
Alex kembali di buat penasaran, siapa yang sedang menelepon Lea. Sampai membuat Lea tidak mau mengangkatnya, sudah tiga kali handphone Lea berdering. Alex pun bertanya kepada Lea, siapa orang yang sedang meneleponnya.
"Kenapa nggak kamu angkat Lea," tanya Alex, lalu menatap Lea. Dari tadi telepon terus, angkat dulu gih.
"Biarin aja, nanti juga berhenti sendiri," jawab Lea, sembari meminum jus semangka buatan mbak.
"Pacar kamu yang telepon?" ucap Alex pada Lea, dan tersenyum tipis ke arahnya.
"Kamu tahu dari mana kalau aku punya pacar, aku kan belum bilang," ucap Lea.
"Nggak sengaja liat foto, yang kamu upload tadi malam," ucap Alex dengan serius. Kamu udah lama kenal sama dia.
"Lea menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, aku udah lama kenal sama Rehan," jawab Lea singkat.
"Terus, kamu ke sini pacar kamu nggak marah," goda Alex dan tersenyum kecil.
"Apaan sih!" ngapain marah kamu kan, udah seperti saudara aku sendiri.
Alex menatap Lea dengan ekspresi wajah yang kosong, senyuman yang tampak di wajahnya hanyalah senyuman palsu. Mulutnya seperti terkunci otomatis mendengar perkataan Lea, yang hanya menganggap dirinya sebagai teman saja.
Jika aku nggak bisa memiliki kamu, bisa selalu di sampingmu saja itu sudah cukup bagiku Lea. Tidak apa-apa jika kita hanya berteman saja. Setidaknya aku bisa melihatmu setiap hari. Membuatmu tersenyum dan membuatmu bahagia. Akhirnya mereka pun fokus menonton film di laptop milik Alex. Selesai menonton film mereka akan memetik buah anggur merah, yang sudah banyak yang matang.
...****************...
Sudah pukul empat sore lebih 10 menit Rehan menemani Nadia. Rehan merasa lega, karena Nadia tidak demam dan bisa tertidur pulas. Sedari tadi, Rehan terus mengelus kening Nadia agar dia bisa tidur. Ia pun membuka pintu perlahan-lahan, supaya tidak membangunkan sahabatnya yang sedang tidur. Rehan pun berpamitan pada Yesi, yang sedang menyapu lantai.
"Mbak Yesi, saya mau pulang tolong bilangin Tante ya," ucap Rehan.
"Oh, iya Mas Rehan, saya panggilkan Ibu dulu mas," ucap Yesi, lalu berjalan ke kamar majikannya.
__ADS_1
"Mau pulang Rehan," sapa Anisa, yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya Tante, udah sore. Rehan mau pulang dulu Tante," pamitnya pada Anisa.
"Terima kasih ya, sudah menemani Nadia. Semoga besok sudah bisa masuk sekolah," ucap Anisa.
"Iya Tante, sama-sama saya pulang dulu Tante.
"Iya, Rehan," ucap Anisa dan tersenyum manis.
Sesampainya di rumah, Rehan kembali menelepon Lea. Rehan menyadari kesalahannya, yang terlalu fokus merawat Nadia. Sampai melupakan pacarnya, ia benar-benar menyesal dan ingin mengajak Lea keluar nanti malam, namun Lea tidak kunjung mengangkat panggilan telepon dari Rehan. Akhirnya Rehan memutuskan untuk mandi dan beristirahat.
Lea yang sedang memetik buah anggur merah bersama Alex, tidak mendengar jika handphonenya berdering, karena handphonenya mode senyap.
Lea memang kesal dengan Rehan, karena pertemuan mereka batal. Untungnya hari ini, Alex membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Lea sangat senang bisa bermain di rumah kaca dan memetik buah anggur merah, ada banyak buah anggur merah yang sudah matang. Alex dan Lea juga menanam biji bunga mawar putih, jika bunganya sudah tumbuh. Alex berjanji untuk memberikan pada Lea sebagai tanda persahabatan mereka.
"Wah?" buah anggurnya lumayan banyak," ucap Lea, yang begitu senang. Kita juga menanam bunga mawar putih, warna putih favorit aku.
"Alex tersenyum manis dan menoleh ke samping Lea. Sayangnya cuma ada limi biji ya, ucap Alex. Semoga aja, bisa tumbuh semua.
"Lea menganggukkan kepalanya dan berkata," iya, bisa tumbuh satu aja udah beruntung banget. Menanam bunga mawar kan, agak sulit. Janji ya, kalau ada yang tumbuh kasih ke aku bunganya.
"Iya, bawel?"
Lea yang sudah sampai di rumah Alex, berpamitan pada Sofi dan Hendra. Alex juga menyuruh mbaknya untuk menaruh semua buah anggur merah ke dalam tote bag. Sofi yang tadi membeli pudding ke toko langganannya tidak lupa membelikan pudding rasa leci untuk Lea.
"Makasih Tante, udah repot-repot. Tahu aja, kalau Mama suka pudding rasa leci," ucap Lea dan tersenyum manis ke arah Sofi.
"Tahu dong, sayang?" Tante ini udah lama kenal Laila, pasti tahu makanan favorit Laila" canda Sofi.
__ADS_1
"Ini anggurnya di dalam tas ya," ucap Alex, lalu menaruh buah anggurnya di dalam mobil Lea.
"Loh!" kok, di bawain semua anggurnya. Jangan di bawain semua Alex.
"Nggak apa-apa Lea, di sini udah pada bosan. Jadi mending kamu bawa ya.
"Iya bawa aja sayang, Tante sama Om juga udah bosen," ucap Sofi.
"Makasih loh, Tante.
Pukul tujuh malam, Lea pun sampai di rumahnya. Selesai mandi, ia turun ke bawah untuk mengambil beberapa buah anggur dan di bawa ke kamarnya. Saat Lea membuka handphonenya, ia melihat lima panggilan tak terjawab dari Rehan. Walaupun Lea sedikit kesal pertemuannya dengan Rehan batal, tapi sekarang ia sudah tidak lagi kesal. Baru saja Lea akan menelepon pacarnya, sebuah notifikasi panggilan masuk. Lea langsung mengangkat telepon dari Rehan.
Saat Lea sedang berbicara dengan Rehan, tidak lama kemudian. Laila datang untuk mengetuk pintu kamar anaknya dan akan mengajaknya makan malam bersama. Laila yang akan mengetuk pintu, mendengar Lea berbicara di telepon dengan memanggil nama sayang dan pacar. Laila pun menguping pembicaraan Lea, ia penasaran apakah putrinya sudah mempunyai pacar. Betapa senangnya jika pacar putrinya adalah Alex, namun ketika mendengar Lea menyebut nama Rehan. Laila di buat kaget oleh putrinya, karena selama ini ia tidak tahu jika putrinya mempunyai pacar dan pacarnya bukanlah Alex melainkan Rehan.
"Sayang ini Mama," panggil Laila, sembari mengetuk pintu.
Lea yang sedang asik berbicara di telepon dengan pacarnya, langsung menaruh handphonenya di meja rias dan lupa mematikan panggilan telepon dari Rehan. Ia terkejut tiba-tiba saja, mamanya mengetuk pintu kamarnya. Biasanya Lea selalu mendengar langkah kaki seseorang, yang akan datang ke kamarnya, tapi kali ini ia sama sekali tidak mendengarnya. Lea beranjak dari kasurnya dan bergegas membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa Mama," ucap Lea dengan rasa takut terlukis di wajahnya, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mampus kamu Lea mampus. Gimana ini, Mama dengar aku bicara dengan Rehan nggak ya? Kalau dengar aku harus jawab apa.
"Mama boleh masuk," ucap Laila dengan wajah yang tampak serius.
"Boleh Ma, masuk aja.
Rehan yang mengira Lea akan berbicara dengannya lagi, memilih untuk tidak mematikan panggilan teleponnya dan menunggu Lea, sembari beristirahat di kamarnya.
...****************...
Sedangkan Nadia yang sudah mulai membaik terlihat begitu bahagia. Ia tidak menyangka, Rehan masih sama seperti dulu. Saat Nadia sakit, Rehan selalu ada di sampingnya dan merawatnya. Walaupun sekarang Rehan sudah mempunyai pacar, perhatiannya masih sama seperti dulu. Meskipun begitu, Nadia menyadari jika perlakuan Rehan tidak lebih hanya sebagai sahabat. Nadia tidak mau berharap lebih, Rehan selalu ada di sampingnya saja sudah membuatnya bahagia. Jika ada waktu luang. Nadia ingin bertemu dengan pacar Rehan dan berteman dengannya.
__ADS_1