Sahabatku Berkhianat

Sahabatku Berkhianat
Kesedihan Nadia


__ADS_3

Selamat membaca 🧡.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa, Rehan selalu memanjakan Lea. Dari membeli tiket, bayar makan sampai membeli cemilan yang lain. Semua Rehan yang membayarnya, ia tidak memperbolehkan Lea mengeluarkan uangnya. Baginya, sudah sepantasnya Rehan yang mengeluarkan uang untuk pacarnya. Mereka pun akan segera sampai di parkiran, dan akan berpencar.


"Terima kasih Rehan, hari ini udah bikin aku senang. Lain kali kalau kita jalan lagi gantian aku yang bayarin ya, jangan kamu terus. Aku kan juga pengen bayarin juga" ucap Lea, lalu tersenyum manis ke arah Rehan.


"Ok deh, jangan panggil Rehan dong?" kita kan udah jadian" goda Rehan. Panggil sayang aja ya, biar aku makin semangat kalau kerja.


"Lea menganggukkan kepalanya, dan tersenyum malu. Iya deh iya, sayang," ucapnya.


"Nah gitu dong, sayangnya aku?" Rehan tersenyum lebar, dan mengelus pucuk kepala Lea. Maaf ya hari ini kita pulangnya sendiri-sendiri, tapi kalau kita keluar lagi aku yang jemput kamu. itu pun kalau kamu mau keluar pakai sepeda motor aku.


"Tentu aja mau dong, kenapa emangnya. Motor kamu bagus kok, kalau pun motornya jelek juga kenapa. Aku suka loh naik sepeda motor, jangan bilang gitu lagi ya. Untuk sekarang, kalau kita keluar lagi mending gini aja dulu Rehan. Tunggu aku lulus sekolah aku akan ceritain kamu ke papa sama mama ya, aku janji aku pasti cerita ke orang tuaku kalau udah lulus sekolah. Mereka pernah nasehati aku untuk nggak pacaran dulu, suruh aku fokus belajar. Kalau udah kuliah mereka pasti setuju, lagian kurang satu bulan aku udah lulus.


"Hem?" ok Lea, nggak apa-apa santai aja," ucap Rehan. Mana bisa aku nolak perkataan kamu, walaupun sebenarnya aku keberatan.


"Sudah aku duga, kamu pasti setuju. Terima kasih ya Rehan, eh!" udah sampai. Aku masuk mobil dulu ya, kamu hati-hati di jalan jangan ngebut.


"Iya bawel?" ya udah, aku pergi dulu ya. Dada Lea" pamit Rehan.

__ADS_1


Rehan dan Lea pun terlihat sangat bahagia, karena sudah saling mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Walaupun saat ini Lea tidak bisa menceritakan kepada orang tuanya. Rehan tetap sabar menunggu, ia juga tidak mau membuat Lea banyak pikiran. Lagi pula satu bulan adalah waktu yang tidak lama. Rehan percaya kepada kekasihnya, ia juga akan bekerja dengan giat untuk mengumpulkan uang yang banyak. Agar tabungan miliknya bisa bertambah, untuk masa depannya bersama Lea.


Saat Rehan masih tinggal di Malang, ia memang menyisihkan gajinya untuk di berikan kepada orang tuanya. Akan tetapi, orang tuanya menolak. Hamzah dan Ayu tidak ingin menerima uang pemberian dari Rehan, karena mereka juga sudah bekerja. Mereka tidak ingin menyusahkan anaknya, dan menyuruh Rehan untuk menaruh uangnya di bank saja. Untuk tabungan masa depannya bersama pasangannya kelak.


Saat di perjalanan menuju pulang, Lea berkata kepada sopirnya. Untuk tidak memberi tahu orang tuanya, bahwa ia sudah keluar bersama laki-laki. Lea belum siap memberi tahu orang tuanya, ia akan memberi tahu ketika lulus sekolah saja. Walaupun sebenarnya ia tahu, pasti orang tuanya tidak akan setuju. Jika ia berpacaran dengan laki-laki, yang berasal dari keluarga sederhana. Tapi Lea yakin jika lama kelamaan orang tuanya pasti akan setuju. Ia percaya dengan Rehan, ia yakin Rehan bisa membuatnya bahagia.


Untung saja Pak Bagas menuruti permohonan Lea, ia berjanji untuk tidak memberi tahu ke dua majikannya. Ia juga menasehati Lea, untuk tidak lupa memberi tahu langsung kepada orang tuanya secara baik-baik. Pak Bagas mengerti dengan posisi Lea, dan Lea juga berjanji kepada Pak Bagas. Jika dirinya pasti akan memberi tahu secepatnya kepada orang tuanya. Kali ini Lea bisa bernafas lega, karena sopirnya mengerti dengan posisinya saat ini.


Tepat pukul 10 lebih 20 menit, Lea sudah sampai di rumahnya. Laila yang sedang berada di ruang tamu bersama suaminya, mendengar seseorang membuka pintu rumahnya. Laila tahu jika orang yang membuka pintu rumah adalah Lea. Ia pun bergegas menghampiri anaknya.


"Eh?" sayangnya Mama udah pulang," sapa Laila, dan mengecup ke dua pipi Lea.


"Mama belum tidur," ucap Lea.


"Hem?" nggak deh Ma, Lea mau istirahat aja. Lagian tadi udah makan masih kenyang.


"Ya udah, nggak apa-apa. Kamu sapa dulu gih, Papa kamu. Tadi Papa nanyain kamu tuh, katanya kangen," goda Laila.


"Aku udah gede ma?" kayak lama nggak pernah ketemu aja.


"Bercanda sayang, bercanda?"

__ADS_1


...****************...


Rehan yang baru saja sampai di rumahnya, terlihat begitu senang. Ia sampai tidak sadar jika di ruang tamu ada Nadia, ia kira hanya ada Ita saja.


"Eh, sorry sorry, aku nggak nggeh ada kamu Nadia. Kalian baru pulang ya, dari mana aja tadi," tanya Rehan.


"Kita nggak kemana-kemana, cuma di rumah kamu dari tadi," jawab Nadia. Ita lagi datang bulan perutnya sakit katanya.


"Oh, gitu?" ibu sama ayah mana dek, kok nggak kelihatan.


"Udah pada tidur kak" ucap Ita, kak Rehan chatan sama siapa. Senyum-senyum sendiri, siapa sih lihat," goda Ita.


"Iya nih, bikin penasaran aja, sampai kita di sini di cuekin," sahut Nadia.


"Sebenarnya tadi aku keluar sama temen cewek aku Nadia, aku udah lama suka sama dia. Tadi aku beranikan diri, aku bilang kalau aku suka sama dia. Ternyata dia juga suka sama aku, jadi sekarang kita jadian.


"Apa!" jadi sekarang kakak punya pacar, mana lihat fotonya. Cantik nggak, aku penasaran nih," ucap Ita.


"Udah malam nih, aku pulang dulu ya," pamit Nadia. Ia sangat sedih, karena Rehan sudah mempunyai pacar. Padahal Nadia berencana akan mengutarakan perasaannya selama ini, tapi semuanya sia-sia. Ia berusaha menahan tangisannya. Untungnya Yanti sudah datang menjemput dirinya.


"Hati-hati ya Nadia," ucap Rehan, dan tersenyum manis. Besok kita jadi kan, mau keluar kemana kita besok," tanya Rehan.

__ADS_1


"Lihat besok aja ya Rehan, aku buru-buru nih. Ibuku sudah pulang soalnya, udah dulu ya dada.


Perasaan Nadia benar-benar sangat hancur. Sesampainya di rumah, ia langsung bergegas masuk dan mengunci pintu kamarnya. Ia berbohong kepada Rehan, jika sebenarnya ibunya masih belum pulang. Kusambut malam ini dengan diam, duduk di sudut keheningan. Merenungi tentang sejauh apa aku berlari. Air mata ini tidak berhenti menetes. Hatiku rapuh tersentuh luka lara. Sakit yang sangat mendalam. Bagaikan pisau menggoreskan luka.


__ADS_2