
AKU MENCINTAI NISA
Happy reading gengks
banyak typo
Yudha melangkah memasuki rumah utama keluarga Pratama, wajahnya tampak berbinar, sangat jelas terpancar dari raut wajahnya kebahagiaan yang besar, senyum ceria tak lepas menghiasi bibirnya yang tebal.
"Darimana saja kamu Yudha" suara Nyonya Adhis menggelegar di seluruh ruangan dirumah itu, sontak membuat langkah Yudha terhenti sebelum kakinya menapaki anak tangga menuju ke kamarnya.
Yudha berbalik dan melihat mamanya sedang berdiri tepat di belakangnya sambil menatap dirinya dengan tatapan yang tajam, segurat kemarahan sangat jelas terpancar dari wajah wanita paruh baya itu.
"Aku dari rumah sakit, menemui Annisa" jawab Yudha santai.
Nyonya Adhis semakin geram mendengar jawaban anaknya, wajahnya semakin merah karena menahan kekesalan,kedua tangan Nyonya Adhis mengepal.
"Kamu bilang apa barusan Yudha, kamu sudah berani membantah perintah mama" hardik Nyonya Adhis, nada suaranya semakin tinggi.
"Mama jangan suka marah-marah, keriput diwajah mama akan semakin bermunculan jika mama kerjanya marah-marah terus" bukannya menjawab Yudha justru menggoda mamanya.
Perkataan Yudha barusan membuat Nyonya Adhis terlonjak, apakah benar keriput diwajahnya bertambah? apakah dirinya terlihat semakin tua?
Buru-buru Nyonya Adhis berjalan memasuki kamarnya untuk melihat wajahnya dicermin, Nyonya Adhis memeriksa tiap inci diwajahnya, meraba dan mengelus, tapi tak nampak sedikitpun keriput yang muncul, kembali Nyonya Adhis memastikan apakah benar wajahnya berkeriput? tapi benar tak ada keriput yang nampak sedikit pun, akhirnya Nyonya Adhis sadar bahwa Yudha hanya mempermainkannya, Nyonya Adhis kembali dimana tadi dirinya memarahi sang anak namun ternyata Yudha sudah menghilang dari tempatnya tadi berdiri.
Merasa geram, Nyonya Adhis pun berteriak memanggil putranya.
"Yudhaaa, kamu ngerjain mama" teriak Nyonya Adhis, namun orang yang menjadi objek kemarahan sang mama tak menyahut, pemuda itu justru bersembunyi sambil cekikikan dibalik pintu kamarnya, merasa puas mengerjai mamanya sendiri.
πππ
Dirumah sakit, Annisa sedang menyuapi ibunya makan, tidak banyak perubahan yang terjadi pada sang ibu, tapi gadis itu tidak pernah berputus asa, dia tetap telaten merawat sang ibu, baginya Ibu adalah pelita dalam hidup Annisa, tanpa Ibunya, Annisa pasti sudah akan kehilangan arah.
Dua minggu berlalu, keadaan Ibu Annisa sudah lebih baik, sebelumnya Annisa sudah meminta ijin untuk tidak masuk kerja, awalnya bu Yuli keberatan jika Annisa terlalu lama tidak masuk, dia takut jika iparnya yang tidak lain adalah pemilik kafe tempatnya bekerja akan tau dan langsung memecat Annisa, bu Yuli tau masalah yang Annisa hadapi, dirinya juga tidak tega membiarkan Annisa yang merawat ibunya sendiri sambil bekerja, tapi dengan bujukan Yudha, bu Yuli akhirnya setuju dan menyembunyikan hal itu dari Adhis, saudari iparnya.
Bu Yuli sudah tau perihal hubungan Keponakannya dengan gadis itu, sejujurnya Bu Yuli tidak masalah jika Yudha memilih Annisa menjadi tambatan hati, apalagi Annisa adalah gadis yang baik, pekerja keras, dan juga memiliki hati yang lembut, namun tidak dengan istri kakaknya itu, jika Nyonya Adhis tau, habislah Nisa.
__ADS_1
πΎπΎπΎ
* Yudha POV
Hari ini aku udah janji akan menjemput Annisa dan ibu dari rumah sakit, aku bahagia akhirnya perjuanganku selama dua tahun mengejar gadis itu tidak sia-sia. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahkan jika papa dan mama tidak menyetujui hubungan ku dengan Annisa, aku akan meninggalkan keluarga Pratama.
Aku masuk kedalam mobil, melajukan kendaraan itu membelah jalanan ibu kota, sepanjang jalan aku tersenyum, selalu terbayang wajah cantik gadisku, rasanya aku sudah tidak sabar menunggu untuk mempersunting Annisa, tinggal tunggu dua tahun lagi, setelah Annisa lulus aku akan segera melamarnya, batinku.
Aku tiba diparkiran rumah sakit tempat ibu Arini dirawat, rencananya hari ini ibu akan keluar dari rumah sakit dan aku akan menjemput mereka.
Aku melangkah memasuki ruangan dimana ibu Arini dirawat, saat baru memasuki ruangan itu, pemandangan di dalam membuatku sangat terkejut.
Aku terdiam mematung menatap sosok yang tak asing bagiku sedang berkacak pinggang didepan ibu dari gadis yang kucintai, ada apa ini.
"Mama" panggil ku lirih.
Yah, sosok yang sedang berkacak pinggang dihadapan Ibu Arini, adalah mamaku, wanita yang telah melahirkanku, dan yang tak bisa bahkan bisa dibilang tak mau melihat anaknya bahagia dengan wanita yang dicintainya.
"Mama sedang apa disini?" tanyaku pelan.
"Akhirnya kau datang Yudha" tukas Mama.
"Ada apa mama kesini" kuulangi pertanyaanku, aku tau mama sedang merencanakan sesuatu.
Mama tersenyum tipis, kemudian berjalan mendekat kearahku.
"Mama memberi penawaran untuk Annisa, dan ibunya yang miskin itu" tunjuk mama kepada Ibu Arini.
Mataku melihat Annisa yang terdiam menunduk, sedangkan Ibu Arini, terlihat sangat syok, apa yang sudah dikatakan mama, hingga wanita yang sedang tergolek lemah itu tampak pias.
"Penawaran apa maksud mama?"
"Mama menawarkan uang untuk Annisa, dan biaya rumah sakit untuk penyembuhan ibunya, dengan satu syarat"
"Syarat?? syarat apa maksud mama" mendadak perasaanku jadi tidak enak, apakah ini cara mama memisahkan kami?"
__ADS_1
"Annisa harus bersedia meninggalkanmu, dan hidup dengan tenang tanpa berharap menjadi bagian dari keluarga Pratama" tutur Nyonya Adhis.
Aku terkejut mendengar permintaan mama, setega itukah wanita yang kupanggil mama?, seburuk itukah wanita pilihanku dimatanya?.
Aku kembali menatap Annisa yang masih diam membisu, kulihat tubuhnya sedikit bergetar, aku tahu jika gadisku itu sedang berusaha menahan gemuruh didadanya, tidak... tidak akan kubiarkan mama memisahkan kami.
"Aku Mencintai Nisa ma, setuju atau tidak aku tetap akan menikahinya, dengan atau tanpa restu mama dan papa" ucapku tegas, tidak akan kubiarkan siapapun merebut wanitaku.
Kulihat mama terkejut dengan apa yang baru saja ku katakan namun seketika wajahnya kembali tenang, sedangkan Annisa menatapku tajam, seolah mengatakan bahwa dirinya tidak setuju dengan keputusanku.
Aku berjalan mendekat kearah gadisku ku genggam erat jemari Annisa sambil tersenyum.
"Kamu jangan khawatir, kita sudah sepakat sejak awal akan berjuang bersama apapun akan aku lakukan agar tetap bisa bersamamu, walaupun harus meninggalkan keluarga Pratama" jelasku.
Kudengar mama tertawa meremehkan ucapanku.
"Heh, kau pikir gadis itu akan bertahan denganmu jika kau meninggalkan Keluarga Pratama? Dia akan meninggalkanmu saat kau jatuh miskin" sarkas mama.
"Aku mencintai mas Yudha, dan tidak akan meninggalkannya dalam keadaan apapun".
π»π»π»
Tbc
dukung author yaa
caranya like vote n komen πππ
jangan lupa tinggalkan jejakπ£π£
So klik tanda β€
Oh ya mampir juga ke karya ku yang lain
See U All ππ
__ADS_1