
DIPECAT
Happy reading gengks
Maaf jika banyak typo bertebaran
πππ
Annisa menengadah melihat siapa yang menolongnya, seketika senyum kecil terbit dibibirnya yang sobek dan mengeluarkan darah.
"Mas Yudha"
"Kak Yudha"
Yah, pria itu adalah Yudha, yang menjadi pusat pertengkaran kedua gadis berbeda kasta itu.
Awalnya Yudha ingin menemui Annisa, tapi atensinya tertarik saat tak sengaja mendengar suara gadisnya bersama beberapa suara lainnya ketika melintasi sebuah ruangan.
Awalnya senyum menghiasi bibir Yudha, namun tiba-tiba senyum itu menghilang saat kedua netranya tak sengaja menangkap sosok yang menjadi tujuan utamanya sedang ditampar oleh beberapa orang gadis seusianya.
Rahangnya mengeras, melihat kejadian menyakitkan itu, berjalan menghampiri gadisnya dengan tangan yang sudah mengepal, terlebih disana ada seseorang yang sempat ditemuinya beberapa saat lalu, memenuhi keinginan wanita paruh baya yang telah melahirkannya.
"Apa yang kalian lakukan, hah" hardik Yudha pada ketiga gadis itu, matanya menatap nyalang kearah mereka yang telah menampar Annisa.
Tania dan gengnya gemetar melihat tatapan membunuh dari pria itu, sangat terlihat jelas wajahnya yang memerah karena menahan emosi.
Tania melangkah maju, berniat mendekati Yudha, namun langkahnya terhenti saat kembali mendengar suara Yudha menyuruhnya berhenti.
"Diam disitu Tania, jangan mencoba mendekat atau kau tau akibatnya" pekik Yudha geram.
"Mass" desis Annisa.
Gadis itu memeluk erat tubuh kekasihnya, akibat tamparan yang tadi diterimanya membuat tubuhnya lemas.
"Kamu ngga pa pa sayang?" Yudha mengusap lembut pipi Annisa yang memerah dan sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah, pria itu sangat khawatir, semua terlihat jelas di wajahnya.
"Aku mau pulang" pinta Annisa lirih.
"Iya kita pulang sayang" Yudha langsung menggendong kekasihnya ala bridal style, saat pria itu berbalik hendak meninggalkan tempat itu, langkahnya mendadak terhenti saat mendengar suara Tania.
__ADS_1
"Kak Yudha, aku bisa jelasin semuanya, wanita itu hanya memanfaatkan kak Yudha, dia hanya pura-pura, wanita itu bukanlah yang terbaik buat kak Yudha" ucapnya menghasut.
"Lalu menurutmu, siapa yang terbaik buat aku?" Yudha bertanya tanpa membalikkan tubuhnya.
"Aku, aku yang pantas buat kak Yudha bukan wanita ja*lang itu" tunjuk nya Pada Annisa, dengan penuh emosi.
"Urusan kita belum selesai" ucap Yudha dingin.
Yudha meninggalkan Tania dan gengnya sambil terus menggendong Annisa, pria itu terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan teriakan Tania yang terus memanggil namanya, membuat gadis arogan itu merasa sangat kesal.
Yudha mengantarkan Annisa pulang, gadis itu tertidur disamping Yudha sepanjang perjalanan, mungkin efek rasa sakit dari tamparan Tania atau meu GKIN dia sudah mulai kelelahan dengan takdirnya, entahlah.
ππππ
Tania memasuki rumahnya dengan perasaan yang sangat kesal, pria yang dia kejar selama ini lebih memilih gadis kampungan itu, dari pada dirinya, bahkan setelah mendepak Annisa dari kampus, Yudha tetap saja tak melirik nya.
"Liat aja nanti, akan kubuat kak Yudha bertekuk lutut" gumam Tania.
ππππ
Tiga hari berlalu, Annisa sudah merasa lebih baik hari ini, gadis itu bersiap ke cafe tempatnya bekerja.
Ambil sisi baiknya saja, bukankah jika berhenti kuliah maka biaya hidupnya dan ibu akan sedikit lebih ringan?
Annisa bersiap menuju ke tempat kerjanya, setelah tadi menyuapi sang Ibu seperti biasa dan meminumkan Obatnya.
Annisa melangkah masuk ke cafe dengan senyum yang terkembang dibibirnya, menyapa tiap karyawan seprofesinya, namun seketika langkahnya terhenti saat melihat sosok yang selalu membuatnya ciut.
"Nyonya Adhisty" gumam Annisa pelan.
Sebelumnya, Nyonya Adhisty sudah mendapat kabar terlebih dahulu, bahwa Gadis yang berniat dia jodohkan dengan putra semata wayangnya mendapat penghinaan dari gadis yang berada dihadapannya saat ini.
Yah, Tania datang mengadu kepada Nyonya Adhisty tentang perlakuan Yudha kepadanya tiga hari yang lalu, gadis itu menceritakan bagaimana putra Nyonya Adhisty menghinanya dan merendahkan dirinya hanya karena membela gadis miskin bernama Annisa.
Nyonya Adhisty yang mendengar penuturan Tania menjadi geram, dan bertekad kembali menghancurkan hidup gadis yang dicintai putranya.
Sebelumnya, Nyonya Adhisty dan ayah Tania, Pak Herman, telah sepakat menjodohkan putra putri mereka, namun menurut wanita paruh baya itu, ada seorang gadis yang terus saja menghalangi niatnya, dan beruntungnya Nyonya Adhisty, karena Annisa adalah salah satu mahasiswa Pak Herman, jadi dengan mudah wanita itu bisa mendepak gadis itu dari kampus.
Namun saat ini, Nyonya Adhisty kembali merencanakan niat jahat untuk menyingkirkan Annisa dari kehidupan putranya. Jika mendepaknya dari tempatnya menuntut ilmu tidak membuat gadis itu menghilang dari kehidupan Yudha, maka dia juga akan mendepak Annisa dari cafenya, dengan begitu, Annisa pasti akan sadar bahwa tidak bisa melawan keinginan seorang Nyonya besar, bernama Adhisty.
__ADS_1
Nyonya Adhisty sudah menunggu kedatangan gadis yang membuat putranya tergila-gila sejak tadi, dan saat gadis itu datang, dirinya sudah bersiap menyambutnya dengan tangan yang bersedekap.
Annisa tercekat saat melihat Bosnya berdiri dihadapannya dan menatapnya sinis, dengan susah payah Annisa menelan saliva membasahi tenggorokannya enyah kenapa mendadak terasa kering.
"Wah, Nona Annisa Zahra kirani, kau baru datang?" tanya si Empunya Cafe.
"Ma -maaf Nyonya, sa-say terlambat" ujar Annisa gugup.
Gadis itu tertunduk menatap ujung sepatunya, tidak berani membalas tatapan sang majikan, dia takut jika Nyonya Adhisty akan memecatnya, doa-doa dia dapatkan dalam hati agar ketakutannya tidak terjadi.
"Kau membolos beberpa hari, dan sekarang kau datang seperti tidak terjadi apa-apanya? kau fikir cafe ini milik ayahmu? jangan kau kira telah berhasil meracuni fikiran Yudha, kau bisa seenaknya, ingat kau hanya karyawan disini, jangan banyak tingkah" hardik Nyonya Adhisty.
"Maafkan saya Nyonya"
Hanya kata itu yang terlontar dari bibir mungil Annisa, gadis itu tidak membantah apalagi berniat membela diri, Annisa tau betul bahwa kesalahannya sangat banyak.
"Maaf? kau pikir dengan maafmu kau bisa mengganti kerugian yang dialami cafe ini selama kau membolos" sarkas Nyonya Adhisty.
"Saya tau saya salah Nyonya, tolong jangan pecat saya" mohon Annisa memelas.
"Heh" Nyonya Adhisty tersenyum meremehkan.
"Annisa Zahra Kirani, kau dipecat"
πππ
Tbc
tolong dukung author yaa...
caranya like vote komen dan tinggalkan jejak ππππ£π£π£
Jangan lupa Novel Miss difavoritkan
klik tanda love β€β€β€
Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " Rasa Yang Tersimpan"
See U Allππ
__ADS_1