Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Rencana Felisha


__ADS_3

Krinng....


Waktu istirahat tiba. Fina bangkit dari kursinya, hendak menuju keluar kelas. Namun, saat ia melintasi meja guru, guru yang sebelumnya mengajar di kelas Fina menghentikan Fina.


“Fina.” Panggil Bu Kinanti. “Kamu mau baca puisi di perpisahan nanti?” Bu Kinanti memastikan.


Fina tak mengerti maksud Bu Kinanti. Pasalnya, ia tak pernah mendaftarkan diri untuk membaca puisi di acara perpisahan. “Saya? Enggak, Bu.”


“Tapi nama kamu sudah terdaftar loh di list siswa yang berkontribusi,” ucap Bu Kinanti sembari merapikan buku-buku yang tergeletak di mejanya.


“Tapi saya gak pernah mendaftarkan diri, Bu,” terang Fina.


“Oh ya? Kalau gitu, kamu coret aja nama kamu dari daftar.” Bu Kinanti menyarankan.


“Baik, Bu.” Fina kembali beranjak keluar kelas. Ia mengambil arah ke toilet untuk buang air kecil sambil memikirkan mengapa bisa namanya tercantum di daftar pertunjukkan siswa untuk perpisahan.


Fina dilungkupi kebingungan. Sesampai di toilet, Fina sedikit terkejut, ia bertemu dengan Felisha dan gengnya yang sedang berias sambil bercermin ria.


Felisha yang melihat kehadiran Fina, menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengolesi lipstik di bibirnya. Ia tersenyum, seolah kedatangan mangsanya. Felisha memasukkan lipstik yang di pakainya kantong bseragamnya. Bibirnya merah merona.


“Gengs... Sebentar lagi ada yang bakal tampil nih.”Felisha berseru kepada kedua temannya.


“Duh, gak sabar nih gue..” Helena menyahut.


“Jangan gempa bumi, ya?” Devi menyinggung. Maksudnya adalah tremor.


Felisha berjalan mendekati Fina. Selangkah demi selangkah. Fina reflek mundur ke belakang. Senyum perempuan itu memancar bak devil, membuat Fina bergidik ngeri. Tubuh Fina tiba di dinding. Ia tak bisa menghindar lagi. Felisha terus mendekat, hingga jarak keduanya tersisa satu jengkal.


“Udah siap tampil di depan banyak orang?” tanya Felisha dengan sebelah bibirnya yang tertarik ke atas.


Fina gemetaran, takut. Ia sampai sulit membuka mulut. Tatapan cewek dihadapannya seperti tengah dirasuki iblis jahat.

__ADS_1


“Gue bisa coret nama gue dari daftar.” Fina membantah. Meskipun lidahnya terasa kelu.


“Silahkan... Tapi itu artinya lo kalah. Lo gak bisa menghadapi penyakit lo.” ujar Felisha.


Fina bungkam. Otaknya mencerna ucapan Felisha.


“Kita lihat aja, siapa pemenangnya. Lo atau penyakit lo.” Felisha ketus. “Yuk, girls.”


Felisha dan kedua antek-anteknya pergi dari toilet dengan meninggalkan dorongan di bahu Fina. Fina masih bungkam. Ia mendadak bisu. Ucapan Felisha membuat otaknya menjadi aktif. Apa menghindar artinya kalah? Apa Fina harus melawan kecemasannya?


...***...


Pagi yang cerah untuk suasana yang baik. Fina menyiapkan sarapan untuk Bapak. Sarapan spesial. Sebuah kejutan untuk Bapak karena Fina sekarang sudah bisa membuat nasi goreng nanas resep Ibu. Meskipun mungkin rasanya tak persis sama.


Bapak tertawa saat Fina menyimpan sepiring nasi goreng nanas di depannya. “Ini kamu yang masak?” Bapak tersenyum bangga.


“Iya dong. Fina belajar buat nasi goreng nanas. Karena ini harus jadi resep turun-temurun di keluarga kita.” Fina duduk di hadapan Bapak.


Sendok pertama masuk ke mulut bapak. Bapak berdecak kenikmatan. “Ehm.. Mantap. Lebih enak dari buatan Ibu.” Bapak memasang ekspresi berlebihan.


“Bapak bangga sama kamu.” Bapak mengacak-acak pangkal rambut Fina. “Kondisi kamu gimana?”


“Fina udah 5 hari ini lepas obat. Alhamdulillah baik-baik aja,” terang Fina.


“Duh... Sekarang anak bapak hebar.” Bapak memuji Fina yang terus mennjukkan perkembangan.


“Anak hebat kan datang dari bapak dan ibu yang hebat juga.” Fina memuji balik.


“Iya, dong, jelas. Bapak kamu ini kan memang hebat.” Bapak besar kepala.


“Dasar.” Fina tertawa.

__ADS_1


Mereka kembali menyantap nasi goreng nanas di piringnya masing-masing. Gelak-tawa mewarnai meja itu. Ibu di atas sana pasti bangga dengan keduanya. Dengan Fina yang sudah bisa bangkit dan Bapak yang penuh kesabaran telah menemani Fina melewati hari-hari berat hingga detik ini.


...***


...


Fina berdiri di rooftop sekolah. Mematung. Sudah lama sekali ia tidak kemari. Sudah lama juga ia tak bertemu dengan orang yang biasa mendampinginya disini. Sebentar lagi acara perpisahan akan dilaksanakan. 3 tahun Fina berada di sekolah ini. Tahun pertama berjalan dengan sewajarnya, tahun kedua ia mulai kehilangan dirinnya, tahun ketiga Fina menjelma menjadi sosok yang baru. Sekolah ini memliki peran penting dalam pertumbuhan Fina. Fina tak pernah menyesali apa yang pernah ia lewati. Yang ia tahu, setiap apa yang terjadi, membawa sebuah alasan.


“Thank you SMA Bina Antaraga. Untuk suka, duka, senang, sedih, tawa, tangis. Untuk hal baik, hal buruk, hal mudah, hal sulit, hal tak terduga. Dan untuk semua emosi yang hadir selama di sekolah ini.” Fina bermonolog.


“Aku gak tahu kenapa kamu selalu menghindar dariku.” Suara laki-laki itu tak asing di telinga Fina. Fina yakin siapa orang tersebut. Namun, ia terlalu takut untuk menoleh ke belakang dan menatap wajahnya. Alhasil ia tetap memunggui orang yang sedang berbicara itu.


“Tapi kalau alasannya karena kamu merasa kurang baik atas banyak hal, kamu salah,” lanjut suara itu. Fina menangkap sebaik mungkin setiap kata yang dituturnya.


“You are good enough, Fina. Gak ada yang salah dari kamu.” Win menegaskan. Satu tetes air mata menetas di pipinya. Fina buru-buru menghapusnya.


“Belajar mencintai diri sendiri. Kamu luar biasa, Fina.” Win menambahkan.


Tak lama suara itu menghilang. Sepertinya Win sudah pergi, membiarkan Fina sendirian merenungkan kata-katanya. Fina menoleh ke belakang. Rooftop kosong melompong. Hanya ada dia seorang disana.


You are good enough, Fina. Gak ada yang salah dari kamu


Kata-kata itu kembali terngiang di kepala Fina.


Belajar mencintai diri sendiri. Kamu luar biasa, Fina.


Kalimat berikutnya menyusul. Fina menangis semakin deras. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganna, membendung air matanya. Ia merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan kepada dirinya sendiri.


Fina selalu merasa kurang. Selalu merasa tak layak atas apapun. Selalu merasa ada yang salah dengan dirinya. Kenyataannya, dia hanya perlu mencintai diri sendiri.


Rooftop itu diwarnai oleh sedu-sedan Fina. Ia akhirnya menyadari betapa naifnya dirinya selama ini.

__ADS_1


...***


...


__ADS_2