Sakit Tak Berdarah

Sakit Tak Berdarah
STB - 18


__ADS_3

BERDUKA


Happy reading gengks


Maaf banyak typo


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


"Saya tau saya salah Nyonya, tolong jangan pecat saya" mohon Annisa memelas.


"Heh" Nyonya Adhisty tersenyum meremehkan.


"Annisa Zahra Kirani, kau dipecat" seru Nyonya Adhisty sinis


Annisa mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk, wajahnya pias mendengar kenyataan bahwa dirinya kini telah dipecat.


"Bagaimana ini, jika aku dipecat bagaimana nasib ibu yang membutuhkan banyak biaya? Mas Yudha, kamu dimana?" batin Annisa.


Annisa mematung, menatap nanar kearah si empunya cafe, disebelahnya sudah berdiri Ibu Yuli sebagai asisten Nyonya Adhisty. Airmatanya mulai menggenang dikedua netra hitamnya, dengan sekali kedip sudah dapat dipastikan cairan itu akan meluncur bebas.


"Ta-tapi Nyonya, kenapa saya dipecat?" tanyanya terbata.


"Kenapa? kau tanya kenapa? apa kau tidak sadar dengan statusmu yang mencoba menguasai putraku? mencoba merayunya dengan tipu muslihatmu? kau pikir aku akan tertipu dengan wajah lugu mu itu? Dasar gadis tak tau diri" cibir Nyonya Adhisty.


"Me-merayu? tapi ak- aku tidak by pernah... "ucapannya terpotong sebelum ia sempat melanjutkannya.


"Cukup, aku tidak mau mendengar semua pembelaanmu, pergi dari sini, tinggalkan tempat ini segera" pekik Wanita paruh baya itu, kemudian dia berbalik dan meninggalkan gadis yang yang masih terdiam mematung didepan pintu.


Ibu Yuli sang manager melangkah mendekati Annisa, sejujurnya wanita itu sangat iba melihat keadaan Annisa, apalagi dirinya tau betul masalah ekonomi yang dihadapi gadis itu.


"Maafkan aku Nis, aku tidak bisa berbuat apa-apa" bujuk Ibu Yuli mencoba menenangkan.


Annisa mengusap buliran bening yang membasahi kedua pipinya dengan punggung tangannya, kemudian gadis itu mencoba tersenyum walaupun perasaannya saat ini tak karuan.


"Ngga pa pa Bu Yuli, ini semua memang salah saya, maaf sudah merepotkan bu Yuli selama ini"


Annisa pergi meninggalkan cafe dimana tempatnya selama ini mencari rejeki, gadis itu bingung, kemana lagi dirinya melangkah untuk mencari pekerjaan baru, apalagi saat ini ibunya membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatan.


Annisa melangkah keluar meninggalakan cafe menyusuri jalanan trotoar, langkah demi langkah terasa berat, air matanya tak henti mengalir, fikirannya begitu kalut memikirkan kemana lagi dia menggantungkan hidupnya sekarang? mencari pekerjaan di sebuah kota besar bukanlah hal yang mudah.


πŸ’πŸ’πŸ’


Hari ini Yudha tampak sangat bahagia, dua seminggu yang lalu dirinya berangkat ke kota B untuk memeriksa beberapa cabang cafe n resto milik Ayahnya, Nyonya Adhisty menyuruhnya mengadakan sidak kebeberapa cabang cafe n resto di kota B karena mendengar ada staf disana yang mencoba korupsi.


Yudha menurut saja, walaupun tak dipungkiri bahwa dirinya sangat khawatir dengan Annisa karena peristiwa kemarin dengan Tania dan genknya, tapi mau bagaimana lagi, ini adalah tanggung jawabnya sebagai calon penerus keluarga pratama.

__ADS_1


Nyonya Adhisty sengaja mengirim putranya agar dia bebas melancarkan aksinya, tentu saja alasan staf korupsi itu adalah salah satu bagian dari rencananya, wanita paruh baya itu sengaja membuat alasan agar Yudha meninggalkan Annisa dan bisa dengan leluasa mendepak gadis itu.


Tok...


Tok...


Tok...


Yudha mengetuk pintu Tante Yuli, namun tak ada balasan dari dalam, sekali lagi pemuda itu mengetuk namun tetap saja tidak ada balasan, akhirnya Yudha nekad memasuki ruangan tantenya dan ternyata sang empunya ruangan tak berada ditempat.


Yudha keluar, kemudian berjalan mencari gadis pujaannya didapur belakang, tempat biasa pekerja istirahat, namun lagi-lagi sosok yang ingin dia temui tak nampak juga disana.


"Kemana tante Yuli dan Annisa" gumamnya dalam hati.


Tak sengaja Yudha melihat Vera, teman Annisa yang berjalan melewati dirinya, tanpa menyadari kehadiran Yudha, bibir gadis itu terlihat sedang menggerutu.


"Ver," panggil Yudha.


Gadis itu berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Iya Pak Yudha, ada yang bisa saya bantu" sahut Vera ramah.


"Lo kenapa? bete bener?" Yudha justru bertanya ada apa dengan dirinya, pemuda itu lupa menanyakan dimana Kekasihnya, karena melihat ekspresi Vera yang cemberut.


"Capek Pak, pelanggan banyak banget hari ini, tangan ku pegel" keluh Vera.


"Yang lain juga sibuk Pak"


"Emang yang bagian nganter makanan berapa orang?"


"Cuma saya pak sama desi"


Yudha heran mendengar jawaban Vera, "Bukannya semalam Nisa bilang hari ini udah mulai masuk? apa ngga jadi kali yah?" monolog Yudha.


Memang biasanya Annisa bersama Vera dan Desi yang mengantarkan pesanan pelanggan.


"Annisa kemana Ver? sejak tadi ngga keliatan? apa dia masih belum masuk?" tanya Yudha beruntun.


"Kan Udah dipecat pak, ups" Vera segera menutup mulutnya karena sadar bahwa dirinya keceplosan.


Sebelumnya, semua karyawan sudah dipesan oleh Nyonya Adhisty untuk tidak memberitahu siapapun tentang pemecatan Annisa apalagi kepada Yudha.


"Apa kamu bilang?" pekik Yudha terkejut.


"Eehh- eng- engga pak, saya ngga ngomong apa apa" kilah Vera gugup.

__ADS_1


"Mampus gue" Vera merutuki kebodohannya yang keceplosan didepan anak bosnya.


"Kamu kira saya tuli Vera, katakan apa yang terjadi" geram Yudha.


"Ng-ngga ada pak bener" Vera semakin gugup melihat wajah Yudha yang bagaikan seekor Harimau siap menyantap mangsanya.


"Jangan bohong Vera, atau kamu saya pecat" hardik Yudha lagi.


Vera semakin gugup, keringat dingin mengucur di keningnya, tangannya saling bertaut gemeteran.


"Gimana nih, ngomong ngga ngomong tetap dipecat gue" batin Vera.


"Cepat katakan" Yudha semakin emosi dengan kebungkaman Vera.


Vera terhenyak dengan bentakan Yudha membuat tubuh gadis itu mundur selangkah.


"Se- sebenarnya, An- Annisa su-sudah dipecat se-sepuluh hari yang lalu pak" tutur Vera terbata.


Akhirnya Vera menceritakan semua yang terjadi dicafe sepuluh hari yang lalu, gadis itu berfikir, apapun yang terjadi dirinya tetap akan dipecat, setidaknya dia bisa memberi keadilan untuk sahabatnya, Annisa.


Setelah mendengar penjelasan Vera, nampak raut wajah Yudha berubah tegang dan merah, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal, mengetahui fakta bahwa gadisnya diusir oleh ibunya sendiri.


Yudha pergi meninggalkan cafe tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya, rasa marah, kecewa, rindu, bercampur dalam hatinya, tujuannya hanya satu, yaitu segera menemui Annisa, gadis pujaannya, dan dia tahu kemana harus mencari gadis itu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Yudha akhirnya tiba di rumah sederhana milik Annisa, tapi dia heran melihat banyak orang yang berlalu lalang dirumah itu, rumah Annisa sangat ramai, dan yang lebih membuatnya terkejut, diujung pagar bambu itu ada sebuah kain berwarna kuning yang dibuat semacam bendera kecil, pertanda jika keluarga itu sedang berduka. Perasaannya mendadak tak enak.


Yudha melangkah dengan cepat memasuki rumah Annisa, seperti dugaannya, memang ada yang meninggal dirumah itu, dan sosok yang sudah mengacaukan fikirannya sedang duduk sambil menatap kosong kearah tubuh yang berbaring kaku dilantai.


"Annisa"


πŸ€πŸ€πŸ€


Tbc


tolong dukung author yaa...


caranya like vote komen dan tinggalkan jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Jangan lupa Novel Miss difavoritkan


klik tanda love ❀❀❀


Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " Rasa Yang Tersimpan"

__ADS_1


See U All😘😘



__ADS_2