Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Diagnosa


__ADS_3

Setelah beberapa hari murung, melihat kartu nama Dokter Gerald, Fina akhirnya memutuskan untuk melakukan konsultasi. Fina datang ke klinik tempat Gerald buka praktek. Mereka sudah membuat janji temu. Dokter Gerald mempersilahkan Fina masuk begitu ia tiba di klinik.


Fina masuk ke salah satu ruangan. Pergerakannya begitu kaku. Ia baru pertama kali melakukan konsultasi seperti ini. Meskipun ruangannya teramat nyaman, dilengkapi dengan pendingin ruangan, sofa, lukisan cantik, dan tanaman hias di beberapa sudut, tetap membuat Fina merasa gugup.


“Gak pa-pa. Santai aja.” Gerald seolah mengetahui perasaan Fina.


Gerald meminta Fina duduk di salah satu sofa yang berhadapan langsung dengan sofa miliknya. Obrolan dimulai.


“Ada apa Fina? Ada yang berat belakangan ini?” Gerald membuka percakapan. Suara lembutnya masuk ke telinga Fina.


Fina meneguk ludah. Ia mulai larut dalam kesenduan. “1 tahun lalu, Ibu meninggal. Itu hal yang sangat berat untuk aku. Rasanya aku menolak kuat-kuat kalau Ibu sudah gak ada. Satu tahun terburuk dalam hidupku. Usiaku waktu itu 17 tahun dan aku jatuh depresi.”


Fina menjeda sejenak ucapannya. Matanya berlinang. Kenangan bersama ibu kembali menghampirinya.


“Kamu kuat sekali bisa melewatinya.” Gerald merespon cerita Fina. Dokter itu meminta Fina melajutkan cerita untuknya.


“Depresi. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya. Aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri ‘apakah aku sudah gila?’. Orang-orang menatapku aneh tiap kali mengetahui fakta kalau aku adalah penderita depresi. Aku merasa aneh saat di keramaian. Merasa tak pantas atas siapapun. Itu sebabnya aku selalu menghindar dari orang-orang, karena aku terlalu takut akan penolakan mereka mengenai siapa diriku sebenarnya.” Satu tetes air mata berlabuh di pipi Fina. Hari-hari berat itu, terputar di kepalanya bagai sebuah layar bioskop.


“Sebenarnya, dalam dunia medis, kamu tidak bisa mendiagnosa dirimu sendiri depresi, meskipun hari-harimu rasanya berat untuk dijalani. Dan kecemasan saat di karamaian seperti yang kamu katakan, namanya dalam dunia psikologi disebut Social Anxiety Disorder. Tapi its OK. Aku akan bantu kamu untuk sembuh. Dan mendengar ceritamu barusan, aku sangat yakin kamu punya kekuatan,” terang Dokter yang sempat merintih pendidikan di Canberra itu.


Social Anxiety Disorder.


Fina mencari tahu lebih dalam mengenai penyakitnya setelah didiagnosa Dokter Gerald.


Dalam bahasa Indonesia, istilahnya kecemasan sosial. Sebuah gangguan mental yang membuat penderitanya enggan untuk bersosialisasi. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti takut akan pemikiran orang, merasa ada yang salah dengan dirinya dan tidak diterima di masyarakat. Penderita kecemasan sosial memiliki krisis kepercayaan diri. Salah satu terapi yang digunakan adalah dengan menuliskan kelebihan-kelebihan diri sendiri.


...***...


Win bersama teman-temannya, seperti biasa menghabiskan waktu istirahat bersama di kantin. Hari ini, Dery tak banyak mengoceh. Tak banyak menggoda cewek yang lewat juga. Wajahnya ditekuk, membuat cowok playboy itu terlihat begitu lemah. Ia baru saja ketahuan selingkuh dengan adik kelas oleh Fuji, pacarnya.


Win mengelus-elus punggung sahabatnya. Ikut prihatin. “Berdoa aja Der, semoga kesabaran Fuji masih ada. Udah ketiga kalinya kan lo kayak gini?”

__ADS_1


Dery masih cemberut. Spagheti yang dibelinya ia jadikan mainan. Dililit, diputar-putar, membuat Hersa yang melihatnya berdecak jijik.


“Seharusnya lo bersyukur, Der, punya pacar penyabar kayak Fuji! Dia bertahan sama lo bukan karena bego! Lo tahu kan dia pintar? Dia cuma bersikap dewasa karena tahu lo masih kekanak-kanakan.” Ahdan memberi nasihat seakan paling ahli dalam urusan percintaan. Meskipun sekarang ia jomblo, tetapi ucapannya ada benarnya juga.


“Tumben lo benar, Dan!” Win memuji (atau mengejek?).


Hersa memilih bungkam. Ia sudah lumayan bosan dengan permainan Dery yang tukang selingkuh. Cowok itu menyeruput es soda miliknya dengan cool sembari bersandar santai di kursi.


Tiba-tiba datang sosok Fina. Fina memanggil Win, memberi kode agar cowok itu mendekatinya.. Win langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri Fina.


“Pulang sekolah ada waktu?” tanya Fina dingin.


“Hm... Iya, kenapa?” Win memikirkan jadwal kegiatannya sepulang sekolah. Ia punya banyak waktu luang.


“Antar gue ke suatu tempat, bisa?”


Tentu Win tak menolak. Tetapi, ia masih heran. Tak ada angin, tak ada hujan, cewek itu mengajaknya bicara, walaupun masih dengan nada datar.


“Pulang sekolah janjian di parkiran.” Fina membuat janji kemudian bergegas pergi, kembali ke kelasnya,


“Oke oke.” Teriak Win bersemangat. Ia mengepalkan tangannya di udara, bersorak girang. Win kembali ke mejanya. Teman-temannya hanya mengernyit dahi menyaksikan sikap Win.


...***


...


Fina mengajak Win ke suatu tempat. Salah satu tempat paling bersejarah dalam hidupnya. Tempat dimana ia sering menghabiskan waktu bersama Ibu nya sewaktu kecil. Sebuah danau. Tempat ini sudah banyak berubah sejak terakhir kali Fina ke sini bersama Ibu. Lebih asri, lebih bersih, lebih teduh.


Fina dan Win duduk di tepi danau. Saling menekuk lutut, memandang perairan yang tenang.


“Dulu waktu kecil, gue sering ke sini sama Ibu. Menunggu Bapak pulang kerja,” Fina tepekur menatap pemandangan di depannya. Angin-angin kecil menerbangkan anak-anak rambutnya. Win terdiam, menyimak.

__ADS_1


“Tapi itu dulu. Sekarang gue udah besar dan Ibu udah gak ada.” Win tertegun mendengar ucapan Fina. Ia baru mengetahui kalau Ibu Fina sudah tiada.


Ekspresi Win mendadak serius. Apalagi saat melihat sorot mata Fina yang penuh kehampaan, seolah ia bisa merasakan rasa kehilangan cewek itu. Ia kembali menyimak. Fina meneruskan kalimatnya.


“Butuh waktu satu tahun untuk gue bisa benar-benar memulai hidup baru tanpa Ibu. Tetapi ternyata, kepergian Ibu berdampak ke emosional gue.” Ucapan Fina semakin mendalam.


“Sebuah fakta kalau gue jatuh depresi. Seharusnya gue bisa lebih kuat dari ini, ya? Gue merasa bersalah atas kesedihan gue.” Sepasang mata Fina mulai teredam air.


“Mungkin gue udah gila.” Fina tersenyum kecut. Membayangkan hari-hari beratnya selama satu tahun belakangan ini.


“Orang selalu menunjukkan perangai aneh tiap kali mendengar ada penderita depresi. Tapi, bukankah depresi terjadi karena kita manusia?” Satu tetes air mata membelah pipi Fina. Iateringat bagaimana saat itu orang-orang menatapnya.


“Stigma masyarakat membuat mental gue hancur seutuhnya. Gue merasa aneh, merasa gak normal. Rasanya orang-orang akan menjauh setelah mendengar fakta tentang gue.” Fina menghapus air matanya, namun tetesan-tetesan baru terus menetas.


Air mata Fina semakin deras. Dengan gerakan cepat Win menarik Fina ke dalam pelukannya, tak menyangka atas apa yang dilalui cewek itu. Pasti berat untuk dia hadapi sendiri.


“Apa gue salah buat merasa gak baik-baik aja, Win? Jawab, Win, jawab gue!” Fina terisak di dada Win. Akhirnya ia punya tempat untuk meluapkan segala emosinya saat ini.


“Enggak, Fina! Lo gak salah! Lo gak aneh! Gak pa-pa untuk merasa gak baik-baik aja.” Win mengeratkan pelukannya. Ia dapat merasakan betapa beratnya yang Fina alami.


“Tapi kenapa orang-orang begitu jahat? Orang-orang menatap gue aneh, menjauhkan gue, menganggap gue gila.” Fina tersedu-sedan. Seragam bagian dada Win sampai basah karena air matanya, membentuk lingkaran.


“You are strong, Fina. Gue gak bakal melakukan itu ke lo. Lo cuma sedikit syok karena kepergian Ibu lo. Its fine. Aku akan bantu kamu untuk bangkit kembali” Win mengelus-elus lembut pangkal kepala Fina, memberi ketenangan.


Win menjadi teman Fina pertama yang membuat Fina bisa leluasa menceritakan masalahnya. Fina tak pernah menyangka, Win bisa menerima semua kerusakan dalam dirinya. Selama ini ia selalu takut mendapat penolakan darinya, tetapi ternyata Win berbeda. Win memeluk semua kehancuran itu. Win memandang Fina sebagai manusia, ketika kebanyakan orang memandangnya aneh.


Hari itu, di tepi danau, Fina akhirnya mendapatkan tempat pulang. Mendapatkan satu alasan lagi untuk tetap melanjutkan hidup. Mendapatkan satu lagi orang yang menyayanginya. Mungkin ini adalah timbal-balik karena Fina sudah menemukan kunci motornya kala itu.


...***


...

__ADS_1


__ADS_2