Sahabatku Berkhianat

Sahabatku Berkhianat
Bercerita


__ADS_3

Selamat membaca 🧡.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eh Nadia, kamu kenal teman satu kelas kita nggak namanya Alex," tanya Lea.


"Ya tau dong?" memangnya kenapa," jawab Nadia.


"Waktu di sekolah Alex tiba-tiba menemui ku kemudian kita berkenalan, tapi dia bikin aku penasaran karna dia bilang kita pernah bertemu.


"Sebenarnya di sekolah waktu aku dari toilet, aku nggak sengaja melihat kalian berbicara berdua.


"Apa!" terus kenapa kamu nggak nyamperin kita.


"Awalnya mau nyamperin, tapi nggak jadi takut ganggu kalian berdua. Nadia tertawa lebar melihat tingkah lucu Lea, lagipula Nadia malu bertemu Alex.


"Kenapa harus malu, jangan-jangan kamu naksir ya?" Kataku sambil meledek Nadia.


"Iya sih, tapi itu dulu sekarang udah enggak.


"Hah!" jadi kamu beneran suka sama Alex.


"Iya tapi itu dulu, sekarang lebih ke mengagumi saja.


"Kok bisa sih ada cewek secantik kamu suka sama Alex tapi dia malah nggak peka, kalau aku yang jadi Alex aku pasti sudah nerima kamu Nadia," canda Lea.


Nadia ceritain ya Lea, dari masuk SMP kelas satu Alex itu terkenal paling tampan pintar dan cuek. Makanya waktu tidak sengaja melihat kamu sama dia Nadia kaget banget, karena Alex itu nggak pernah ngobrol apalagi naksir sama cewek cewek di sekolah kita. Padahal di kelas kita semua cewek rata-rata suka sama dia, tapi sayangnya dia nggak pernah respon makanya dia di juluki si kulkas. Dingin cuek pokoknya cueknya kebangetan dia juga sangat tertutup senyum saja hanya dengan orang tertentu, dia hanya akrab sama tiga temannya namanya Riko, Noval dan Fauzan mereka juga tampan tapi menurutku lebih tampan Alex. Di antara kita di sekolah Alex terkenal paling kaya, orang tuanya pemilik hotel bintang lima di Surabaya.


"Ya, Lea ingat waktu Alex datang menemui ku ada tiga temannya yang sedang menunggunya walaupun satu kelas aku tidak tau nama tiga temannya itu, karena waktu masuk di sekolah ini aku hanya berkenalan dengan teman-teman gadis saja itupun yang ku ingat hanya Vivi, Fitri dan Ria.


"Ya wajar dong?" kamu kan masuk SMA di sekolah yang baru ini masih dua bulan, tenang aja nanti juga lama-lama pasti ingat nama teman-teman lainnya.

__ADS_1


"Iya sih, Lea menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.


"Astaga!" sudah pukul empat sore Nadia pulang dulu ya, pukul lima aku mau ke restaurant ibuku. Hari ini karyawan gajian biasanya, Nadia yang bagian nyiapin gaji mereka" kataku sambil meminum jus jeruk bikinan bibi dengan tergesa-gesa.


"Memangnya kamu sering membantu ibumu, Lea bergegas membuka pintu kamarnya.


"Hem?" iya dari kecil aku sering di ajak ibu pergi ke restaurannya untuk memantau keadaan di sana, aku mulai suka membantu ibuku. Karyawan di sana juga baik sekali makanya aku betah kalau di restauran, ibuku juga sangat mendukung ku lagipula kelak aku juga yang akan meneruskan usahanya jadi mulai sekarang aku harus belajar membantu ibuku.


"Mama kamu mana Lea" tanyaku.


"Sepertinya mama tidur.


Tak lama kemudian, Laila terlihat turun dari lantai tiga karena kamarnya ada di lantai tiga.


"Tante, Nadia pulang dulu ya," kataku sambil tersenyum manis.


"Iya sayang, hati hati ya?" jangan bosen main ke rumah Lea" ucap Laila sambil mengecup ke dua pipi Nadia.


Terlihat bibi sedang menyiram bunga di halaman, walaupun halaman rumah Lea tidak begitu luas, halamannya sangat cantik ada banyak berbagai macam tanaman sayuran organik yang tertata rapi. Bibi Ida langsung mematikan kran air dan bergegas membuka pintu pagar rumah.


"Baik non.


"Bibi, Nadia pamit ya," kataku sambil membuka pintu kaca mobil.


"Ya non?" Hati hati ya non Nadia.


"Daa?" Lea.


"Lea pun melambaikan tangan dan menutup kembali pintu pagarnya.


"Bibi Ida, ini kan sudah hampir jam istirahat kenapa belum masuk" ucap Lea lalu berjalan ke arah bibi.

__ADS_1


"Iya non ini udah mau masuk, laper mau makan juga non Lea.


"Ya sudah, Bibi makan dulu setelah itu istirahat pokoknya harus istirahat. Ini ada sedikit uang Bibi simpan ya buat beli cemilan.


"Nggak gak non jangan. non Lea sama Nyonya sudah sering ngasih Bibi uang lebihan.


"Nggak apa-apa Bibi kan udah ngerawat Lea dari kecil, bibi udah Lea anggap seperti keluarga sendiri.


Lea pun memaksa dengan suara lembutnya dan memberikan uang pemberian darinya.


"Terimakasih non Lea, selama Bibi bekerja di sini non Lea, nyonya sama bapak selalu baik.


"Iya sama-sama," kataku sambil memeluk bibinya.


"Ya sudah, Lea ke kamar dulu ya.


Bibi Ida yang selesai menyiram tanaman berjalan ke dapur untuk mengambil makanan. Saat sudah sampai di dapur, seketika bibi kaget melihat majikannya, yang sedang mengupas buah di meja makan sambil memakai masker wajah.


"Astaghfirullah!" ya rabbi!" kirain siapa nyonya bikin saya kaget," ucap Bibi sambil mengelus dadanya.


Laila tertawa keras melihat bibi yang sangat terkejut, karena Laila sedang memakai masker wajah, wajar saja bibi terlihat begitu terkejut.


"Lagian Bibi mau ngapain ini kan jam istirahat nggak tidur, nanti Lea ngomel loh kalau Bibi nggak istirahat. Dari kecil Lea selalu perhatian sama Bibi, apalagi kalau Bibi sakit Lea pasti nangis terus, karena bagi Lea Bibi Ida adalah nenek ke dua baginya.


"Iya nyonya ini mau makan dulu, tadi belum sarapan.


"Apa!" Laila terlihat marah. Kenapa Bibi nggak sarapan kalau Lea tau pasti marah, ayo Bibi kita makan bareng saya juga belom makan," ucap Laila.


"Bibi makan di kamar aja nyonya, masak saya makan bareng majikan. Lagian, saya sudah biasa makan di kamar nyonya.


Laila pun tertawa lebar, lalu meledek Bibi Ida.

__ADS_1


"Kita ini kan sering makan bareng, tapi kenapa Bibi masih malu sih. Saya ini, sudah menganggap Bibi seperti ibu saya sendiri. Begitu juga, suami sama anak saya. Mereka sudah menganggap Bibi, seperti keluarga sendiri. Jadi jangan bilang gitu lagi ya.


Laila pun menarik perlahan tangan bibi, dan menarik kursi untuk menyuruh bibi duduk. Bibi tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya mereka makan bersama.


__ADS_2