Sakitnya Berkorban

Sakitnya Berkorban
mulai memikirkan sang bos


__ADS_3

''hey sarah!'' panggil nari salah satu rekan kerja sarah selain lisa


''iya,,?''


''kami ingin makan bersama setelah pulang kerja nanti, apa kau mau ikut?''


''kalian ingin makan dimana?''


''restoran barbeque''


''bagaimana, kau mau ikut?'' lanjut nari


''baiklah, kali ini aku akan ikut'' jawab sarah sambil tersenyum.


Sarah sangat jarang berkumpul dengan teman temannya karna harus mengurus cleo, kini anaknya sudah besar dan ia sedikit mempunyai waktu luang, ia pun mengambil ponselnya.


/halo bi, aku akan terlambat pulang hari ini, tidak apa apa kan?/ ucap sarah dengan ponsel menempel di pipinya.


/baiklah, jangan terlalu larut malam/


/tidak, kami hanya makan/


jawab sarah lalu mematikan teleponnya.


''aku tadi melihat ibunya pak jungkook kesini'' ucap lisa yang baru saja tiba sambil menghampiri sarah yang masih duduk di kursi kerjanya.


''apa kau bertemu dengannya?'' tanya lisa pada sarah dengan tatapan mengintimidasi.


''kau tau dari mana jika itu ibu pak jungkook, kita tidak pernah melihatnya'' potong nari yang berada di sebelah sarah


''siapa yang tidak mengenal kim dami, ayahnya kan salah satu petinggi ternama''


''jadi benar jika itu ibunya?, aku hanya tau ayahnya saja'' terkejut nari


''iyaa, kita hanya tidak tau saja circle mereka''


''tapi kenapa pak jungkook membangun perusahaan sendiri, perusahaannya juga tidak besar, bukankah ibunya pewaris tunggal?'' tanga nari


''iya, aku dengar rumah sakit dan perusahaannya malah anak pertama yang pegang'' jawab lisa


''apa kau pernah melihat kakanya jungkook?'' tiba tiba nari bertanya pada sarah

__ADS_1


''hah,,, uemmh, tidak'' sarah menggeleng


''jungkook tidak memperkenalkanmu pada keluarganya?''


''untuk apa?'' sendu sarah


''apa jungkook serius denganmu sar?'' tiba tiba lisa bertanya.


'aku harus jawab apa?' batin sarah


''sudahlah, itu urusan pribadi Sarah, sebaiknya kita bekerja saja'' potong nari yang merasa suasana tiba tiba jadi canggung.


'Kenapa dia tidak mewarisi apapun dari ibunya, apa benar yang di ucapkan maura waktu itu' batin sarah sambil mengingat ucapan maura waktu itu.


Sarah dan teman temannya pun mulai berkumpul di restoran kecil untuk makan malam, mereka asyik mengobrol sambil makan.


''kenapa baunya jadi aneh begini?'' sarah menutup hidungnya saat makanan tengah di hidangkan.


''bau apa? hanya bau daging di baluri bumbu yang nikmat saja yang aku cium?'' jawab lisa sambil menghirup aroma makanan.


''baunya aneh lis'' ucap sarah sambil menutup hidungnya


''kau tidak pernah makan ini?'' tanya nari.


'ueeeeekkkkk' sarah menutup mulutnya.


''kau tidak apa apa?'' lisa langsung memperhatikan sarah


''tidak apa apa, aku ke toilet sebentar'' sarah buru buru beranjak pergi sambil menutup hidungnya.


Namun saat tiba di kamar mandi ia malah semakin mual.


'ueeekk ueeekkk ueeekkkk'


sarah membasuh wajahnya di wastafel, ia menatap wajahnya di cermin.


'ini kenapa?, tidak mungkin' sarah menggeleng berusaha melawan pikirannya.


Setelah merasa sedikit tenang sarah kembali menemui temannya.


''kau tidak apa apa?'' khawatir lisa

__ADS_1


''iya, mungkin aku masuk angin saja, sepertinya aku pulang duluan ya''


''makanlah dulu, setelah itu baru pulang dan beristirahat''


''i-iyaa'' jawab sarah ragu sambil memperhatikan makanan yang ada di depannya.


Takut membuat temannya khawatir sarah mencoba makanannya sedikit sedikit asalkan terlihat jika ia sudah makan.


''kalian lanjutkan saja, aku duluan ya!'' sarah berpamitan dengan temannya lalu bergegas pulang.


karna jarak yang tidak jauh sarah memilih jalan kaki untuk pulang, ia berhenti dan kembali menutup mulutnya karna mual.


'kenapa aku mual lagi?' batinnya.


saat melewati apotik sarah berhenti sejenak


''tidak, ini pasti hanya masuk angin'' elak sarah, ia pun mengusap kasar wajahnya lalu melanjutkan perjalanannya lagi.


''apa cleo sudah tidur?'' tanya sarah pada pengasuh sesaat memasuki rumahnya.


''sudah, dia ingin menunjukkan sesuatu padamu, dia menunggumu sampai tertidur''


''menunjukkan apa?''


''kau lihat saja di kamarnya''


sarah sejenak menatap pengasuh cleo.


''kau mau langsung pulang?''.


''iya, aku akan pergi membawa sampah sampah ini''


''hati hati di jalan bi'' lemas sarah lalu memasuki kamar cleo.


Sarah mengambil sebuah lukisan yang berada di samping cleo tertidur, ia memperhatikan seluruh lukisan anaknya, sebuah lukisan yang menunjukkan seorang ibu dan anaknya di rumah sakit, sambil melihat sebuah pemandangan yang indah dari bukit bukit.


''kau mendapatkan nilai tinggi untuk lukisan ini sayang'' bisik sarah di telinga cleo yang tertidur, sambil membelai surai rambutnya.


''hmmm'' jawab cleo sambil tertidur pulas.


Sarah lalu menyelimuti cleo dan mengecup pelan pipi anaknya. Ia lalu duduk di kursi depan tv sambil menatap lukisan cleo yang sangat indah, anaknya memang terlihat memiliki bakat melukis, di usia nya yang masih 6 tahun cleo sudah bisa melukis pemandangan dengan sangat cantik.

__ADS_1


''anakku berbakat'' tersenyum sambil mengelus lukisan cleo


''aku harus mengembangkan kreatifitasnya'' ucap sarah lalu mengambil ponselnya untuk mencari guru les untuk cleo agar dapat mengembangkan bakatnya.


__ADS_2