Sakit Tak Berdarah

Sakit Tak Berdarah
STB- 25


__ADS_3

TANPA RESTU ORANG TUA


Happy reading gengks


Maaf jika masih banyak typo


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Tuan Pratama memasuki rumah kecil milik Annisa, mantan karyawannya yang beberapa jam lalu sudah resmi menjadi menantunya. Kedua manik hitam milik pria paruh baya itu menyapu tiap sudut ruangan yang terdapat di dalam rumah Annisa, entah apa yang saat ini ada di dalam fikiran tuan Pratama.


"Silahkan duduk pah, maaf masih berantakan" ucap Annisa mempersilahkan sang mertua duduk dikursi tua yang terlihat sudah rapuh, mungkin hanya dengan sekali tendangan saja kursi itu sudah ambruk.


Sedangkan Yudha terlihat sedikit membereskan beberapa barang yang masih berantakan disana sini akibat acara sakral yang digelar siang tadi.


Tuan Pratama terlihat enggan untuk duduk di kursi yang ditunjuk Annisa, tubuhnya masih diam tak bergeming, mungkin pria tua itu berfikir kursi kayu itu tidak akan muat untuk menahan bobot tubuhnya, sedangkan Annisa menuju kedapur untuk membuatkan minuman untuk sang mertua setelah tadi dirinya mempersilahkan tuan Pratama duduk.


Yudha kembali menghampiri sang ayah, setelah membereskan sedikit barang yang berserakan, keningnya berkerut tatkala mendapati papanya masih diam tak bergeming ditempatnya.


"Ada apa pah, kok masih berdiri?" tanya Yudha heran.


"Kamu betah tinggal disini?" bukan menjawab pertanyaan putranya, tuan Pratama justru menanyakan hal yang lain.


"Maksud papa?"


"Papa ngga nyangka, ternyata kamu lebih memilih gadis itu dari pada keluargamu sendiri" sarkas tuan Pratama, kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celananya.


"Aku mencintai Annisa pah, dan aku akan bertanggung jawab dengan pilihan aku" tegas Yudha.


Tuan Pratama tersenyum mengejek kearah Yudha, pria itu menertawakan sang putra.


"Kamu tau kan konsekuensinya?"tanya tuan Pratama.

__ADS_1


" Aku tau pah, aku pikir papa kesini karena merestui hubunganku dengan Annisa, ternyata papa sama seperti mama"


"Maafkan papa Yudha, tapi papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu, dan ternyata kamu lebih memilih jalan ini"


"Inilah pilihanku pah, tolong hargai" ucap Yudha dengan penuh penekanan.


"Papa hargai justru itu papa datang untuk memperingatimu sekali lagi, kau sudah memilih jalanmu, jadi jangan sesali, papa harap suatu hari pilihanmu yang terbaik dan kau bisa buktikan ucapan papa salah"


Yudha bungkam mendengarkan ucapan papanya, dia tidak berniat untuk menjawab, "Aku akan buktikan bahwa papa dan mama salah" gumam Yudha dalam hati.


Annisa berdiri dibalik dinding penyekat ruangan yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan dapur, karena dinding itu hanya terbuat dari papan triplek yang tipis, jadi tidak sulit untuk mendengarkan percakapan kedua anak dan ayah itu, sebenarnya sudah sejak tadi dia keluar untuk mengantarkan minuman untuk sang mertua namun, kakinya mendadak urung untuk melangkah tatkala mendengar tawa remeh yang berasal dari mulut pria yang dipanggil papa oleh suaminya.


"Kalau begitu, papa pulang, semua fasilitas mu sudah papa cabut, hiduplah bahagia bersama pilihanmu walaupun tanpa restu dari kami"


Setelah mengucapkan apa yang ingin dia utarakan, tuan Pratama bergegas meninggalkan rumah yang kini dihuni oleh anak dan menantunya, tanpa mau mendengar lagi apapun yang akan diucapkan oleh anaknya, sebelum mencapai pintu, terdengar suara lembut memanggil tuan Pratama yang berhasil menghentikan langkahnya sejenak.


"Pah, aku buatkan kopi untuk papa, setidaknya papa bisa minum sedikit sebelum pulang" Tawar Annisa.


🍁🌼🍁🌼🍁


"Maaf, maafkan papa Nis" ucap Yudha penuh sesal.


Saat ini keduanya sedang berada didalam kamar pengantin mereka, setelah kepulangan papanya, Yudah membantu Annisa membereskan sisa acara siang tadi, untung saja acaranya hanya sederhana dan tamu undangan pun tidak terlalu banyak jadi tidak terlalu banyak pula yang harus dibereskan.


Setelah beres - beres dan bersih - bersih, Yudha mengajak sang istri untuk beristirahat sekaligus meminta maaf atas tingkah laku kedua orang tuanya selama ini, mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan semuanya sebelum menyongsong hari esok yang lebih baik.


Annisa tersenyum hangat kearah sang suami, gadis itu sangat bersyukur mendapatkan pria hebat seperti Yudha, yang rela meninggalkan harta dan kemewahan hanya demi cintanya, Sungguh Annisa sangat bahkan makin mencintai suaminya.


"Mas ngga perlu minta maaf, mereka orang tua kita, dan kita sudah melakukan kesalahan dengan menentang kehendak mereka, jadi mas ngga salah, kita akan sama-sama berjuang mendapatkan restu mereka" terang Annisa.


Masih dengan senyum yang mengembang diwajahnya yang cantik, Yudha pun ikut tersenyum. Senyum indah yang masih sama saat pertama kali mereka bertemu, senyum yang sama, yang membuat Yudha jatuh hati kepada Annisa, senyum itu pula yang kini dinikmati oleh Yudha.

__ADS_1


"Aku bangga memilihmu, aku yakin aku tidak akan salah pilih" Yudha merapikan anak rambut Annisa, membuat semburat rona merah menghiasi pipi gadis itu. Annisa tertunduk malu, berusaha menyembunyikan wajahnya yang tersipu.


Yudha mengangkat dagu Annisa dengan pelan, "Kenapa? malu? kok sama suami sendiri malu?" goda Yudha.


"Ak- aku..." Annisa terbata, mendadak dirinya tak tau harus mengucapkan apa, suaranya terasa tercekat, jantungnya bertalu-talu menandakan dirinya sangat gugup duduk berhadapan dengan pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya.


Yudha tersenyum bahagia kala melihat rona merah yang menghiasi wajah sang istri, timbul niat dalam hatinya untuk menggoda gadisnya lagi.


Yudha mengikis jarak diantara keduanya, semakin dekat dirinya dapat mendengarkan degup jantung Annisa yang berdetak sangat cepat.


"Malam ini, kau milikku sayang" bisik Yudha sambil tersenyum jahil kearah sang istri.


"HAAAHH"


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak yah gengks


Like, komen, atau vote juga bisa


Jempolnya ditekan, kalo perlu kirim bunga atau kopi biar semangat updatenya gengks


Jangan lupa mampir di karyaku yang lain gengks


Udah ganti judul dan cover


"Rasa Yang Tersimpan" sekarang judulnya ganti yah


"Sebelah Hati"


See U All😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2