
"Papa belum tidur," ucap Lea seraya memeluk Heri dari belakang.
"Heri menoleh ke samping, lalu tersenyum manis. Belum sayang, Papa belum ngantuk nggak bisa tidur laper. Lea udah makan," tanya Heri dengan suara lembut.
"Udah Pa, tapi lihat Papa makan jadi pengen di suapin.
"Manja sekali putri Papa, tadi kamu keluar sama siapa," ucapnya sambil menyuapi Lea.
"Keluar sama Fitri Pa, ya udah, Lea mau masuk kamar dulu ya," pamit Lea. Lebih baik aku cepat masuk ke kamar, dari pada Papa sama Mama memberiku banyak pertanyaan.
Akhirnya Lea bisa menghindari orang tuanya, ia pun menjatuhkan tubuhnya di kasur, lalu meluruskan ke dua tangannya dan kakinya.
10 menit kemudian, Lea beranjak bangun untuk mengganti bajunya. Setelah mencuci muka, dan memakai baju tidur. Lea duduk di kasur, lalu bersandar di headbord. Kemudian duduk bersila, dan menaruh bantal di atas pahanya. Ia pun membuka salah satu media sosialnya, dan mengunggah foto mengaitkan satu jari tangannya ke jari tangan Rehan, dengan menuliskan caption.
...You are special to me....
Lea sengaja tidak mengunggah foto wajahnya dan wajah Rehan, karena ia ingin membuat teman-temannya penasaran. Ia sangat suka menjahili teman-temannya, karena mereka memang penasaran seperti apa wajah Rehan, yang biasanya Lea panggil dengan sebutan Mickey.
Tiba-tiba saja Lea memikirkan Alex, biasanya dia selalu mengirim pesan padanya. Ia pun berniat untuk mengirimkan pesan kepada Alex, karena ia ingin tahu apa yang sedang di lakukan Alex sekarang.
Alex yang sedang bersantai di kamarnya, sembari membuka salah satu media sosialnya. Mendapat notifikasi unggahan terbaru Lea, ia pun penasaran apa yang sedang di upload oleh Lea. Awalnya Alex bersikap biasa-biasa saja melihat unggahan Lea, karena itu hanya foto tangan. Ia langsung tertegun ketika melihat isi komentar teman-teman Lea. Mereka berkomentar Lea sudah jadian dengan Mickey, yang lebih membuat dirinya tertegun siapa itu Mickey. Ia pun melihat balasan komentar terbaru dari Lea. Ternyata, Mickey adalah pacar Lea.
Saat handphonenya berbunyi notifikasi pesan. Alex tidak melihatnya, karena begitu sedih. Ia pun membanting handphonenya ke lantai dengan sangat keras, ia tidak peduli dengan handphonenya yang mahal. Perasaannya hancur berkeping-keping, ia sangat terluka. Saat kau tak bisa kumiliki, semua terasa hampa. Rasa perih ini terasa dalam, kenapa kau tak pernah mengerti betapa besar cintaku padamu. Melihatmu bahagia dengan pria lain, membuatku terluka. Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam.
__ADS_1
Akhirnya Alex keluar dari kamarnya, dan pergi ke rumah kaca untuk menyendiri. Sedangkan Lea yang menunggu balasan pesan dari Alex, tidak kunjung menerima balasan. Lea sangat cemas, karena tidak biasanya Alex lama membalas pesannya. Ia pun memilih menunggu, sampai tertidur lelap.
...****************...
Keesokan paginya, Sofi menghampiri kamar anaknya. Ia di buat bingung, karena anaknya tidak ada di kamarnya. Sofi tidak sempat menyapa anaknya tadi malam, karena kelelahan bekerja.
Akhirnya Sofi menghampiri pembantunya yang sedang bersih-bersih, dan menanyakan apakah Alex keluar tadi malam. Ternyata anaknya semalaman tidur di rumah kaca. Lagi-lagi sofi di buat bingung, biasanya jika anaknya tidur di sana. Pasti suasana hatinya sedang tidak baik.
"Sayang, kamu mau kemana. Kayak lagi bingung gitu," tanya Hendra yang baru bangun tidur.
"Eh, Papi sudah bangun. Aku mau ke rumah kaca nyamperin anak kita, katanya dia tidur di sana dari tadi malam Pi," jawab Sofi.
"Loh!" ngapain tidur di sana, lagi mikirin apa sih itu anak. Bukannya senang, kakaknya mau pulang malah galau. Ya udah, mami cepet ke sana gih.
"Biasanya kalau anak kita menyendiri di rumah kaca, dia lagi kangen sama almarhum kakek dan neneknya. Iya, Papi nggak ikut.
"Ok deh, biar Mami yang ke sana.
Sofi bergegas pergi ke dapur, mengambil sarapan yang sudah di siapkan untuk Alex. Sesibuk apapun dirinya, Sofi selalu meluangkan waktu untuk Alex. Meskipun anaknya sudah besar, baginya Alex masih seperti anak kecilnya. Ia pun sampai di rumah kaca, lalu mengetuk pintu. Alex yang masih tidur terlelap, mendengar suara ketukan pintu. Ia beranjak bangun dari kasurnya, dengan kepala yang sangat berat. Ia memang mudah migrain, ketika memikirkan sesuatu.
"Pagi sayang," sapa Sofi sambil mengelus pucuk kepala Alex.
"Mami ngapain ke sini, aku masih ngantuk banget nih," ucap Alex dengan kesal.
"Astaga, baru juga datang Mami sudah mau di usir. Tanpa izin ke anaknya Sofi langsung memasuki rumah kaca, yang lama tidak ia datangi. Sofi langsung membuka gorden yang menutupi rumah kaca.
__ADS_1
"Alex menggelengkan kepalanya, karena maminya memasuki tempat privasinya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak bisa marah kepada maminya.
"Udah, Mami keluar aja aku masih ngantuk ini," protesnya kepada Sofi.
"Sofi tidak mendengarkan ucapan Alex, lalu membuka kotak nasi untuk menyuapi anaknya. Ayo sini duduk Mami suapin, kalau kamu nggak makan Mami nggak mau keluar.
"Iya deh iya?" ucapnya dengan terpaksa, aku cuci muka dulu Mi.
Alex terpaksa menuruti ucapan maminya, agar maminya cepat pergi dari rumah kaca. Setelah mencuci muka, Sofi menyuapi Alex. Ia berbicara dari hati ke hati dengan anaknya.
"Handphone kamu kenapa bisa hancur begitu, pantas saja Mami hubungi kamu nggak aktif" tanya Sofi dengan suara lembut.
"Oh, itu?" tadi malam habis jatuh Mami kok tahu" jawab Alex dan tersenyum kecil.
"Tadi Mami lihat handphone kamu di tempat sampah, yang ada di kamar kamu. Ya sudah, nanti kamu beli handphone baru. Kartu kamu kan, selalu di isikan Papi. Kalau kamu nggak enak badan, biar Mami yang beliin habis ini Mami mau belanja sekalian mampir dulu beli handphone kamu. Nanti Pak Sigit, yang nganter handphone baru kamu ke rumah ya.
"Terserah Mami aja deh," jawabnya singkat. Hari ini, aku mau istirahat di sini Mi. Istirahat di rumah nggak bisa tenang, Mami tahu sendiri aku nggak suka kebisingan.
"Perlu Mami panggilin dokter?" tanya Sofi.
"Nggak usah Mami," jawab Alex. Cuma migran di bawa tidur juga hilang. Lagian stok obatnya masih ada.
"Ok, sayang. Mami keluar dulu kalau gitu.
Setelah melihat anaknya baik-baik saja, dan selesai menyuapi Alex. Sofi pergi ke rumahnya untuk sarapan. Kali ini Alex bisa bernafas lega, karena Maminya sudah pergi. Ia pun menyibukkan diri dengan membersihkan rumah kacanya, dan menyiram tanaman yang ada di pot bunga.
__ADS_1
Selesai bersih-bersih, Alex memetik buah anggur yang sudah merah. Setelah semuanya beres, ia kembali pulang ke rumahnya untuk pergi mandi dan mengambil laptopnya.
Sedangkan Lea yang baru saja bangun tidur langsung mengecek handphonenya. Lea terlihat murung, karena tidak ada balasan pesan dari Alex. Bahkan ia telpon, nomornya tidak aktif dari tadi malam. Lea bingung, tidak biasanya Alex sulit untuk di hubungi. Padahal Lea ingin sekali bermain ke rumah kaca lagi, ia benar-benar bingung harus bagaimana. Lea tidak tahu jika sebenarnya, dialah yang sudah membuat Alex sedih.