
Jemari sarah menunjuk pada salah satu tanggal di kalender, ia menatap kalender itu dengan sedih bercampur bingung.
''ini sudah terlambat'' gumam sarah
''tidak mungkin, aku sudah meminum obatnya sebelum melakukan itu'' gumamnya lagi sambil menggeleng melawan kekhawatirannya.
Dengan panik sarah kembali masuk ke kamarnya dan membuka sebuah laci di meja nakasnya, tangannya dengan cekatan mencari sesuatu, hingga akhirnya ia menemukan sebuah obat yang sudah terkoyak. Setelah menemukannya sarah mengambil ponselnya dan duduk di salah satu sisi kasurnya.
Sarah membaca sebuah artikel di ponselnya, awalnya raut wajahnya biasa saja hingga beberapa saat kemudian dahinya mulai mengkerut raut wajahnya berubah panik.
''apa artikel ini benar, jika salah cara meminum obat penunda kehamilan bisa membuatku hamil?'' panik sarah.
''sarah tidak ada waktu untuk bergulat pikiran seperti ini, aku harus mengeceknya!'' ucap sarah lalu bangkit dari kasurnya.
Sesampainya di apotik sarah berhadapan dengan pegawainya.
''aku membeli ini beberapa waktu lalu'' memperlihatkan pil penunda kehamilannya
''hmm, kenapa?'' tanya pegawai apotik ramah
''setiap kali ingin berhubungan aku meminumnya tapi sekarang aku belum datang bulan?''
''apa kau meminumnya saat akan berhubungan saja?''
''i-iyaa''
''yang saya tau ****** itu bisa bertahan di rahim selama beberapa hari, jadi meminum pil ini sebaiknya jangan saat mau berhubungan saja, tapi beberapa hari sebelum berhubungan dan beberapa hari setelah berhubungan''
''jadi saya salah cara memakainya''
''itu yang sering saya dengar, tapi sebaiknya kamu periksa saja ketimbang ragu'' ucap pegawai itu lalu memberikan tes pack pada sarah.
Sarah langsung ke kamar mandi dan mulai mencoba alat tes itu, beberapa saat berlalu sarah yang sudah seharusnya bisa melihat hasilnya sedikitpun tidak berani melihatnya, ia hanya duduk di closet dan memegang erat alat tes itu.
''aku mohon jangan'' gugup sarah lalu perlahan menggeser jarinya yang menutupi hasil tes nya.
Betapa terkejutnya sarah melihat hasilnya bahwa dia positif hamil, meski sudah menduganya tetap saja itu hal yang mengejutkan baginya.
''oh tuhan'' sarah panik bukan kepalang, ia langsung berdiri dan meremas kepalanya sembari menangis. Mondar mandir tak karuan ia lakukan karna merasa selalu tidak nyaman karna paniknya.
''apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin memintanya bertanggung jawab, ia pasti tidak percaya jika ini anaknya'' ucap sarah yang masih belum mempercayai jungkook.
''kenapa kau lama sekali di kamar mandi?''
Teriak bibi pengasuh berhasil mengejutkan sarah dan menjatuhkan alat tes kehamilannya, sarah dengan panik mengambil tes pack itu dan menyembunyikannya di belakangnya.
'kreeeeekkkkk'
perlahan sarah membuka pinttu kamar mandi dan melihat pengasuh bibi tum melihatnya sambil menyandarkan satu tangannya ke dinding.
''kau terlihat pucat, apa kau diare?''
__ADS_1
''hahh,,,,, tidak, iyaa, aku sakit perut'' jawab sarah gugup lalu melewati bibi tum.
''ada obat diare di laci penyimpanan, ambil dan minumlah'' ucap bibi tum sembari berjalan ke kamar mandi dan menutupnya.
Saat sedang duduk di toilet bibi tum tidak sengaja melihat sebuah bungkus alat tes kehamilan di tempat sampah, ia pun mengambilnya dan memperhatikannya dengan seksama.
''ini kan alat tes kehamilan'' bibi tum langsung beranjak keluar kamar mandi mencari sarah.
''sarah!'' panggilnya langsung membuka pintu kamar sarah
''iyaa kenapa?'' kaget sarah sedikit panik.
bibi tum mendekati sarah perlahan dan menatap matanya.
''ada apa bi?'' gugup sarah
''apa kau hamil?''
''hah,,,''
''kau pasti dengar apa yang baru ku ucapkan'' menatap perut sarah.
Sarah menghindari tatapan itu dengan sedikit memiringkan badannya.
''akuu,,''
''siapa ayahnya hmm,? katakan padaku siapa ayahnya''
bibi tum memegang kedua bahu sarah dengan kuat.
''siapa ayahnya, minta ia bertanggung jawab, itu yang harus kita lakukan sekarang''
''tidak bisa, dia tidak bisa bertanggung jawab, ini kesalahanku'' ucap sarah sambil menangis.
''kesalahanmu bagaimana, apa kau pikir kau hamil sendiri?''
Sarah menceritakan dengan jelas pada bibi tum, ia tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi.
''kenapa kau menyimpannya sendiri nak, kenapa tidak menceritakannya padaku, kenapa harus di pendam?'' sambil memeluk sarah
''aku sangat malu,,''
''tenang kan dirimu dulu, kita akan memikirkannya nanti, jangan menangis'' mengusap pipi sarah.
''sudah jangan menangis, cleo akan curiga nanti'' ucap bibi lagi.
Waktu tetap berlalu, meskipun terasa melambat siang berganti malam, dan malam berganti pagi.
''apa kau akan baik baik saja jika bekerja?'' tanya bibi tum memperhatikan sarah yang sudah berpakaian rapi akan berangkat bekerja..
''aku harus tetap bekerja'' sahut sarah sambil mempersiapkan cleo untuk berangkat sekolah
__ADS_1
''memangnya ibu sakit sampai bini bertanya begitu'' tanya cleo
''tidak sayang, mari kita berangkat'' elak sarah lalu berdiri mengambil tasnya dan menggandeng tangan cleo.
Selesai mengantar cleo, sarah langsung menuju ke kantornya, setelah baru memasuki kantor ponsel sarah bergetar.
driiinnnh driiiiinnngg
raut wajah sarah menjadi datar saat melihat nama di layar ponselnya yang tak lain adalah jungkook. tangannya menggeser untuk mengangkat panggilan itu
'kau sudah di kantor?' tanya suara di balik telepon
'aku baru saja sampai, kenapa'
'ke ruanganku sekarang ya'
'ada apa'
'tidak bisa di bicarakan di telpon, mari bertemu saja'
'oh, iya'
...****************...
Tak butuh waktu lama sarah sudah berada di depan ruangan jungkook dan langsung mengetuk pintunya.
...tok tok tok...
...''masuklah!''...
perintah jungkook dari dalam
Dengan raut wajah datar sarah mendekatinya yang sedang duduk di kursi kerjanya.
''ternyata kau !'' ucap jungkook setelah melihat sarah, pria itu pun langsung bangun dan mempersilakan sarah dengan sopan untuk duduk di sofa tamu miliknya.
''ada apa?'' ucap sarah ramah dan berusaha tenang, meski pikirannya tengah kacau karna kehamilannya.
''ini!'' jungkook menyerahkan sebuah undangan.
Dengan seksama sarah memperhatikan undangan itu.
''memang kenapa?'' tanya nya bingung setelah melihat tidak ada apapun yang ada di undangan itu selain nama jungkook dan sebuah pesta.
''seseorang mengundangku dan ingin bertemu denganmu di acara malam besok, apa kau bisa?''
''aku tidak bisa, kau seharusnya menolaknya'' panik sarah
''aku tidak bisa menolaknya, banyak orang orang penting yang akan hadir di sana''
''dan kau ingin aku menemui orang orang penting itu''
__ADS_1
''iya,, ikutlah, aku berjanji hanya sebentar''
''baiklah, pastikan itu benar benar sebentar''