jadi sahabat.
"Ya Nadia makasih ya?" udah mau nganter besok kalau mama aku sibuk, aku pulang bareng kamu.
Jujur sebenarnya aku juga belum pernah mempunyai teman akrab maksudku, teman yang selalu ada bukan hanya di saat butuhnya saja. Apalagi aku dan Lea juga sama-sama anak tunggal. Lea sangat beruntung mempunyai orang tua yang masih lengkap. Orang tua Lea juga sepertinya sangat menyayangi Lea, ini kesempatanku nganter Lea pulang agar aku sering main ke rumahnya.
"Nadia!" Nadia!" ucap Lea sambil menepuk pelan-pelan pundaknya dan tertawa lebar.
"Oh iya iya!" ada apa Lea.
"Kamu kenapa diam aja, tumben banget biasanya kan cerewet terus mikir apa hayo?" kenapa senyum-senyum sendiri," kataku sambil bercanda.
"Nggak ada nggak mikirin apa-apa kok.
Kita pun akhirnya jadi tertawa bersama, karena Nadia melamun sampai tidak mendengar Lea berbicara kepadanya.
"Apa an coba!" nggak jelas banget," celetuk Lea.
Nadia pun malah makin tertawa keras, mendengar celetukan Lea kemudian Lea pun malah ikut tertawa keras.
"Sopir Nadia tersenyum lebar" lalu menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Nadia dan Lea.
"Ngomong-ngomong, aku boleh sekalian main ke rumah kamu nggak Lea," tanya Nadia.
__ADS_1
"Boleh dong?" jawab Lea, aku justru senang kalau kamu mau main ke rumah aku Nadia.
"Nadia tersenyum lebar dan memeluk Lea, karena ia begitu senang. Baru kali ini Nadia merasa bahagia, ia seperti mempunyai saudara perempuan.