Sahabatku Berkhianat

Sahabatku Berkhianat
Nadia kesal


__ADS_3

Selamat membaca 🧡.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebenarnya kenapa, Alex terlihat seperti nggak suka sama Nadia. Bilang namanya saja Alex seketika jadi dingin, wajah yang menyeramkan. Padahal aku mau deketin mereka berdua tapi kenapa jadi begini pikirku.


"Eh Lea, kapan kamu main lagi di rumah kaca" tanya alex yang baru turun dari mobilnya.


"Hem?" Gimana kalau hari Minggu," jawab Lea dengan penuh semangat.


"Baiklah, kalau ke sana biar aku yang jemput kamu.


"Lea menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Sebenarnya aku pengen bawa buku novel, tapi kalau Alex nggak suka gimana, sudahlah yang penting kan aku bisa main ke rumah kaca lagi batin Lea.


Ketika Nadia baru saja tiba di sekolah sambil membawa beberapa kue yang akan ia berikan ke teman-temannya, langkahnya terhenti karena melihat Lea dan Alex tepat di depan matanya berjalan bersama sambil bercanda. Nadia menarik bibir bawah di antara giginya, wajahnya tampak begitu sangat kesal.


Seharusnya aku yang ada di posisi itu, aku sudah lama mengenal Alex terlebih dulu," gumam Nadia. Nggak apa-apa Nadia, jangan berfikir negatif bukankah lebih bagus kalau mereka dekat, dengan begitu Lea bisa membantuku buat deketin aku sama Alex batin Nadia. Ia pun menghela nafas panjang mencoba untuk menenangkan dirinya. Kemudian mengikuti mereka berdua, memanggil mereka kemudian melambaikan tangannya.


Mereka yang sedang asik bercanda menoleh ke belakang. Lea pun berlari menghampiri sahabatnya, dan tersenyum manis kemudian berjalan bersama menyusul Alex. Tapi Alex yang tidak suka dengan kehadiran Nadia langsung tersenyum sinis. Baru saja Lea dan Nadia sampai, tiba-tiba saja Alex berpamitan ke Lea untuk pergi duluan ke kantin untuk menyusul teman-temannya. Nadia langsung mengernyitkan dahi melihat Alex yang selalu saja menghindar darinya, tapi karena Lea langsung menatap ke arahnya dia mencoba untuk kembali tersenyum sedikit supaya tidak membuat Lea khawatir.


Alasan kenapa Alex selalu menghindari Nadia, karena ia risih Nadia selalu saja mencoba mencari perhatian. Padahal Alex tidak pernah merespon tapi Nadia selalu saja begitu, Alex juga bukan tipe orang yang mudah akrab dengan siapa pun. Kalau dia sudah tidak suka dia memilih menghindar, dengan wajah yang sangat dingin.


"Kamu nggak apa-apa kan Nad," tanya Lea dengan ragu.


"Santai aja Lea, aku nggak apa-apa kok," jawab Nadia sambil membawa kuenya, Alex dari dulu kan memang gitu.


"Ok, kalau gitu ke kelas yuk!" kataku tersenyum menatap Nadia, kamu bawa apa Nad kok kayak kue.

__ADS_1


"Oh, iya aku lupa astaga!" ini aku bawain kue buat kamu sama ke tiga teman kita, aku bawa tiga kantong plastik masing-masing dapat satu ya" kataku sambil memberikan kue ke Lea.


"Wah?" terima kasih Nadia.


"Sama-sama Lea.


...****************...


Saat ini Lea dan Nadia sudah memasuki kelas. Mereka melihat ke tiga temannya sedang berkumpul kemudian langsung menghampiri teman-temannya, ke tiga temannya dengan kompak menyapa Lea dan Nadia.


"Selamat pagi?" ucap Vivi, Ria dan Fitri.


"Pagi teman-teman," ucap Lea yang sedang menaruh tasnya lalu duduk di samping Fitri.


"Ini buat kalian, satu-satu ya?" ucap Nadia sambil membagikan kuenya.


"Lagian kamu emang kebiasaan suka telat molor terus sih!" ucap Ria tertawa lebar meledek Vivi, terima kasih ya Nadia kuenya.


"Eh, iya lupa, terima kasih juga ya Nad kuenya" celetuk Vivi.


"Terima kasih Nadia," ucap Fitri yang sedang makan kue pemberian Nadia, kemudian menawarkan kue ke Lea. Ayo, makan bareng Lea.


"Nggak ah," udah kenyang tadi Nadia juga ngasih Lea kue kok.


"Sama-sama," ucap Nadia yang sangat senang melihat teman-temannya memakan kue darinya dengan sangat lahap.


"Kita bikin grub chat yuk, jadi kalau mau hangout bareng langsung rapat jadi satu" ucap Ria sambil makan kue lupis.

__ADS_1


Mereka sangat setuju saat itu juga sahabat Lea bertambah tiga orang. Lea sangat bahagia bisa di kelilingi sahabat yang baik seperti mereka.


Jam dinding menunjukkan pukul delapan, Semua murid memasuki ruang kelas masing-masing. Nadia kembali ke tempat duduknya bersama Vivi, sebelumnya memang Vivi yang duduk bersama Nadia namun waktu itu Vivi tidak masuk karena sakit. Lea pun duduk bersama Fitri, sedangkan Ria duduk bersama teman kelas lain.


Ria yang duduk paling depan, langsung berhadapan di depan meja guru bergegas mengambil remote untuk menyalakan AC.


Ya, tempat sekolah mereka adalah sekolah internasional, setiap kelas masing-masing sudah terpasang AC. Bahkan kantinnya sangat luas makanannya sangat enak tempatnya juga higienis, walau setiap hari berganti menu rasanya tidak kalah dengan makanan di restaurant. Sekolahnya juga banyak di lengkapi berbagai fasilitas, tidak heran jika biaya sekolahnya sangat mahal.


Alex bersama teman-temannya juga memasuki kelas.


"Fitri yang duduk di samping Lea berbisik,


mereka benar-benar seperti pangeran yang sedang memasuki istana.


"Lea tersenyum tipis mendengar bisikan Fitri, menurut kamu siapa yang paling tampan," ucap Lea dengan suara lirih.


"Bagaimana aku bisa memilih mereka tampan semua," celetuk Fitri sambil menahan tawa.


"Gimana sama kamu Lea, menurut kamu siapa di antara mereka yang paling tampan.


Belum sempat Lea menjawab pertanyaan Fitri, ibu guru sudah datang lalu menutup pintu kelas setelah itu jam pelajaran pun di mulai.


Memang di kelas Alex dan teman-temannya terkenal paling tampan itu sebabnya gadis-gadis di kelas Lea banyak yang mengagumi mereka. Sayangnya Riko, Noval dan Fauzan memiliki sifat yang hampir mirip dengan Alex yaitu sama-sama tertutup, setidaknya mereka masih bisa tersenyum tidak pelit seperti Alex yang senyumnya irit.


Saat ibu guru yang sedang menjelaskan pelajaran, Lea menatap Alex yang duduk paling belakang di sebelah kiri dari tempat duduknya. Alex terlihat serius berbicara dengan Noval, Alex yang sadar Lea sedang menatapnya langsung menggodanya dengan mengedipkan mata kanannya sambil tersenyum tipis. Lea tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya melihat Alex menjahilinya, Lea pun kembali fokus belajar mendengarkan gurunya yang sedang menjelaskan pelajaran.


Nadia yang duduk paling belakang di sebelah kiri dari tempat duduk Lea, melirik mereka dengan tatapan sinis sambil menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir, kenapa Lea bisa akrab dengan Alex. Padahal mereka baru bertemu, selama mengenal Alex. Nadia tidak pernah melihat Alex tersenyum. Menyapanya saja, Alex tidak pernah. Ia sampai tidak fokus belajar, karena kesal melihat Lea begitu akrab dengan Alex. padahal sudah lama ia memendam perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2