
Selamat membaca 🧡.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, saat Lea masih terlelap tubuhnya di tutupi selimut tebal Lea terbangun dari tidurnya, karena suara alarm yang sangat keras. Dengan kondisi mata yang masih sipit sulit untuk di buka, tangannya meraba-raba meja di sebelah kasurnya untuk mengambil handphone lalu mematikan alarm di handphonenya.
Tubuhku sangat lemas aku seperti tidak punya tenaga. Kebiasaan Lea setiap bangun tidur pasti melamun dulu seperti orang linglung Lea memang sangat sulit bangun pagi itulah mengapa Lea selalu bikin alarm sampai tiga kali agar tidak bangun kesiangan. Gimana kalau tidur sebentar saja lagi pula tadi masih alarm ke satu yang bunyi, masih ada dua alarm lagi mari melanjutkan tidur lagi. Akhirnya Lea melanjutkan tidurnya lagi.
...****************...
Berbeda dengan Nadia dia tidak pernah sulit bangun di pagi hari karena memang sudah terbiasa bangun pagi. Setiap jam lima sebelum matahari terbit Anisa dan anaknya selalu pergi untuk membeli kue di langganan mereka.
Nadia yang sudah siap berjalan ke kamar ibunya membuka pintu perlahan, dan melihat ibunya baru bangu tidur.
"Ibu?" ucap Nadia dengan suara lembutnya lalu memeluk ibunya dari belakang.
"Anisa tersenyum manis menoleh ke arah anaknya, udah bangun putri cantik ibu nih.
"Ibu, tumben baru bangun, padahal Nadia udah siap," kataku dengan raut wajah cemberut.
"Iya nih, tadi malam Ibu pulang larut malam karena masih sibuk di resto.
"Hem?" pantas saja Nadia telfon ibu nggak di angkat-angkat, kalau gitu Nadia tunggu di sini ya bu.
"Iya sayang, ibu cuci muka dulu sebentar lalu kita beli kue basah.
Seperti rutinitas yang wajib dilakukan Nadia sebelum siap-siap ke sekolah Nadia selalu membeli kue bersama ibunya. Sesibuk apapun Anisa dia selalu menyempatkan waktu bersama anak tercintanya.
"Pak Arif anterin kita ke kue langganan biasanya ya," ucap Nadia dengan sopan ke sopirnya.
"Baik neng," ucap pak Arif yang baru selesai mengelap mobil majikannya.
"Mbak Yesi sama mbak Yanti kemana pak, kok motornya nggak ada," tanya Nadia.
"Pak Arif menjawab," mereka ke pasar Neng baru aja berangkat.
__ADS_1
"Oh, gitu?" kataku dengan suara lirih.
"Oh, ya ibu!" nanti aku beliin kue buat ke empat temanku boleh kan.
"Tentu boleh dong?" tunggu, kok empat, teman kamu yang biasanya ke rumah kan tiga Vivi, Ria sama Fitri satunya siapa.
Nama tamanku satunya Lea Bu, dia murid pindahan dari jakarta awal bertemu Lea dia sangat cuek dan tidak banyak bicara, tapi setelah dua bulan mengenalnya kami sudah mulai akrab ternyata Lea sangat baik. Nadia juga pernah main ke rumahnya waktu itu pulang sekolah Lea belum di jemput sama mamanya, jadi Nadia yang nganter deh.
"Bener banget buk Anisa, saya sampai ketiduran di mobil nungguin neng Nadia lama?" sekali, nggak turun turun," celetuk pak Arif sambil tertawa.
"Nadia dan ibunya tertawa keras mendengar ucapan sopirnya.
"Yee?" tapi kan enak Nadia lama main di rumah Lea, jadi pak Arif kan bisa istirahat" kataku meledek sopirnya.
"Nanti ibu ke resto malam kamu ajak Lea main ke rumah ya, sepulang sekolah.
"Siap, Ibu.
Sampai juga Nadia dan ibunya langsung menghampiri langganan kue mereka, karena baru buka jadi masih banyak sekali macam-macam kue basah.
...****************...
"Non, non?" Non Lea udah bangun belum?" ucap Bibi sambil mengetuk pintu perlahan.
"Lea membuka pintu dengan rambutnya yang masih berantakan, udah bangun kok Bi, ini mau ke kamar mandi.
"Aduh duh?" Non Lea walaupun rambutnya berantakan tetap terlihat seperti bayi kucing. Ya sudah kalau non Lea sudah bangun saya mau nyiapin sarapan dulu sama nyonya non.
"Ok Bibi," kataku tersenyum sedikit.
Lea kembali masuk ke kamarnya dan bersiap-siap.
Sudah selesai tinggal turun ke bawah untuk sarapan, betapa terkejutnya Lea yang sedang asik bernyanyi dengan suara lirih, begitu bersemangat mendadak langsung diam dan melihat ke arah ruang makan dengan mata lebar.
"Sayang, sini ngapain bengong," ucap Heri memanggil anaknya.
__ADS_1
"Baru aja Mama mau ke kamar kamu mau bilangin kalau ada Alex ternyata udah turun, ayo sarapan.
"Iya Ma," ucap Lea yang masih tidak percaya dengan kedatangan Alex.
"Pagi Lea," ucap Alex tersenyum manis di samping Lea.
"Kamu kok nggak telfon kalau mau ke sini" ucap Lea dengan suara lembutnya.
"Tadi aku telfon kamu, mau ngajakin berangkat sekolah bareng tapi nomor kamu nggak aktif.
Lea langsung mengambil handphone di tasnya, benar saja tidak ada panggilan ternyata masih mode pesawat.
Setelah sarapan kami sibuk dengan aktivitas masing-masing, Heri yang pamit ke kantor lebih dulu, dan Lea bersama Alex pamit juga berangkat ke sekolah.
"Ma?" Lea berangkat ya," kataku sambil mencium tangan Mama.
"Hati-hati ya sayang, Alex Tante nitip Lea ya.
"Lea menggelengkan kepalanya mendengar mamanya bilang begitu, Lea udah besar loh ma jangan bikin Lea malu dong.
"Alex tersenyum manis melihat tingkah lucu Lea yang seperti anak kucing, dan mencium tangan Laila, ia Tante tenang aja kita pamit dulu tante.
...****************...
Aku benar-benar nggak nyangka Alex menjemput ku padahal dia terkenal cuek aku sangat senang dia rela pagi-pagi ke rumah, seperti mempunyai kakak laki-laki yang mengajak adiknya berangkat sekolah bersama, ternyata Alex tidak seperti yang Nadia bilang. Lea, kenapa dari tadi kamu diam aja apa kamu nggak seneng aku jemput ya tanya Alex, maaf kalau gitu aku janji lain kali kalau mau jemput kamu harus izin kamu dulu.
"Eh, nggak kok" jawab Lea sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Justru sebaliknya aku seneng banget kamu jemput, cuman kenapa kamu baik sama aku dan kamu juga nggak cuek. Padahal kamu kan di sekolah terkenal sangat cuek dan nggak pernah ngobrol sama teman kelas kita, kecuali sama ke tiga teman kamu" celetuk Lea yang sedikit ragu bilang begitu ke Alex.
"Aku pikir kamu nggak suka aku jemput, siapa yang bilang begitu sama kamu Lea, pasti Nadia ya.
"Nggak kok bukan Nadia, Lea mencoba meyakinkan Alex.
"Tapi Alex sudah menduganya siapa lagi kalau buka Nadia, sepertinya kamu akrab sekali sama dia aku harap kamu berhati-hati berteman sama Nadia.
"Kamu serius sekali," Lea tersenyum menampilkan gigi rapinya dan tidak percaya alex bicara seperti itu, memangnya kenapa sama Nadia Lea meledek Alex karena raut wajahnya sangat dingin ketika membicarakan tentang Nadia.
__ADS_1
"Sudahlah tidak perlu membicarakan hal yang nggak penting, intinya sebagai teman yang baik aku nasehati kamu agar lebih berhati-hati berteman sama Nadia jangan terlalu terbuka dengannya. Bisa saja orang yang sangat kamu percaya, suatu saat bisa jadi musuh.