Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Healing


__ADS_3

Sekolah sudah hampir selesai. Acara kelulusan telah dilaksanakan. Berbulan-bulan pasca tubuh Fina mengalami penurunan kualitas, Fina sibuk menyembuhkan diri dengan rutin berkonsultasi ke psikiater dan psikolog. Fina diberi obat oleh psikiater yang menangani masalahnya. 3 jenis obat. Obat untuk depresinya, satu untuk kecemasannya dan satu lagi apabila tubuh Fina mengalami tremor.


Berbulan-bulan ini, Fina tak pernah lagi berkomunikasi dengan Win. Berulangkali ia mencoba menghubunginya lewat saluran telepon namun saat teringat ucapan Mama Win, Fina mengurungkannya. Win pun tidak mengirimkan pesan apapun kepada Fina sejak hari perpisahan.


Selama 2 bulan belakangan ini, Fina lebih sering menghabiskan waktunya bersama Andro, alias Gerald. Fina mengenal Gerald lebih dalam, bukan hanya sekedar sosok Dokter.


Fina membungkukkan tubuhnya, memegang lututnya, bernapas terengah-engah. “Dok, capek...” keluh Fina.


Fina dan Gerald sedang berlari di sore hari.


“Capek? Baru juga berapa meter.” Gerald menghentikan kakinya, memutar balik, menghampiri Fina.


“Gendong,” pinta Fina dengan manja.


“Gendong? Enggak ada gendong-gendong ya, Fina. Baru juga beberapa meter. Yuk lari lagi.” Gerald menolak. Ia membalikkan badan, kembali ke track.


Tiba-tiba sesuatu menghantam punggungnya. Seperti ada beban berat yang ia pikul.


“Hehehe.” Fina cengengesan setelah melompat ke punggung Gerald.


“Fin... Fin... Turun, gak!” suruh Gerald.

__ADS_1


“Enggak mau!” Fina menolak mentah-mentah. “Ayok kuda, jalan!” Fina memukul bokong Gerald, seperti menyambit. Dokter itu pun sontak meringis kesakitan. Pasien macam apa ini?


Mau tak mau Gerald mengikuti perintahnya sebelum pukulan kedua mendarat.


Gerald berlari. Fina berteriak kegirangan-sedikit takut-dibawa berlari di gendongan Gerald.


Gerald mendekatkan Fina ke tong sampah. Ia menurunkan tubuhnya, iseng, membuat bokong Fina nyaris menyentuh tong sampah yang bau itu. Fina merontak, mencoba menghindar dari tong sampah itu. Gerald tertawa puas. Namun tawa itu berubahah menjadi jeritan saat rambut dicengkram hebat oleh Fina.


“Aww!! Fin!! Sakit!!” Gerald meringis.


Gerald akhirnya menurunkan Fina. Mereka berdua duduk di kursi taman.


“Fin...” Panggil Gerald. Ia kembali menutup tutup botol air mineral yang baru saja diminumnya.


“Kamu mengerti, gak, kenapa takdir mempertemukan kita kembali? It sounds miracle.”


“Aku juga gak tahu, Dok. Tapi yang jelas. I’m so gratefull to meet you again.”


“Bantu aku cari jawabannya, ya?” mohon Gerald.


Fina terangguk. “Tapi ada syaratnya.”

__ADS_1


“Apa itu?”


“Kamu diem aja sebentar. Jangan ngobrol. Jangan gerak. Ok?”


Gerald manggut-manggut.


Fina menopang dagunya, menatap wajah Gerald. Mereka saling bertatapan tanpa bersuara. Fina hanya ingin menikmati wajah tampan Gerald untuk beberapa saat.


Fina mulai menyentuh wajah Gerald. Meraba-rabanya. Dari pipi, lalu ke hidung. “Diam! Jangan gerak!” Fina memperingati.


“Oh Tuhan... Ciptaan kamu yang ini indah sekali,” gumam Fina terpukau.


“Ma-maksudnya?” Gerald masih tak mengerti tujuan Fina meraba-raba wajahnya.


Fina tiba-tiba meletakkan tanganya di pinggang, berlagak marah. “Dokter! Dokter kenapa gak jadi model aja, sih?!"


“Kalau Dokter jadi model, Dokter gak akan ketemu kamu.”


“Iya juga, sih.” Fina baru sadar akan hal itu. “Yaudah jangan! Jadi dokter yang ganteng aja.”


Saat itu, Gerald masih tak mengerti tujuan takdir mempertemukannya dengan Fina kembali. Ia sudah kepalang jatuh cinta pada Fina. Hingga muncul rasa takut. Takut kalau kenyataannya semesta mengirimnya pada Fina hanya untuk menjadi dokter pribadinya. Tak lebih, tak kurang.

__ADS_1


...***


...


__ADS_2