
PANDORA BOX
Happy reading gengks
Maaf banyak typo
ππππ
Dani terkejut dengan apa yang dilakukan Erika, dia tidak menyangka bahwa gadis itu akan nekad menciumnya, namun Dani akui ada getaran aneh saat bibir mereka bertemu.
Perlahan Dani membalas ciu*man Erika, sejak awal, Dani sudah mengultimatum dirinya agar tidak terjatuh dengan pesona gadis di hadapannya ini, namun Dani tetaplah Dani, pria normal yang akan tergoda jika memang sengaja digoda(alah bilang aja klo emang lo nafsuan Dan).
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mungkin itulah pepatah yang pantas disematkan kepada Dani, ayahnya yang gampang tergoda oleh wanita cantik dan sexy, menurun ke anaknya, Ardani Yusuf.
Dani tak pernah menyentuh Annisa, kekasihnya itu memang kolot tapi Dani suka, karena gadis itu pandai menjaga diri, namun siapa sangka, sensasi dari ciu*man Erika memberi efek tersendiri bagi Dani yang tak pernah melakukannya dengan Annisa.
Semakin lama ciu*man yang awalnya bagaikan slow motion itu, makin liar. Erika bahkan memberi akses penuh kepada pria itu untuk mengeksplor isi didalam mulutnya.
Ciu*man itu berubah menjadi lum*atan-lum*atan yang menggelora, Dani semakin kalap melahap bibir mungil milik Erika, pria itu melu*mat bibir sahabat kekasihnya dengan sangat rakus, Erika membalas tak kalah bernafsu, keduanya terasa sedang berada diatas angin, perlahan tangan Dani menyentuh aset berharga lainnya milik Erika, salah satu bukit kembar yang ukurannya tak terlalu besar itu menjadi alat olahraga tangan untuk Dani.
Seperti sedang bermain Squishy, Dani meremas bukit kembar Erika secara bergantian dan masih sambil terus mengulum bibir mungil Erika.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sudah berkaca-kaca sedang menatap jijik kearah keduanya, pemilik mata itu adalah kekasih Dani, Annisa.
Annisa merasa jijik dengan apa yang baru saja matanya saksikan, bulir bening mengalir dari kedua maniknya yang indah, rasa sakit merasuk dalam relung hatinya, gadis itu memutuskan meninggalkan tempat dimana sepasang pengkhianat yang sedang asik bercum*bu itu berada.
Sebelum pergi, Annisa mengambil gambar sahabatnya yang tengah bercum*bu mesra dengan kekasihnya, sebagai kado yang akan dia hadiahkan kepada sang sahabat. Tiada kado yang lebih istimewa untuk sahabatmu yang menusukmu dari belakang dengan orang yang kamu anggap kekasih, melainkan mundur dan menyerahkan kekasihmu untuk sahabatmu.
Saat keluar, Annisa membanting pintu rumah Dani dengan kencang kemudian gadis itu berlari meninggalkan rumah kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
Karena Annisa membanting pintu dengan sangat kencang, dan menimbulkan suara yang cukup keras, Dani dan Erika terkejut, keduanya langsung sadar dengan apa yang telah terjadi.
Dani berlari kedepan, kemudian membuka pintu untuk melihat siapa yang baru saja datang, namun tak menemukan siapa pun, "mungkin hanya angin" pikir Dani.
(iya Dan, angin ****** beliung, punya Annisa)
Erika menyusul Dani yang langsung keluar saat mendengar suara pintu yang dibanting, gadis itu kemudian menghampiri Dani.
__ADS_1
"Siapa Dan, ?" tanya Erika.
Dani mengendikkan bahu.
"Ngga tau, ngga ada siapa-siapa, mungkin cuma angin" jawab Dani.
Erika mengangguk, kemudian gadis itu berjalan kearah kursi dimana tas nya berada, diraihnya tas itu kemudian berjalan kembali ke hadapan Dani.
"Kalo gitu aku balik, jangan lupa ntar malem" pamit Erika, gadis itu mengedipkan matanya sebelum keluar dari rumah Dani sambil tersenyum manis.
Dani tak menjawab, pria itu hanya menatap bibir Erika yang sedikit bengkak akibat ulahnya, ada rasa penyesalan saat mengingat apa yang terjadi didapur tadi, Tiba-tiba Dani teringat oleh Annisa.
Setelah Erika pergi, Dani masuk kedalam kamarnya, diraihnya ponselnya yang tadi dia letakkan diatas nakas, saat akan melakukan panggilan, Dani terkejut melihat riwayat panggilan tak terjawab sebanyak sepuluh kali dan semua dari Annisa.
Dani segera menghubungi Annisa, pria itu khawatir jika terjadi sesuatu pada kekasihnya, karena selama menjalin hubungan dengan Annisa sejak enam bulan yang lalu, tidak pernah Dani mengabaikan panggilan Annisa, bahkan disaat genting sekalipun, apalagi panggilannya saat dia tengah bercum*bu hebat dengan Erika.
Tiga kali, empat kali bahkan sampai panggilan kedelapan, kekasihnya itu tak menjawab panggilannya, rasa takut dan khawatir terjadi sesuatu menghantui perasaannya, ada rasa penyesalan juga saat kembali teringat bahwa Annisa mencoba menghubunginya sejak tadi sedangkan dirinya sedang bercum*bu dengan Erika, hingga tak menyadari panggilan Annisa.
Akhirnya pada dering kesepuluh, Annisa baru menjawab panggilan Dani, terdengar suara gadisnya seperti habis menangis.
"Halo, sayang kamu dimana?" sapa Dani.
"Kamu habis nangis?" tanya Dani heran.
"Aku ngga pa pa" Nisa mencoba tenang.
" Tapi suara kamu... " ucapan Dani terpotong.
"Aku ngga pa pa Dan," jawab Nisa kesal, dengan suara yang sedikit lebih tinggi.
Dani terkejut mendengar suara Nisa yang terkesan membentak, tidak biasanya gadisnya yang berbicara lembut kini membentak dirinya, apa karena tadi Dani tak menjawab panggilannya? pikir Dani.
"Ya udah kalo kamu ngga pa pa, tapi kalo kamu ada masalah jangan sungkan buat nyari aku, kamu ceritain masalah kamu, aku akan selalu ada buat kamu" bujuk Dani lembut.
Annisa tak menjawab ucapan Dani, gadis itu sedang berjuang keras menahan gejolak kemarahan didalam hatinya, namun dia harus tetap tenang, malam ini semuanya akan berakhir.
Dani menghela nafasnya pelan, Annisa tak menjawab dan tak mau berbagi keluh kesahnya saat ini, sepertinya gadisnya itu benar-benar sangat marah padanya, Dani tak memaksa jika Nisa tak ingin bercerita saat ini, walaupun tidak seperti biasanya, tiap ada masalah pasti gadis itu akan langsung menceritakannya pada Dani namun kali ini Annisa lebih memilih diam, Dani mengerti mungkin butuh waktu lebih banyak agar Annisa mau bercerita.
__ADS_1
"Ya udah kalo kamu belum mau cerita, aku ngerti kok, ntar malam aku jemput ok?" ucap Dani mengalah.
"Kemana?" tanya Nisa datar.
"Sahabat kamu ulang tahun kan? kita pergi sama-sama"
Mendengar ucapan Dani, Annisa kembali teringat kejadian tadi, gadis itu kembali merasakan sesak di dadanya, kekasih yang begitu dia percayai telah mengkhianati kepercayaannya dengan sahabatnya sendiri. Namun Annisa tetap berusaha tenang, gadis itu suda menyiapkan pandora box untuk acara ulang tahun Erika sahabatnya. Sebuah hadiah yang sangat istimewa.
"Jemput aku jam tujuh" ucap Nisa.
"Ok, kamu tunggu aja,"
"Hmmm"
"Nis, aku sayang sama kamu." ucap Dani diakhir panggilannya. Dani merasa harus mengucapkannya, rasa penyesalan benar-benar menghantui perasaannya.
Nisa tak Menjawab, gadis itu tiba-tiba merasa jijik mendengar perkataan kekasihnya, padahal sebelumnya dia sangat bahagia jika Dani mengatakan itu.
Bersyukurlah Annisa, karena lebih dulu diberi kesempatan untuk mengetahui kelakuan Dani.
Dani menutup panggilannya setelah mengatakan hal tadi, pria itu kemudian bersiap-siap untuk berangkat kerumah Annisa.
Pukul Enam lewat empat puluh lima menit, Dani tiba dirumah Annisa, pria itu kemudian menyapa wanita paruh baya yang merupakan Ibu dari gadisnya, diraihnya tangan yang sudah tua dan sangat kasar itu untuk dicium, maklum Ibu Arini adalah seorang buruh cuci dirumah orang-orang kaya.
Sambil menunggu Annisa bersiap, Ibu Arini membuatkan secangkir teh hangat untuk Dani.
Dani sangat bahagia dengan kehangatan keluarga yang dimiliki oleh Annisa, itu menjadi salah satu penyebab mengapa Dani sangat mencintai gadis itu, sudah lama Dani tak merasakan kasih sayang seorang ibu.
Selama ini Dani hanya tinggal berdua dengan Ayahnya, itupun kadang dalam seminggu, Yusuf ayah Dani hanya menginap dua hari dirumah setelah itu Yusuf pergi lagi kerumah istrinya.
Setelah Ayah dan Ibu Dani bercerai, Dani diasuh oleh Ibu tirinya, namun Ibu tiri Dani tidak pernah menyayanginya seperti ibunya, jadi mendapatkan kasih sayang dari sosok yang telah melahirkan gadis yang sangat dia cintai adalah kebahagiaan tersendiri dalam hidup Dani.
Tbc
tolong dukung author dengan like vote n komen yaa,,, jangan lupa jejaknya ditinggalπππ£π£
Sekalian mampir di karya Nisa yang lain, judulnya "Rasa Yang Tersimpan"
__ADS_1
See U Allππ