Sakit Tak Berdarah

Sakit Tak Berdarah
STB - 19


__ADS_3

MAAFKAN AKU


Happy reading gengks


maaf jika banyak typo


🌹🌹🌹🌹


Yudha melangkah dengan cepat memasuki rumah Annisa, seperti dugaannya, memang ada yang meninggal dirumah itu, dan sosok yang sudah mengacaukan fikirannya sedang duduk sambil menatap kosong kearah tubuh yang berbaring kaku dilantai.


"Annisa" panggil Yudha lirih.


Annisa tak mendengar namanya disebut, gadis itu terlalu larut dalam kesedihan.


Flashback


Dimulai saat dirinya dikeluarkan dari kampus, dipecat dari kerjaannya, mendapatkan telfon misterius hingga berujung kematian sang ibu.


Yah, sebelumnya memang Annisa selalu mendapatkan telfon yang selalu mengancam akan memberitahu ibu Arini bahwa dirinya sudah dikeluarkan dari kampus karena telah mencoreng nama baik kampus dengan menjadi simpanan om-om, namun Annisa tak menggubris nya.


Setiap kali nomor itu menghubunginya, tak pernah sekalipun dia menanggapi, hingga mulai lelah dan memblokir nomor tersebut, awalnya Annisa pikir hanya sebuah lelucon, namun siapa sangka setelah nomor itu diblokir justru nomor lain kembali menghubungi, namun bukan diponsel Annisa, melainkan langsung ke ponsel ibu Arini.


Saat itu Annisa sedang keluar mencari pekerjaan, Annisa belum memberi tahu ibunya tentang apa yang dia alami dua minggu terakhir, Annisa takut jika semua masalahnya akan menjadi beban pikiran sang ibu dan membuatnya kembali drop.


Benar saja, disaat dirinya tengah sibuk mencari pekerjaan, sebuah nomor asing masuk ke ponsel ibu Arini.


Si penelfon mengatakan bahwa Annisa sudah dikeluarkan dari kampus dan dipecat dari tempat kerjanya karena menjadi simpanan pria-pria kaya hidung belang, sontak kabar yang diterima indera pendengarannya membuat ibu Arini mendadak shock dan anfal.


Ibu Arini memang menderita penyakit jantung, dan saat mendengar kabar tentang putrinya yang dijadikan simpanan pria-pria hidung belang, membuatnya sangat shock, saat itu dirinya sendirian dirumah, sedangkan bi Rum, keluar membeli makanan.


Sekembalinya bi Rum, ibu Arini sudah tergeletak di lantai membuat wanita paruh baya yang selalu menemaninya panik bukan main.


Annisa datang setengah jam setelah bi Rum memberinya kabar bahwa Ibunya pingsan, berdua dengan bi Rum, Annisa membawa Ibu Arini kerumah sakit namun sayang, nyawanya sudah tak tertolong.


Flashback off


Yudha menghampiri Annisa yang tersedu disamping jenasah sang ibu, gadis itu tak menyadari kedatangan Yudha.


"Annisa" panggilnya lirih.


Annisa menoleh kearah Yudha, gadis itu berusaha tersenyum walaupun sedang berduka, Yudha menghampiri Annisa dan mendekapnya kedalam pelukannya.


"Ibu Mas, ibu ninggalin Nisa Mas" adu Nisa terisak.


"Kamu ngga sendiri Nisa, ada aku" hibur Yudha mencoba memberi ketenangan untuk gadisnya.

__ADS_1


Annisa semakin mengeratkan pelukannya, saat ini dirinya benar-benar membutuhkan Yudha sebagai sandaran.


❄❄❄❄


Empat jam berlalu, ibu Arini kini telah dikebumikan, Annisa masih betah berdoa dimakan sang ibu didampingi oleh kekasihnya, sedangkan rombongan pengantar jenazah sudah mulai pulang satu persatu.


Disamping makam ibunya, Annisa masih terisak, sedih? sudah pasti. Ditinggal sebatang kara tanpa mengetahui siapa ayah kandungnya, siapa yang tidak merasa sedih.


Yudha berjongkok disamping makam ibu Arini, pria itu kemudian menggenggam erat tangan Annisa dan tersenyum lembut kearah gadis itu.


"Aku berjanji didepan makam ibu" ucap Yudha tiba-tiba, "Aku akan menjaga Annisa, dan segera menikahinya untuk melindunginya, tolong restui kami bu" lanjut Yudha lagi.


Annisa terkesiap mendengar penuturan Yudha, seketika air matanya langsung terhenti.


🌹🌹🌹🌹


Sepanjang perjalanan kerumah, Annisa dan Yudha terdiam, keduanya larut dengan pikiran masing-masing.


"Apa yang dikatakan mas Yudha tadi? apakah ucapannya serius? lalu bagaimana dengan Nyonya Adhisty yang jelas - jelas tak menyukaiku? maukah dia menerima aku menjadi pendamping putranya?" Batin Annisa.


"Apa yang dipikirkan Annisa, apakah dia tersinggung dengan pernyataan ku tadi? tapi aku serius ingin menjadikannya pendamping hidupku?" Batin Yudha.


"Mas... "


"Nis..."


"Kamu duluan yang ngomong" akhirnya Yudha mempersilahkan Annisa untuk bicara terlebih dahulu, sedangkan pandangannya masih fokus kearah jalanan didepan.


"Mas aja yang duluan" jawab Nisa lirih.


"Kita udah sampe, gimana klo ngomongnya didalam aja" tawar Yudha.


Ternyata mobil yang dikendarainya sudah sampai didepan rumah kecil Annisa, Yudha kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Annisa dan mengajaknya masuk.


"Ini rumah siapa sih?" tanya Annisa heran, dan membuat Yudha juga mengernyit kebingungan dengan pertanyaan gadis itu.


"Ya rumah kamu lah sayang, emang rumah siapa lagi?"


"Rumah aku, tapi Mas Yudha yang semangat bener" ledek Annisa.


Yudha mengerti arah pembicaraan Annisa, pria itu tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf" cicit Yudha.


"Canda Mas, elah sensi amat" canda Annisa.

__ADS_1


Annisa dan Yudha melangkah masuk, untuk sejenak Annisa melupakan kesedihannya dengan kehadiran Yudha.


"Nis, kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Yudha penuh harap. Sorot matanya yang teduh menunjukkan kesungguhan.


Setelah tadi meneguk air putih yang dihidangkan Annisa, Yudha pun memberanikan diri menyatakan kembali keseriusannya untuk meminang Annisa menjadi istrinya.


Pertanyaan dari Yudha sontak membuat Annisa terdiam, gadis itu tak tau harus menjawab apa, sejak tadi hal inilah yang terus mengusik pikirannya.


Tak mendapatkan respon dari Annisa, Yudha memberanikan diri untuk lebih mendekati gadis itu, digenggamnya tangan Annisa yang terasa dingin seolah berusaha mengalirkan kehangatan yang ada dalam tubuhnya.


"Nis, maafin aku, aku tau aku salah" Yudha menghirup nafas dalam dan membuangnya, sejujurnya saat ini pria itu juga sangat gugup. Sedangkan Annisa masih menutup mulutnya rapat.


"Annisa, aku sayang sama kamu, aku mau melindungi kamu dari mamaku, apapun akan aku lakukan untukmu, bahkan aku rela meninggalkan nama besar Pratama jika hubungan kita tidak direstui" terang Yudha panjang lebar.


Annisa terkejut mendengarkan ucapan Yudha, dia tidak menyangka sebesar itu cinta Yudha kepadanya.


"Maksud Mas apa, melindungi aku dari mamanya Mas? Emang Nyonya Adhisty kenapa?"


Lagi-lagi Yudha menghirup nafasnya dalam, pertanyaan Annisa membuatnya bimbang, haruskah dia jujur? mendadak pria itu sulit menelan saliva.


"Annisa, mama yang merencanakan semua ini, kamu di D.O dari kampus, dipecat, dan.... " ucapannya menggantung.


"Dan.... " tanya Annisa penasaran.


Yudha tertunduk, tak berani menatap kedua netra milik Annisa, tenggorokannya terasa kering.


"Dan yang menyebabkan ibu meninggal adalah ulah Tania, dengan rencana mama" tutur Yudha lirih.


"Apaaaa"


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Tbc


Maaf yah readers, Yudah ama Nisa ngaret mulu, Terima kasih buat yang masih setia nungguin Miss...


tolong dukung author yaa...


caranya like vote komen dan tinggalkan jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Jangan lupa Novel Miss difavoritkan


klik tanda love ❀❀❀


Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " Rasa Yang Tersimpan"

__ADS_1


See U All😘😘



__ADS_2