
Kelas XII IPA-2 sedang belajar Fisika. Fina sibuk menyatat rumus-rumus yang keluar dari sinar infokus. Tiba-tiba, kelas mereka kedatangan dua orang cewek. dari kelas IPS-1. Helena dan Devi. Fina tahu siapa mereka. Dia rasa tak ada yang tidak mengetahui mereka. Citra buruk mereka sudah bukan lagi rahasia umum di sekolah ini. Mereka berdua meminta izin pada guru yang mengajar di kelas itu, memanggil Fina untuk suatu keperluan yang berhubungan dengan Organisasi Siswa intra Sekolah.
“Fina, ayok ikut!” Devi memberikan kode lewat tangannya, meminta Fina menghampirinya.
Fina yang sedang mencatat rumus, menegakkan tubuhnya. Ia sedikit kaget namanya disebut. Berhubungan dengan OSIS? Apa Fina punya salah?
Fina akhirnya mengikuti perintah Devi dan Helena. Ia tak bisa menolak di hadapan guru dan teman-temannya meskipun sebenarnya ia memiliki firasat tak enak.
Fina berjalan di belakang punggung dua perempuan itu.. Koridor hening. Suara langkah kaki mereka susul-menyusul. Fina tak tahu ia akan di bawa kemana. Bukankah seharusnya untuk menuju ruang OSIS sebelumnya belok ke kiri? Tapi mereka terus berjalan lurus.
“Dev, Hel, bukannya—“
“Devi mau ke toilet dulu sebentar,” jelas Helena dengan dingin, seolah bisa membaca kebingungan Fina. Fina terdiam, menurut saja.
Mereka tiba di depan pintu masuk toilet perempuan. Devi masuk ke dalam toilet. Fina dan Helena masih mematung di luar. Namun, tiba-tiba...
Bruk!!!
Helena mendorong kencang tubuh Fina hingga ia terlempar ke dalam toilet. Fina berteriak kaget. Tubuhnya nyaris terjatuh, tetapi untungnya ia bisa menjaga keseimbangan.
Di dalam toilet sudah ada Felisha menunggu dengan kedua tangan terlipat di dada.Terdapat smirk di senyumnya. Perlahan Felisha mendekati Fina.
“Hi, Aneh. 3 tahun sekolah bareng, kita gak pernah ngobrol loh,” ucap Felisha dengan nada menyeramkan membuat bulu kuduk Fina berdiri. Tubuh Fina bergetar hebat. Napasnya tersengal. Ia sangat merasa ketakutan.
“Kenapa? Kok gemetaran? Takut?” Felisha mendekatkan wajahnya ke wajah Fina, bertanya.
“Gue tahu semua soal lo, Aneh. Gak ada yang Felisha gak tahu soal siswa di sekolah ini!” tegas Felisha. Kedua temannya hanya menonton di pintu masuk toilet, sekaligus menjaga supaya tidak ada yang memakai toilet dulu untuk sementara.
“Salah gue apa?” tanya Fina gemetaran. Ia benar-benar takut ditatap dengan cara itu oleh Felisha. Tatapan tajam bak pisau belati yang siap menusuknya.
“Salah lo? Lo gak ngaca siapa diri lo, dan beraninya lo deketin Win!” terang Felisha dengan kasar.
Wajah Fina pucat.
“Lo jangan macam-macam, ya, sama gue. Atau gue sebarin rahasia lo, kalo lo tuh depresi!” ancam Felisha. Suaranya melantang.
“Gue ingetin sekali lagi! Gak boleh ada yang miliki Win, selain gue!” sergah Felisha.
“Ngerti lo?!”
Fina hanya terangguk mengerti. Matanya sudah berkaca-kaca. Perempuan itu kasar sekali.
“Pergi lo! Freak!” Felisha mendorong tubuh Fina yang berguncang ketakutan keluar toilet. Ia nyaris saya tersenggal. Rahang Fina gemetar. Kecemasannya menyerangnya lagi. Fina tak bisa kembali ke kelas dalam kondisi seperti ini. Ia terlalu takut untuk dilihat oleh siswa-siswi di kelas.
Fina mengambil jalan ke rooftop. Ia perlu merelaksasikan tubuhnya. Melakukan sedikit meditasi. Meditasi bisa dilakukan dimana saja dan dengan cara apapun. Dengan memperhatikan aliran napas yang masuk dan keluar itu pun bisa dikatakan meditasi.
Untuk sekarang, Fina begitu takut bertemu Win. Ancaman dari Felisha pasti akan terngiang-ngiang di kepala Fina saat ia di dekat Win. Fina berniat untuk memberi jarak dengan Win untuk sementara waktu.
__ADS_1
...***
...
Tubuh Fina membaik setelah melakukan meditasi di rooftop. Tetapi ia harus bolos satu pelajaran terakhir. Fina mengambil tasnya di kelas. Tubuhnya sudah kembali normal. Getaran sudah hilang. Ia bisa berjalan dengan tenang dan kembali menjalani hari.
Fina bergegas pulang. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati Dokter Gerald yang tengah bersandar di mobilnya yang terparkir di halaman sekolah. Fina memang pernah menyebutkan nama sekolahnya saat melakukan konsultasi. Yang menjadi pertanyaan sekarang, ada perlu apa Gerald ke sini, karena Fina tak memintanya untuk datang.
Fina berjalan mendekati Gerald. Tiba-tiba dari arah samping seseorang memanggilnya.
“Fina!” panggil Win seraya melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Fina membelalak melihat kehadiran Win. Mengapa mereka harus muncul di saat yang bersamaan?
Win masih melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar.
Maaf Win... Batin Fina. Ia teringat dengan ancaman Felisha tadi.
Fina terus melangkah mendekat ke arah Gerald, mengabaikan Win. Win memasang wajah bingung melihat Fina menghampiri seorang cowok yang nampak lebih tua darinya. Siapa gerangan? Mau apa membawa Fina? Mungkin itu yang ada dipikirannya saat ini.
“Dokter mau jemput aku kan? Yuk, sekarang berangkat.” Fina langsung masuk ke dalam mobil sebelum Gerald sempat berbicara. Ia tak mau dilihat lama-lama oleh Win.
“I-iya sih. Kenapa buru-buru banget sih?” Gerald bingung dengan sikap aneh Fina. Ia menyusul Fina, masuk ke dalam mobil.
“Udah jalan dulu aja,” perintah Fina tanpa sadar sedikit lancang. Gerald hanya menurut, menancapkan gas. Mobil hitam itu meninggalkan sekolah dan Win yang masih mengerutkan keningnya, tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
“Belum.Boleh.” Kebetulan Fina merasa perutnya lapar.
“Makan bakso mau, gak?.” Gerald menawarkan.
“ Mau...” Selera makan Fina memuncak. Mobil mereka berhenti di salah satu warung bakso yang cukup ramai. Fina dan Gerald menyantap bakso. Fina memesan bakso varian lava yang dalamnya berisi cabai-cabaian, sedangkan Gerald memesan bakso Rudal yang di dalamnya menggumpal daging,
“Enak, ga?” tanya Gerald melihat Fina yang begitu lahap memakan pesanannya.
Fina mengipas-ngipaskan mulutnya, kepedasan. Wajahnya memerah dengan sedikit keringat. “Enak. Tapi pedas.”
Gerald tertawa melihat perangai Fina. Dia menyodorkan segelas es jeruk kepadanya. “Minum dulu, minum dulu.”
Fina meraih pemberian minum dari Gerald. Ia menyeruput es jeruk tersebut.
“Lagian sok-sokan pesannya yang pedas-pedas,”sindir Gerald. Fina hanya cengengesan.
Selang beberapa menit, kedua bakso di mangkuk mereka habis, menyisakan kuah airnya yang berwarna merah karena sudah tercampur saus dan sambal. Mereka tak langsung angkat kaki. Berbincang-bincang sejenak mengenai kondisi Fina di sekolah, sembari menunggu teman Gerald yang akan datang bergabung. Gerald bilang temannya akan mampir ke sini.
“Di sekolah membaik sih, Dok. Tapi kadang masih suka cemas, apalagi saat mau presentasi.,” terang Fina.
“Gak pa-pa, beri waktu tubuh kamu untuk merasakan cemas itu. Atur napas saja.” Gerald memberi saran.
__ADS_1
Fina mengangguk. Tak lama, yang ditunggu Gerald datang: Temannya. Seorang perempuan yang sepertinya berusia tak jauh berbeda dengan Gerald, tampak sedikit lebih muda, menyapa. Fina sedikit dibuat kaget mengetahui kalau temannya yang dimaksud adalah seorang perempua, dia pikir adalah laki-laki. Gerald memeluk Lindy sebagai bentuk sapaan, sedangkan Fina hanya bersalaman.
“Lindy, ini Fina. Fina, Lindy.” Gerald memperkenalkan mereka.
Fina dan Lindy saling bertegur sapa.
“Udah lama nunggu?” tanya Lindy.sedikit khawatir.
“Udah. Udah dari dzuhur, ya, Fin?” Gerald berbohong jahil. Sekarang pukul 17:08.
“Serius? Bohong, ya?” Lindy tak percaya jika dilihat dari raut wajah Gerald.
“Dokter kamu bohong, ya, Fin?” Lindy bertanya pada Fina. Ia begitu ramah. Fina tersenyum lebar, mengiyakan.
“Kan...” tebakan Lindy benar. “Gue pesan dulu, ya. Kalian udah pesan?” Lindy melirik mangkuk-mangkuk di meja mereka, lalu mulutnya membentuk huruf O. “Oh udah ternyata.”
Lindy menghampiri Mas yang bekerja di warung bakso itu. “Mau bakso rudal satu, ya, Mas.” Pesanannya sama dengan Gerald. Lindy kembali duduk, berbincang-bincang dengan Gerald. Mereka tampak akrab. Lindy cantik dan asik. Fina merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
“Fin?” Gerald mencoba menyadarkan Fina yang melamun.
“Fin,” panggilnya sekali lagi.
“Hah? Ya?” Fina tersadar dari lamunannya. Gelagapan.
“Lindy ini seorang penulis. Kamu tahu penulis ‘Spreadlove’? Itu nama pena Lindy,” Gerald menjelaskan.
Fina tercengang bukan main. Fina sangat mengagumi karya-karya Speadlove. Fina sudah mengoleksi beberapa bukunya. Spreadlove sering mengangkat isu kesehatan mental untuk tema buku-bukunya. Mungkin itu juga alasan ia bisa dekat dengan Dokter Gerald.
“Serius? Aku boleh minta foto gak? Ta-tapi nanti aja. Kakak makan dulu aja.” Rasa cemburu Fina berubah menjadi rasa antusias dalam sekejap. Lindy sedang menikmati baksonya yang sedari tadi sudah datang.
“Gak pa-pa sekarang aja. Kalau nunggu baksonya habis nanti keburu gendut,” gurau Lindy. Fina tertawa kecil mendengarnya. Ia merogoh ponselnya, kemudian mengambil foto bersama Lindy. Gerald yang memotret.
“Makasih, Kak. Aku penggemar buku-buku kakak,” ucap Fina polos.
“Oh ya? Makasih, loh. Makasih juga udah dipanggil ‘Kakak’. Berasa lebih muda dan beneran kayak Kakak kamu.” Lindy senang dengan panggilan yang diberi Fina untuknya. Ia melanjutkan menghabiskan baksonya.
“Lindy bisa dekat dengan saya, karena dia sering minta riset ke saya untuk buku-bukunya. I think dia bisa jadi kakak buat kamu. Dia asik kok. Cuman makanya banyak doang. Tapi untungnya badannya tetap terjaga,” terang Geral dengan sedikit melirih untuk bagian ‘cuman makanya banyak doang’
“Kak Lindy cantik, kok. Seru juga kayaknya,” Fina mengungkapkan kesan pertamanya bertemu Lindy.
“Makasih, Adek.” Lindy mengacak-acak puncak rambut Fina, gemas. Ia sedikit menekankan kata “Adek”.
Fina tersenyum. Tiba-tiba ponselnya menerima pesan. Fina mengecek. Ada pesan masuk dari Win di Whats-App.
Tadi pulang sama siapa? Kenapa aku diabaikan?' (emoticon kesal dengan asap di hidung).
Fina tak membalas pesan Win. Ia mematikan sambungan internet di HP-nya, lalu menaruh benda tersebut di atas meja. Fina melanjutkan obrolannya dengan kakak barunya: Lindy.
__ADS_1
...***...