
Fina menggeliat di kasurnya. Ia mendudukkan tubuhnya. Fina mengucek-ucek matanya. Membuka kelopak matanya. Batang-batang cahaya pagi menyelinap ke kamarnya melalui ventilasi. Fina melirik jam yang menggantung di dinding. Pukul 08:00. Fina membuka tirai jendela kamarnya. Tiba-tiba suara sayup-sayup peralatan masuk ke telinganya dari arah dapur. Fina mengernyit. Apakah bapaknya belum berangkat kerja jam segini?
Fina melangkah ke sumber suara. Betapa terkejutnya ia melihat seorang cowok yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. Win. Pagi-pagi begini, untuk apa dia ke sini?
“Win?” tanya Fina terkejut.
“Hi, Fin. Udah bangun?’ kata Win sembari menyusun piring-piring di meja makan.
“Kamu kok di sini?” Fina masih sulit mempercayai keberadaan cowok itu.
“Mau breakfast sama calon pacar aku memangnya gak boleh?” singgung Win.
“Boleh, sih. Aku Cuma kaget aja. Kayak apa aja siapin makan segala.”
“Kayak suami maksud kamu?” Win memperjelas maksud ucapan Fina.
“Dikit.” Fina malu-malu mengatakan itu. “Aku mau mandi dulu, ya?”
Win mengangguk. Ia masih sibuk menyiapkan sarapan.
Sembari Win menyiapkan sarapan, Fina bergegas ke kamar mandi. Fina belingsatan sendiri melihat Win ada di rumahnya. Ia membenarkan rambutnya dengan gerakan cepat, tak bisa membayangkan betapa buruk penampilannya sehabis bangun tidur dilihat oleh Win. Fina menyeka sisi mulutnya, barangkali ada sisa air liur menempel disana. Fina cepat-cepat mengambil gayung, membasuh tubuhnya.
...***...
Fina duduk di meja makan, di depan Win, dengan pakaian yang rapi, rambut yang tertata, wajah yang fresh sehabis mandi. Satu kata yang terbesit di benak Win melihat Fina yang baru saja selesai mandi: Sexy.
Mereka berdua menyantap makanan yang sudah tertata di atas meja. Beberapa ada yang Win bawa dari rumah. Seperti sosis goreng, bakso goreng, ayam goreng dan capcai. Sisanya masakan yang memang sudah tersedia di rumah Fina seperti teri pedas.
“Tadi aku sempat ketemu Bapak dan minta izin.” Win memberi tahu.
“Oh ya? Bapak bilang apa?” tanya Fina.
“Bapak kayaknya udah setuju.”
“Setuju apa?”
“Setuju aku siapin sarapan buat kamu.”
“Oh...” Fina hanya ber-oh. Ia tampak kecewa dengan jawabannya. Dia pikir ada hal lain yang bapaknya setujui.
“Eh, BTW, aku mau nanya boleh gak?’ Fina teringat sesuatu yang mengganjal dalam dirinya.
“Apa? Nanya apa? Tanya aja kali.” Win menyuap sesendok nasi ke mulutnya.
“Waktu itu, malam-malam, aku dengar kamu bisik-bisik ke Bapak. Kamu ngomong apa?”
“Kok kamu tahu aku bisik-bisik ke Bapak? Kan, aku bisik-bisik.” Skakmat. Saat itu Fina menguping pembiacaraan Win dan Bapak.
“Tahulah. Kan telinga aku sangat tajam. Udah cepetan jawab.” Fina salah tingkah.
“Waktu itu aku minta izin ke Bapak. Buat macarin anaknya.”
“Hah? Terus kata Bapak apa?” Fina sedikit terkejut.
“Kata Bapak apa? Gak boleh pacar-pacaran. Harus jadi orang sukses dulu.”
Pundak Fina turun mendengar itu. Senyumnya luntur.. Harapannya berguguran seperti daun-daun kering. Ia kecewa kedua kalinya.
Win tertawa tertahan. “Enggak, deng, bercanda. Bapak approve.”
“REALLY?” Fina tersentak di kursi. Tangannya reflek mencengkram tangan Win saking gembiranya, seolah mereka telah meraih sebuah restu yang sangat mereka idamkan.
Win sempat kaget melhat reaksi Fina. Dia mengangguk.
__ADS_1
“Sorry.” Fina bersikap normal kembali, menarik tangannya. Sesaat kemudia wajah bahagianya kembali kentara. Ia tak bisa membendung rasa senangnya.
“Hari ini jadwal kamu apa?” Win bertanya. Pertanyaan itu seperti granat yang jatuh dan menghancurkan kebahagiaannya beberapa detik lagi.
“YAAMPUN.” Fina melupakan satu hal.
“Kenapa?” Win bingung melihat perubahan ekspresi Fina.
"Aku ada janji sama psikolog aku.”
Tin!!!
Tiba-tiba suara klakson mobil menyelinap di sela-sela pembicaraan mereka. Mobil yang sama yang menjemput Fina di sekolah.
“Cowok yang waktu itu jemput kamu di sekolah?” Win teringat kejadian itu. Selera makannya tiba-tiba menghilang.
Fina mengangguk. “Tunggu bentar, ya.” Fina menyamperi Gerald di luar rumah. Win ditinggal sendiri di meja makan. Dia tak menyukai pria itu.
Gerald keluar yang terparkir di sisi jalan, di depan rumah Fina. Fina baru ingat hari ini ia punya janji dengan Gerald untuk pergi ke Mall. Pria itu sempat memusatkan perhatiannya ke motor vespa matic yang sedang digemari anak-anak muda sekarang yang terparkir di garasi rumah Fina. Gerald bisa menebak kalau Fina sedang kedatangan tamu dari sekolahnya.
“Lagi ada tamu, Fin?” tanya Gerald.
“Ada Win.” Fina menjelaskan sambil cengengesan. “Masuk dulu, Dok.”
Mereka bedua bergabung bersama Win di meja makan. Gerald menyalami Win yang nampak tak menyukai kedatangannya jika dilihat dari wajahnya.
“Kita ke Mal bertiga aja, ya?” Fina membuat keputusan. Ia tampak kerepotan menyatukan dua cowok itu.
“Hah? Bertiga? Gak, pa-pa kalau kalian berdua mau jalan, jalan aja. Aku bisa pulang.” Win menolak.
“Gak pa-pa, Bro. Bertiga aja biar seru.” Gerald menepuk-nepuk pundak Win, memberi penawaran.
“Iya, ikut aja ya, Win. Biar seru.” Fina membujuk Win.
Win mengangguk-angguk lemas.
“Yeay...” Fina berteriak girang. “Motor Win bisa taruh dalam rumah aku aja. Kita kesana naik mobil bertiga.”
...***...
Mereka akhirnya pergi ke Mal bertiga menggunakan mobil Gerald. Tentu saja Gerald yang menyetir. Win menolak mentah-mentah saat ditawari duduk di kursi depan. Dia ingin bersama Fina di jok belakang. Fina juga tak ingin duduk di depan. Akhirnya kursi itu kosong tak berpenghuni. Pemandangan itu tampak sedikit aneh memang jika dilihat dari luar kaca mobil.
Sedari tadi bibir Win terus melengkung cemberut. Lebih-lebih saat Gerald dan Fina berkomunikasi, terutama mengenai hal-hal yang ia tak mengerti.
“Kamu udah baca buku Lindy yang terbaru belum, Fin?” tanya Gerald.
“Belum sempat, Dok, hehe.” Fina menyengir.
“Bagus itu. Baca deh.” Gerald menyarankan.
“Iya deh nanti aku baca.”
Win hanya terdiam, terbakar cemburu. Ia mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Fina kepadanya.
Win mengeluarkan ponselnya dar kantong, mengetik sesuatu. Satu pesan terkirim.
“Kamu belum baca whats-app aku, ya?”
“Hah? Yang mana?” Fina bingung, tak mengerti maksud Win. Ponselnya memang ia silent jadi tak ada dering dan getar jika ada chat atau pesan masuk.
Fina merogoh ponselnya di tas selempang yang dipakainya. Ada satu chat masuk dari Win yang belum terbaca.
Win: Lindy siapa? Anak sekolah mana? Aku baru tahu kamu punya teman yang namanya Lindy. Buku apa maksudnya?
__ADS_1
Sontak Fina tertawa membaca chat dari Win. Ia mengetikkan balasan sambil tak bisa berhenti tersenyum.
Fina: Lindy penulis. Teman Dokter. Dia baru launching buku baru. Kenapa? Mau temenan juga? Mau aku kenalin?
Win membalas chat Fina. Gerald melihat kaca spion yang menggantung di tengah mobil. Dia bisa tahu kalau dua remaja di jok tengah sedang melakukan chat jarak dekat.
Win: No... Nanti dia naksir sama aku.
Fina tersenyum lagi membaca chat itu.
Mereka sampai di Mal. Fina jalan beriringan dengan Gerald dan Win, diampit dua cowok itu. Sekilas mereka seperti sebuah keluarga. Kakak tertua, kakak tengah dan si bontot Fina. Gerald terlalu muda jika harus disebut Ayah. Tinggi mereka jika disejajarkan sesuai urutan menyerupai tangga, lucu sekali.
“Mau beli es-krim kesukaan kamu?” Gerald menawarkan.
“Es krim stroberi! Hukumnya wajib!” Fina kegirangan.
Win membuang muka. Bahkan ia baru tahu Fina suka banget es-krim stroberi. Tapi Win yakin, Gerald pasti tidak tahu soal nasi goreng nanas.
“Mau makan makanan kesukaan kamu? Udah lapar belum,” tanya Gerald setelah Fina mendapatkan es-krim yang dia mau. Win dibuat pelongo. Cowok itu tahu semuanya tentang Fina, bahkan mungkin melebihinya. Win tak bisa terima.
“Nasi goreng nanas! Tapi, emang ada? Nanti aja deh. Aku mau main time-zone dulu.” Fina Menyuap es krim stroberi di tangannya. Ia seperti anak kecil yang dimanjakan oleh Gerald.
Mereka pergi ke tempat permainan. Fina menantang Gerald dan Win untuk bertanding skor bermain permainan basket. Win dengan angkuhnya menerima tawaran itu. Gerald hanya manggut-manggut.
“Oke! Siapa takut!”
Win dan Gerald mengambil tempat. Win berancang-ancang, melenturkan otot-ototnya. Fina berdiri diantar mereka, berhitung.
“1... 2... 3...”
Kartu digesek ke mesin permainan. Bola-bola basket berjatuha. Win dan Gerald mulai melemparkan bola-bola itu satu demi satu ke ring. Sejauh ini Win memimpin. Win menyinggungkan senyum angkuh ke Gerald yang main begitu santai. Terlalu santai baginya.
Treng...
Waktu permainan habis. Pemenangnya adalah Gerald. Win terperangah melihat skor Gerald yang lebih besar darinya di akhir.
“Pemenangnya adalah Dokter...” Fina mengumumkan.
Win tampak tak percaya dengan hasil akhir pertandingan mereka. Gerald hanya tersenyum merendah.
“Lo mainnya terlalu terburu-buru Bro. Terlalu banyak upaya melempar, tapi sedikit yang masuk. Lo kehilangan score yang dilipat gandakan.” Gerald memberi tahu taktiknya pada Win.
Wajah Win masam. Ia tak terima kekalahannya. Mereka bertiga keluar dari zona permainan itu.
Gerald izin ke kamar mandi sebentar kepada Fina. Fina dan Win duduk di kursi berdua. Es krim Fina masih menyisa. Ia mencoba menghabiskan itu.
“Dia kayaknya tahu banget, ya, tentang kamu. Melebihi aku. Aku jadi iri.” Win berkata sendu. Wajahnya kusut.
“Namanya juga psikolog aku.” Fina menjelaskan.
“Apa aku harus jadi psikolog dulu biar tahu semuanya tentang kamu?”
“Gak harus. Jadi Win yang aku kenal aja. Aku lebih suka itu.” Fina meyakinkan Win. Ia tersenyum Win menatap Fina luluh. Sikap kekanak-kanakannya keluar lagi.
“Ehm... Aku makin suka sama kamu kayaknya.” Win menyandarkan kepalanya di bahu Fina dengan manja.
Cekrek!!
Satu foto berhasil ditangkap. Seseorang-eh, atau dua orang?-memata-matai mereka. Mata-mata itu segera pergi setelah mengambil gambar di moment yang tepat. Satu-dua foto saja sudah dirasa cukup untuk bahan laporan.
Tak lama, Gerald kembali dari toilet, melihat Win yang bersandar di bahu Fina dengan mata terpejam, menikmati moment. Fina bangkit dari kursinya membuat Win reflek mengikuti. Mereka pulang ke rumah Fina.
...***...
__ADS_1