
MEMBUKA HATI
Happy reading gengks
Banyak typo
"Annisa" panggil pemuda itu.
"Ma- mas Yudha" cicit Annisa.
Gadis itu terkejut melihat pria yang selalu berlari didalam fikirannya beberapa hari ini kini tiba-tiba muncul dihadapannya bagaikan malaikat penolong.
Yah pemuda itu adalah Yudha, sebenarnya Yudha baru saja melakukan pertemuan dengan seorang gadis direstoran seberang jalan besar itu, seperti biasanya, Nyonya Adhis yang tak lain adalah mamanya memintanya lagi untuk bertemu dengan gadis pilihannya seperti yang sudah -sudah.
Dan saat akan kembali, dirinya tak sengaja menangkap sosok yang selama ini dia rindukan, antara percaya atau tidak Yudha mendekati sosok itu dan ternyata benar bahwa dia adalah gadis yang sangat dirinya cintai.
Namun kondisinya tidak seperti yang dia harapkan, gadisnya sedang menangis pilu karena sang ibu sedang terkapar bersimbah darah.
"Ada apa Nis, apa yang terjadi" tanya Yudha panik.
"Mas, tolong,, tolongin ibu aku mas" pinta Annisa memelas.
Yudha dengan sigap mengangkat tubuh Ibu dari wanita yang menjadi ratu dihatinya, dimasukkannya wanita itu kedalam mobil dan membaringkan diatas pangkuan Annisa, kemudian Yudha ikut masuk dan duduk dibelakang kemudi, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Yudha membawa Annisa dan ibunya segera kerumah sakit terdekat, dikursi belakang Annisa tak hentinya menangis.
"Ibu,, ibu harus kuat demi Nisa bu, jangan tinggalin Nisa" ucap Nisa terisak.
Sedangkan sang ibu hanya terdiam tak membalas ucapan putrinya.
"Kamu yang sabar yah Nis, semua akan baik - baik saja" tutur Yudha mencoba menenangkan.
Sesampainya dirumah sakit, Yudha kembali menggendong Ibu Arini, dengan tergesa-gesa memasuki ruangan gawat darurat.
"Tolong dok, tolong ibu saya" ucap Yudha pada salah satu dokter yang sudah bersiap diruangan UGD.
"Baik Mas, sebaiknya mas dan Mbaknya menunggu didepan, kami akan melakukan yang terbaik" ucap dokter itu sebelum menutup pintu.
__ADS_1
Yudha berbalik, dilihatnya Annisa yang masih menangis, kemudian pemuda itu mendekat dan membawa gadis itu kedalam pelukannya, berharap pelukannya dapat sedikit mengurangi kesedihan Annisa.
Annisa tidak menolak dengan apa yang dilakukan Yudha, gadis itu memang sangat membutuhkan dukungan dari pria itu saat ini, Annisa membalas pelukan Yudha, yang memberinya sedikit ketenangan.
Dua jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruangan dimana ibu Arini ditangani, dokter itu menghela nafas saat melihat wajah gadis yang tak berbeda jauh dengan pasien yang baru saja dia tangani, dari situ dokter bisa menebak bahwa gadis itu adalah putri dari pasien tadi.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Annisa khawatir.
"Ibu nona sudah kami tangani, tapi beliau kehilangan banyak darah, kami sudah berupaya sebisa mungkin, kita hanya bisa menunggu keajaiban" tutur dokter itu.
Seketika kedua kaki Annisa mendadak lemas bagaikan tak bertulang, tubuhnya jatuh merosot karena kakinya seakan tak kuat menahan beban tubuhnya.
Dengan sigap Yudha menopang tubuh gadis itu dan kembali membawanya kedalam pelukannya, memberi support dan kekuatan untuk menghadapi cobaan.
"Mas ibu mas, ibu" hancur sudah pertahanan Annisa, gadis itu sudah tak dapat lagi membendung air matanya yang baru saja kering setengah jam yang lalu, kini air mata yang sudah menganak sungai di kedua pelupuk matanya kembali luruh seiring dengan suara tangis yang pecah, dan rasa hancur yang menusuk kedalam relung hatinya.
Wanita paruh baya yang selalu mendukungnya yang selalu melimpahkan nya kasih sayang, bahkan yang rela dihina sebagai wanita murahan karena mengandungnya tanpa seorang suami yang mendampingi demi memberi kebahagian untuk dirinya kini tengah terkapar tak berdaya diatas pembaringan rumah sakit.
Annisa belum siap jika sang Ibu harus pergi meninggalkannya seorang diri, tidak... dirinya tidak siap.
Annisa tak menjawab, gadis itu hanya mengangguk dalam pelukan Yudha.
Tiga hari berlalu pasca kecelakaan yang dialami Ibu Arini, wanita paruh baya itu sudah sadar sejak kemarin, namun kondisinya belum menunjukkan tanda - tanda kesembuhan.
Selama dirumah sakit, Yudha tak pernah absen menemani gadis pujaannya, walaupun tanpa sepengetahuan mamanya.
Yudha sudah memantapkan hati untuk menyatakan perasaan kepada gadis pujaannya itu, dia tidak sanggup jika selalu melihat wanita yang dia cintai terpuruk dalam kesedihan seorang diri. Menurut Yudha, dengan menjadikan Annisa kekasihnya akan sedikit mengurangi beban dihatinya. Apapun resikonya, bahkan Yudha rela meninggalkan keluarga Pratama demi bisa hidup bahagia dengan Annisa.
"Nis, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" Yudha terlihat gugup saat ingin menyampaikan isi hatinya.
Saat ini keduanya sedang berada di taman rumah sakit tempat Ibu Arini dirawat, setelah tadi Annisa membantu ibunya makan dan memberinya obat, kini Ibu Arini tengah terlelap dipembaringannya, dan Yudha akhirnya memutuskan untuk mengajak Annisa berjalan-jalan sebentar di taman.
"Mas Yudha mau ngomong apa?" tanya Annisa lembut.
"Hmm, akuu... " Yudha tampak semakin gugup saat kedua manik indah milik Annisa menatap kearahnya.
"Ada apa mas? kok jadi gugup"
__ADS_1
Yudha menarik tangan Annisa untuk dia genggam agar dapat mengurangi rasa gugupnya, kemudian dia menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan.
"Nis, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku ingin jadi sandaran kamu untuk segala kesedihan kamu, aku ingin bisa membalut luka dan mengganti seluruh air mata kesedihanmu menjadi air mata kebahagiaan, mau ngga kamu jadi kekasihku" terang Yudha.
Setelah mengeluarkan apa yang selama ini Yudha pendam, perasaannya seketika menjadi lega, seolah semua beban yang menghimpit didadanya terangkat dan menguap entah kemana.
Annisa Terkesiap mendengar ungkapan yang baru saja Yudha lontarkan, gadis itu tak dapat berucap, bibirnya terasa kaku, lidahnya seolah menjadi kelu, ingin sekali rasanya dirinya berlompat dan segera memeluk pria dihadapannya ini, saking bahagianya.
Namun masih ada yang menjadi pengganjal dihatinya, restu sang mama. Sejujurnya Annisa juga menyimpan sedikit rasa untuk Yudha, namun gadis itu cukup tau diri dengan keadaan keluarganya yang tidak sebanding dengan keluarga Yudha.
"Apa mas bercanda dengan aku" tanya Annisa.
"Aku serius Nis, aku sayang sama kamu"
"Aku juga sebenarnya suka sama kamu mas, tapi aku ngga yakin kalo Nyonya Adhis bakalan Terima aku" desis Annisa.
"Kamu jangan khawatir, kita akan meyakinkan mama sama -sama asalkan kamu mau berjuang bersama, kita pasti akan mendapatkan restu mama" tutur Yudha meyakinkan.
Seketika senyum Annisa terbit di bibirnya, gadis itu mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
💕💕💕
Tbc
dukung author yaa
caranya like vote n komen 👍👍👍
jangan lupa tinggalkan jejak👣👣
So klik tanda ❤
Oh ya mampir juga ke karya ku yang lain
See U All 😘😘
__ADS_1