Sahabatku Berkhianat

Sahabatku Berkhianat
Kenangan


__ADS_3

Hari ini, Alex berniat untuk menyendiri di dalam rumah kaca seharian. Dari dulu, rumah kaca adalah tempat ternyaman untuknya ketika sedang sedih. Alasan kenapa tidak seorang pun boleh memasuki rumah kaca, karena tempat itu begitu banyak kenangan masa kecilnya bersama kakek dan neneknya. Tapi untuk Lea, ia justru senang mengajaknya ke tempat privasinya, karena saat ia melihat Lea wajahnya begitu mirip dengan neneknya. Itulah alasan Alex, tidak ragu mengajak Lea ke rumah kaca.


Sewaktu Alex masih kecil, kakek dan neneknya selalu mengajaknya ke rumah kaca. Mereka selalu menemani Alex bermain di rumah kaca, ketika orang tuanya sibuk bekerja. Sampai akhirnya, setelah dua minggu kepergian kakeknya, neneknya menyusul kepergian suaminya. Saat usianya menginjak sepuluh tahun, mereka sudah pergi meninggalkan Alex satu persatu. Alex sangat terpukul, karena orang terdekatnya meninggalkan dirinya. Sampai sekarang rumah kaca menjadi tempat favoritnya. Saat ia rindu dengan kakek dan neneknya. Ia akan pergi ke rumah kaca untuk melihat koleksi album foto dirinya bersama mereka, yang tersimpan rapi di meja.


Sejujurnya, Alex menyesal telah membanting handphonenya sampai rusak. Ia benar-benar khilaf, tidak seharusnya emosi membuatnya sampai seperti itu. Ini pertama kalinya, Alex merusak handphonenya. Belum satu hari, ia sudah rindu dengan Lea. Dalam benaknya saat ini, Lea pasti sudah melupakannya. Padahal jika ia tahu, Lea begitu sangat mengkhawatirkan dirinya, dan akan segera datang ke rumah Alex


Alex yang baru saja selesai mandi, bergegas membawa beberapa snack dan laptopnya. Ia pun sampai di rumah kaca, karena migrannya kambuh lagi Alex langsung tidur kembali. Selesai istirahat ia akan menonton film di laptopnya.


...****************...


Pukul sembilan pagi, Lea yang akan turun untuk sarapan terlihat masih saling membalas pesan dengan Rehan.


Rehan.


Pagi sayang, udah sarapan belum.


^^^Lea.^^^


^^^Pagi Mickey, ini mau sarapan. Nanti pukul satu siang jadi kan ke mall.^^^


Rehan.


Jadi dong? Besok aku kan, udah mulai masuk kerja. Mumpung sekarang, masih santai kita ke mall.


^^^Lea.^^^


Yeay? tapi nanti giliran aku yang bayar ya.


Rehan.


Gimana kalau kita bayar makan patungan aja.


^^^Lea.^^^


^^^Biar aku yang bayar sayang.^^^


Rehan.


Nggak mau, patungan aja ya. Aku nggak mau kamu yang bayar, kalau patungan aku mau.


^^^Lea.^^^


^^^Iya deh iya? aku sarapan dulu ya.^^^


Rehan.


Ok, sayangku.

__ADS_1


Rehan pun beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah dapur untuk sarapan. Sesampainya di dapur, ia melihat ke dua orang tuanya sedang sarapan bersama.


"Masak apa hari ini Ibu," ucap Rehan, lalu melirik meja makan. Ia semakin lapar melihat orang tuanya, yang sedang menikmati sarapan.


"Hari ini, Ibu masak tumis ati ampela sama sayur buncis ada tempe goreng kesukaan kamu juga. Ayo nak, kita makan bareng," ajak Ayu.


"Rehan tersenyum lebar, dan menganggukkan kepalanya, iya Bu. Ibu libur kerjanya," tanya Rehan.


"Ibu masuk pukul sepuluh nak," jawab Ayu. Oh, iya!" nanti kamu sibuk nggak?" kalau nggak sibuk, tolong kamu jenguk Nadia ya, katanya Nadia sakit.


"Loh!" sakit apa Bu, tadi malam kayak baik-baik aja.


Ibu katanya siapa, Nadia sakit.


"Ibu di kasih tahu Anisa, waktu Ibu beli kue basah. Tadi Ibu bertemu Anisa di sana, dia buru-buru belinya. Kamu jenguk Nadia ya, ibu kan kerja.


"Ya udah, pukul satu aku ke sana Bu.


Rehan berniat menjenguk Nadia di jam yang sama dengan pertemuannya dengan Lea, agar sekalian keluar. Pukul satu siang, Rehan sampai di rumah Nadia. Ia membawakan roti isi coklat dan buah apel kesukaan Nadia.


"Permisi," panggil Rehan sembari memencet bel rumah Nadia.


Yanti yang sedang membersihkan halaman depan rumah majikannya, bergegas membukakan pintu pagar.


"Eh, ada Mas Rehan, mau jenguk Neng Nadia ya," celetuk Yanti.


"Neng Nadia, masih demam Mas Rehan. Tadi, temennya Ibu Anisa sudah kesini buat meriksa Neng Nadia mas.


"Oh?" temennya tante, yang Dokter itu ya.


"Iya mas, yang biasanya ke sini.


"Permisi Ibu Anisa," panggil Yanti, sembari mengetuk pintu kamar Nadia dengan pelan.


"Iya mbak ada apa," ucap Anisa, sembari membukakan pintu. Eh, ada Rehan, ayo masuk. Kebetulan, Nadia belum tidur. Dari tadi nggak bisa tidur katanya.


"Halo, Tante," sapa Rehan. Ini Tante, buat Nadia.


"Ngapain bawa-bawa segala sih?" nggak perlu repot-repot Rehan, kamu jenguk aja Tante sudah senang sekali," ucap Anisa.


"Duduk sini Rehan, kamu kok tahu aku sakit" ucap Nadia dengan suara lembut. Aku nggak nyangka, kamu masih peduli sama aku Rehan. Jelas-jelas kamu sudah mempunyai pacar, tapi kamu masih memberi harapan buat aku. Apa kamu nggak sedikit pun, ada rasa suka sama aku.


"Hei, kok diam sih. Lagi mikirin apa Nadia," ucap Rehan.


"Nggak ada Rehan, nggak mikirin apa-apa," elak Nadia. Mana mungkin aku ngasih tahu kamu, kalau aku lagi mikirin kamu Rehan.


"Nadia sudah makan belum Tante" tanya Rehan.

__ADS_1


"Belum Rehan," jawab Anisa. Nadia nggak mau makan. Padahal, Tante sudah masak bubur barusan.


"Ya udah Tante, biar Rehan suapin Nadia biar mau makan.


"Nggak mau" sahut Nadia, perutku nggak enak ini.


"Makan dikit-dikit Nadia, nanti tambah sakit nggak sembuh-sembuh.


"Ini buburnya, tolong kamu suapin Nadia ya Rehan" pinta Anisa. Kalau gitu, Tante tinggal dulu ya.


"Iya, Tante.


Akhirnya mau tidak mau Nadia harus makan, karena tidak bisa menolak perintah sahabat kecilnya. Rehan yang terlalu fokus merawat Nadia, sampai lupa tidak memberi tahu Lea kalau jam pertemuan mereka maju. Setelah selesai menyuapi Nadia, ia pun berpamitan namun, tiba-tiba saja Nadia menangis. Membuat Rehan semakin tidak tega meninggalkan Nadia.


"Kamu mau kemana Rehan," ucap Nadia, sembari memegang tangan Rehan. Tolong jangan kemana-mana, untuk hari ini aja Rehan.


"Udah pukul dua lebih 40 menit Nadia, aku mau pamit pulang ya. Nanti malam aku kesini lagi," ucapnya meyakinkan Nadia.


"Tapi aku nggak bisa tidur, tolong temani aku sebentar aja aku mohon.


Tak lama kemudian, handphone milik Rehan berdering. Rehan yang melihat Lea sedang menelponnya, langsung mengangkatnya dengan perasaan bersalahnya.


Rehan.


Halo, sayang.


^^^Lea.^^^


^^^Halo, Mickey. Kamu kemana aja, dari tadi aku ngirim pesan ke kamu, kenapa nggak ada balasan. Satu jam lebih aku nungguin kamu Mickey. Dari tadi aku udah siap tinggal berangkat, kamu malah nggak ada kabar.^^^


Rehan.


Maaf sayang, aku nggak sempet balas pesan kamu. Maaf banget ya, jangan ngambek dong? nanti malam aja gimana, sekarang aku benar-benar nggak bisa ketemu sama kamu.


Lea.


Kalau emang nggak bisa, harusnya kamu balas pesan aku atau telpon Mickey. Lain kali jangan di ulangi lagi loh.


^^^Rehan.^^^


^^^Iya, aku janji nggak akan ulangi lagi. Jadi, aku di maafin nih.^^^


Lea


Iya, aku maafin. Ya udah, kalau gitu.


Rehan terpaksa membatalkan janjinya bersama Lea, karena ia tidak bisa menolak permintaan Nadia. Rehan tidak bisa jika meninggalkan Nadia, yang sedang membutuhkan dirinya. Ia akan semakin khawatir, jika menolak permintaan sahabatnya. Untungnya, Lea tidak marah kepadanya. Jika ada waktu luang, ia akan memperkenalkan sahabat kecilnya kepada Lea. Agar mereka bisa saling mengenal.

__ADS_1


Lea pun memutuskan untuk pergi ke rumah Alex, karena pertemuannya dengan Rehan batal. Setidaknya, ia bisa mengunjungi rumah Alex. Ia benar-benar sangat khawatir dengan Alex, yang dari kemarin malam tidak ada kabar. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya, dan bergegas turun ke bawah untuk berangkat ke rumah Alex.


__ADS_2