
Selamat membaca 🧡.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makan malam pun tiba, kami semua sangat menikmati semua hidangan. Teman Alex juga terlihat datang di ulang tahun Om Hendra, karna memang orang tua Riko, Noval dan Fauzan masih kerabatnya Om Hendra. Lea dan teman-teman Alex juga sudah berkenalan, saat Lea baru tiba di rumah Om Hendra.
Alex kamu ajak Lea keliling halaman dong, di sana banyak sekali koleksi tanaman bunga-bunga yang cantik. Kita yang tua mau ngobrol masalah pekerjaan dulu," ucap Sofi sambil berbisik di sebelah anaknya, Alex hanya melirik ke arah maminya dan tersenyum miring karena sangat malu.
Sofi yang menunggu putranya tak kunjung bicara agar mengajak Lea ke taman kecil, dengan semangatnya Sofi langsung bicara ke Lea mewakili anaknya yang masih malu.
"Oh ia, Tante suka sekali koleksi berbagai jenis tanaman bunga. Kalian nggak mau keliling untuk melihat lihat, di sana juga ada rumah kaca kami menyebutnya taman kecil kalian bisa ngobrol biar tambah akrab," ucap Sofi melirik ke arah Alex dan Lea.
"Gimana Lea, apa kamu mau jalan-jalan sebentar," tanyaku dengan ragu.
"Boleh?" kebetulan Lea juga suka bunga.
"Kalian bertiga ikut nggak," tanya Alex sambil mengedipkan mata kanannya seperti memberi isyarat ke teman-temannya.
Saat Riko dan Fauzan mengerti isyarat Alex, yang artinya Alex hanya ingin berjalan berdua saja dengan Lea. Tapi tidak dengan Noval, dia tidak tau dan tidak memperhatikan isyarat yang di berikan Alex karena sedang makan kue.
"Tentu saja kita i----" (terpotong karena tiba-tiba kaki Noval di injak oleh Rio).
"Iya kita mau keluar nonton bioskop," ucap Rio dengan cepat.
"Noval yang kebingungan langsung menganggukkan kepalanya, dan terlihat kaget.
"Fauzan hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan mereka.
"Kamu tinggal saja Alex, habis ini kita mau pergi kata Fauzan.
Baiklah, Alex terlihat sangat lega karena akhirnya teman-temannya tidak ikut. Setelah itu Alex dan Lea berjalan bersama menuju halaman. Lea sangat terkejut karena ternyata, di belakang rumah Alex sangat luas. Banyak bunga bermekaran, dan Lea melihat bunga mawar putih.
"Bunga mawar putih ini sangat harum sekali.
"Apa kamu menyukainya," tanyaku dengan lembut.
"Tentu saja selain harum warna putih warna favorit aku.
"Aku akan memetiknya.
"Jangan Alex tidak perlu, tapi baru saja Lea bilang Alex sudah memetiknya.
"Bagaimana kalau Tante Sofi tau dia pasti memarahi mu.
"Tenang aja Lea, sebelum kesini Mami sudah bilang, Jika ada bunga yang kamu suka Mami menyuruhku untuk memetiknya untukmu.
"Jadi begitu, syukurlah," kataku dan bernafas lega.
__ADS_1
"Alex apa kamu ingat, waktu kamu menyapaku di sekolah.
"Ya aku ingat," kenapa Lea.
"Bukankah kamu bilang kita pernah bertemu, memangnya kita pernah bertemu di mana.
"Oh itu, Alex tersenyum lebar mendengar Lea yang membicarakan hal itu.
"Kenapa tertawa," tanyaku dengan serius.
"Ngga apa-apa kok Lea, nggak nyangka aja kamu masih ingat aku pikir kamu sudah lupa.
"Mana mungkin aku lupa, aku penasaran kita pernah bertemu di mana.
"Sebenarnya waktu kamu baru pindah rumah, orang tuaku mengajakku ke rumahmu Lea. Aku tidak sengaja melihat foto kamu bersama perempuan yang sudah tua, saat aku tanya tante Laila dia bilang itu nenek kamu. Orang tuaku juga nanyain kamu, tapi katanya kamu tidur.
"Apa apaan jadi maksud kamu, kita pernah bertemu dan hanya melihatku di foto saja. Lea yang terheran heran merasa tidak percaya dengan ucapan Alex, dari awal bertemu dengannya dia benar-benar penuh kejutan batinku.
"Sudahlah Lea kamu kan udah tau jadi ayo, aku tunjukin buah anggur merah di samping rumah kaca mungkin saja, buahnya sudah matang.
Ternyata saat mereka sampai buah anggurnya masih banyak yang belum matang.
Alex terlihat sangat bahagia bisa bertemu Lea, dan mengajaknya keliling halaman. Entah kenapa Alex ingin lebih mengenal Lea, melihat Lea pertama kali di foto saja sudah membuatnya penasaran. Setelah mengambil buah anggur yang sudah matang mereka pun memasuki rumah kaca.
Lea sangat takjub melihat rumah kaca unik milik Alex.
"Di sinilah tempatku bersantai Lea, aku sering ke sini untuk bermain gitar, aku juga sering ketiduran mungkin karena terlalu nyaman" celetukku.
"Bagaimana kamu tidak nyaman Alex rumah kaca yang mungil ini sangat bagus, di dalam sangat bersih dan ada tempat tidurnya untuk bersantai kalau Lea di sini juga pasti betah.
"Rumah kaca ini cukup untuk dua orang, Alex terlihat serius menunjukkan rumah kacanya yang unik. Bagian luar ada pohon anggur tepatnya di sisi kanan dan kiri, bagian depan banyak pot bunga yang tertata sangat rapi. Bahkan di dalam rumah kacanya juga ada beberapa pot bunga.
"Duduklah Lea, aku akan mencuci anggurnya dulu dan menyalakan lampu di luar juga mulai malam.
Alex terlihat senang bisa mengajak Lea di rumah kaca tempat favoritnya. Karena memang dari dulu Alex tidak memperbolehkan siapa pun masuk ke rumah kaca termasuk temannya, dan ke tiga temannya tidak berani untuk masuk karena mereka tau Alex kalau marah sangat menakutkan.
Bahkan orang tua Alex juga jarang masuk ke tempat ini, karena mereka tau ketika anaknya ingin bersantai menyendiri adalah tempat favoritnya. Tapi untuk Lea, Alex tidak segan mengajaknya ke rumah kaca.
Alex dan Lea sangat menikmati makan anggur merah yang barusan mereka petik.
Walaupun yang matang tidak banyak Lea sangat senang bisa memetik buah anggur secara langsung.
__ADS_1
"Anggurnya sangat manis sekali," kataku sambil mengupas anggur lagi.
"Nanti kalau sudah banyak yang matang, aku antar ke rumah kamu ya.
"Boleh, tapi aku nggak mau ngerepotin loh.
"Ngga kok Lea, lagi pula nanti pasti banyak anggur yang sudah matang. Jadi mending aku anterin ke rumah kamu aja, itu pun kalau kamu ngizinin.
"Tentu saja boleh, nanti kamu kabarin aku kalau mau ke rumah ya.
"Caranya ngabarin kamu gimana, nomor handphone kamu kan aku nggak tau" celetuk Alex.
"Oh iya ya, mereka pun tertawa lebar.
"Ya sudah, mumpung ingat apa aku boleh minta nomor kamu Lea," tanyaku dengan malu.
"Boleh dong.
Saat Lea akan memberikan nomornya ke Alex, ada pesan dari mamanya untuk segera kembali.
"Alex sudah jam tujuh malam ayo kita ke rumah kamu," tanyaku dengan suara lembut. Aku berangkat tadi pukul tiga sore, dan nggak kerasa sekarang sudah pukul tujuh.
"Ya Lea, tunggu ya?" aku mau cuci tangan dulu.
Setelah itu Alex dan Lea keluar dari rumah kaca, dan berjalan menuju rumah Alex. Terdengar bunyi pesan di handphone Alex, saat Alex mau membuka handphone tiba-tiba saja Lea tersandung. Alex yang terkejut, tidak sadar tiba-tiba menarik lengan Lea agar tidak jatuh. Seketika suasana menjadi canggung, Alex segera melepaskan tangannya yang memegang lengan Lea. Mereka terlihat sangat malu, tapi untungnya Alex segera menarik lengan Lea kalau tidak Lea pasti sudah jatuh.
"Kamu nggak apa-apa a Lea apa kakimu sakit" tanya Alex yang sangat khawatir.
"Oh, eh," itu nggak apa-apa kok.
"Kamu kok malah ketawa Lea.
"Lagian kamu terlihat serius sekali, aku nggak apa-apa kok, Lea meyakinkan Alex bahwa dia tidak terluka.
...****************...
"Kalian berdua sudah sampai," ucap Laila dan tersenyum manis ke arah mereka.
"Iya Tante, maaf kalau kita lama," ucap Alex dengan sopan.
"Nggak apa-apa Alex santai saja, kita pamit dulu ya kata Heri ke Om Hendra dan istrinya.
"Kenapa buru buru, ini kan masih jam delapan kurang. Kita mau belanja dulu, biasa lah belanja bulanan," canda Heri.
"Om Hendra Lea pamit ya, dan tidak lupa juga pamit ke tante Sofi.
"Hati-hati ya sayang?" lain kali main ke sini lagi ya," kata Sofi sambil mencium ke dua pipiku.
__ADS_1
Sebenarnya Sofi juga sangat menyukai Lea dan sangat berharap kelak mereka berjodoh. Tapi ia juga tidak ingin memaksa mereka, karena itu hak mereka. Jika kelak tidak berjodoh Sofi juga tidak masalah tapi kalau berjodoh betapa bahagianya Sofi dan suaminya. Begitupun Heri dan Laila jika kelak Lea berjodoh dengan Alex pasti mereka akan sangat bahagia.