
Istirahat kali ini, geng The Girls dengan geng Dewasa- Dery, Win, Ahdan, Hersa- duduk menyatu di satu meja, meja yang bisa dikuasai oleh geng Dewasa. Baru-baru ini mereka membuat grup Whats-App bersama, menyatukan 3 pasang kekasih. Nama grup itu dinamakan “Rantai Manusia”. Sebuah nama grup penuh filosofi. Yang memiliki arti; setiap manusia saling terhubung dan membutuhkan seperti rantai. Kalian pasti sudah bisa menebak buah pemikiran kreatif siapa itu. Yup, tak lain dan tak bukan adalah Win Denova.
“Bisa kering gue lama-lama gabung di grup ini.” Ahdan mengkhawatirkan dirinya yang masih jomblo melihat pemandangan 3 pasang kekasih di depan matanya.
Ahdan melirik 3 pasangan itu secara bergantian yang tengah bersikap berbeda-beda. Ada Fina yang bersandar di bahu Win, Fuji yang menyuapi Dery makan siang dan Hersa yang tangannya digenggam Letta di atas meja.
“Kalau disuruh buat ranking 3 pasangan ini...” Ahdan meletakkan tangannya di dagu yang tertopang di meja. Matanya menyipit, seolah sedang menganalisis. “Yang paling romantis, gak tahu kenapa juaranya pasangan Win dan Fina.” Ahdan berkata baku mengikuti gaya bicara pembawa acara yang sering muncul di televisi.
“Yang kedua pasangan Dery-Fuji. Tersakhir Hersa-Letta. Sa! Lo gak ada bahagia-bahagianya amat mukenye di genggam tangannya gitu sama cewek secakep Letta.” Ahdan memaki Hersa yang kaku dan cuek. Kenyataannya memang seperti itu. Ahdan tidak menunukkan reaksi apapun digenggam Letta. Bukan karena dia gak mencintai Letta, tapi karena manusia manekin yang serba kikuk.
“Ih, Ahdan apaan, sih! Siapa yang pacaran siapa yang ribet! Lo sahabarnya masa gak kenal siapa Hersa! Dia mukanya aja cuek. Hatinya tetap buat gue.” Letta tak terima pacarnya dihina Ahdan. Kontan ia lansung melemparkan pembelaan.
Hersa merasa tersentuh dengan pembelaan Letta. Akhirnya cowok itu tahu bagaimana cara merespon yang baik. Ia mengacak-acak rambut Letta dengan gemas.
“Tahu! Nih, jomblo berisik banget! Siapa yang naro disini, sih, hah?” Dery tolah-toleh ke Win dan Hersa, menunggu jawaban.
Win mengedikkan bahu.
“Ya-Allah jahat banget. Mentang-mentang punya pacar lupa samasahabat sendiri.” Ahdan bekata dengan bibir mengkerucut.
“Gak gitu Ahdan sahabatkuh yang paling kucintah dan kusayangi.” Win menepuk-nepuk lengan Ahdan, berkata hiperbola yang langsung mendapat respon ketawa dari satu meja.
“Duh... Seru banget, sih, disini. Jadi pengen hang-out bareng kalian.” Fuji berkata asal.
“YUK!” Win merespon cepat tanpa pikir dua kali. Rencana itu terbayang akan sangat seru di kepalanya.
“Hah, serius?” Fuji tak menyangka celotehannya mendapat kata “YES” dari Win secepat itu.
“Iya. Gue yang bayarin, deh.” Win memberikan penawaran.
“ASIKKKK!! YEAYYYY!” Sontak satu meja langsung berteriak heboh mendengar kesultanan Win keluar.
...***...
Rencana untuk hangout bersama rupanya bukan sekedar kata-kata belaka. Win memegang janjinya untuk membawa teman-temannya berlibur. Win memilih resort sebagai tempat untuk mereka menginap beberapa hari. Resort yang sangat cantik, yang berdiri berhadapan langsung dengan laut. Mereka memesan 2 kamar yang saling berhimpitan. Satu untuk markas perempuan satunya lagi untuk laki-laki. Masing-masing kamar memiliki pemandangan pantai. Ketika pintu kaca kamar di buka, gulungan ombak sudah menanti. Pilihan tempat yang tepat untuk menghabiskan hari-hari bersama pacar.
Mereka berangkat dengan menggunakan 2 mobil untuk 8 orang. Satu kursi kosong diisi oleh Yola yang diminta oleh Ahdan untuk menjadi partner berliburnya beberapa hari, meskipun dengan sedikit terpaksa, namun sukses memancing gelak tawa. Ahdan ibarat menelan ludah sendiri. Ia menjelek-jelekkan Yola diawal, tetapi mereka berakhir menjadi pasangan berlibur seperti teman-temannya yang lain.
“Gue gak nyangka Ahdan ngajak Yola buat jadi pertnernya.” Win menyetir mobil seraya menahan geli pasca melihat kehadiran Yola di agenda berlibur mereka. Win, Fina, Hersa, Letta, mereka berada satu mobil. Sedangkan Derry, Fuji, Ahdan dan Yola di mobil lain yang dikendarai oleh Derry.
“Sama... Tapi, paling gak kita ada hiburan. Liat mereka berdua berantem sepanjang hari.” Letrta menanggapi. Ia tak kalah terkekeh.
“Curiga bakal cinlok.” Fina memiliki insting.
“Gue approve kalau mereka cinlok.” Hersa berkata dengan suara seraknya.
“Bisa awet muda, ya, beb, kalau mereka sampai pacaran?’ tanya Letta pada pacarnya yang duduk tepat di sebelahnya. Hersa manggut-manggut, membuat Letta gemas.
__ADS_1
“Em.... Gemesin banget, sih.” Letta memainkan pipi Hersa seperti mainan tanah liat. Kontan, Win melirik ke kaca di atasnya yang memantulkan bayangan di jok belakang.
“Hei.. Hei... Masih di perjalanan ini!” Win mengingatkan kepada mereka berdua yang sudah melakukan adegan romantis sebelum tiba
.
Mobil yang dikendarai oleh Win dipenuhi oleh canda-tawa. Berbeda dengan mobil yang dikendarai Dery yang dipenuhi perdebatan antara Ahdan dan Yola.
“Gak usah sok imut duduknya. Gak usah merasa spesial karena gue ajak. Gue cuma gak mau jadi bulan-bulanan temen-temen gue aja,” terang Ahdan pada Yola. Padahal Yola merasa ia duduk di mobil seperti biasanya. Tidak dibuat-buat. Yola pergi dengan tetap menggunakan bando kuning.
“Gue duduk biasa aja, Sawo! Lo nya aja yang sewot! Gue cekek lo!” bantah Yola dengan nada yang tak kalah nyaring. Fuji hanya geleng-geleng kepala melihat perkelahian keduanya.
“Kamu tim mana? Bando kuning atau Sawo matang?” Dery yang sedang memegang stir mobil menyondongkan tubuhnya ke samping, berbisik pelan kepada Fuji yang duduk di sebelahnya. Fuji tak menjawab, hanya tertawa.
Setelah sekitar 2 jam Win dan Dery memutar-mutar stir mobil, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Masing-masing membawa barang pribadinya dari parkiran mobil menuju kamar penginapan.
Fina sempat nyaris kejatuhan jinjingan berisi tumpukan baju saat ingin mengeluarkannya dari bagasi mobil. Namun, keburu ditolong oleh Win. “Sini biar aku aja. Kamu duluan aja ke resort.”
Win membawa koper. Tidak menggunakan kantong atau jinjingan untuk barang-barangnya seperti yang lain. Jadi ia bisa membantu membawakan barang-barang milik Fina.
Setibanya di kamar masing-masing, geng cowok dan geng cewek sedikit berkemas dan berganti pakaian. Kemudian mereka langsung menyambar pantai, bermain air di sana.
Pasangan-pasangan itu saling mencipratkan air satu sama lain. Sembari kejar-kejaran, ketawa, penuh hal-hal romantis. Kecuali Ahdan dan Yola. Mereka tak ada romantisnya sedikitpun. Saling mencipratkan air tanpa perasaan yang malah kelihatan seperti perang air. Tidak kejar-kejaran, tapi dorong-dorongan di laut, saling menjatuhkan lawan mainnya.
...***
...
Mereka duduk membentuk lingkaran. Tanpa perlu diminta, para cowok pasti sudah inisiatif untuk duduk di samping para bidadarinya. Mereka akan bermain “Spin”. Seperti permainan spin pada umumnya yang biasa kalian lihat di pasar malam atau acara game di teleisi. Hanya saja kali ini spinnya menggunakan aplikasi di ponsel. Sudah ada daftar nama-nama pemain beserta pertanyaan-pertanyaan sulit dan memalukan yang telah dibuat, yang dimana keduanya akan di “spin” secara berurutan.
Permainan dimulai. Tombol spin ditekan di layar ponsel. Anak panah menunjuk nama Fuji begitu papan spin berhenti berputar. Kemudian dilanjut dengab memutar papan pertanyaan.
Pertanyaan: Apa yang ingin kamu lakukan kepada pasangan kamu untuk ke depannya.
Fuji tersenyum membaca pertanyaan untuknya secara otomatis. Teman-temannya memberi waktu Fuji untuk berpikir.
“Mampus, firasat gue gak enak.” Dery ketar-ketir. Tiba-tuba jantungnya berdebar takut mendengar jawaban Fuji.
“3.. 2.. 1..” Win menghitung mundur. Waktu untuk berpikir habis.
“Aku akan mengubah dia menjadi laki-laki yang setia.” Fuji menjawab nampak tulus, membuat Dery tersentuh.
“Aaa... semangat sayang kamu pasti bisa.” Dery menyemangati Fuji yang justru malah membuat tawa pecah di kamar itu. Dasar Dery!
Papan spin kembali di putar. Berhenti tepat di nama Hersa. Hersa merespon dingin. Seolah tak masalah baginya.
Pertanyaan untuknya diputar.
__ADS_1
Pertanyaan: Apa yang ingin kamu katakan pada pasangan kamu.
Orang-orang disekitar menunjukkan wajah yang seolah berkata “Mana bisa dia mengatakannya.”. Mereka tahu Hersa paling lemah soal mengungkapkan isi hati. Bahkan berbicara saja ia jarang, seolah di dunia ini bicara bayar. Tetapi Letta percaya Hersa bisa melakukannya.
Setelah cukup lama diberi waktu, bibir Hersa bergerak. “Makasih untuk kehangatannya.”
“AAAAAA...” Sontak para pemain berdecak manja serempak. Tak percaya Hersa mengucapkan kalimat semanis itu. Mereka pikir pasti jawaban Hersa akan sangat membosankan. Tetapi ternyata ia bisa melakukan hal seromantis itu.
“Sama-sama...” Letta membalas dengan senyuman penuh arti.
Putaran berikutnya, jatuh ke Win. Pertanyaan untuknya diputar kemudian.
Pertanyaan: Bagian tubuh mana yang paling disukai dari pasangan.
Win meletakkan tangannya di dagu, nampak berpikir keras. Pertanyaan yang terdengar mudah, tetapi sulit baginya.
“Sulit kalau hanya disuruh pilih satu.” Win memandangi Fina lekat-lekat “Coba biar aku lihat dulu.”
Fina salah tingkah ditatap sedekat ini dihadapan teman-temannya.
“Aw... Gak kuat, gue.” Yola memekik seperti ada setruman yang menyengatnya. Ahdan mendorong bahu cewek itu pelan karena dianggap merusak suasana romantis. “Berisik!”
“Semuanya.. Tapi kalau harus dipilih satu... Matamu...Matamu buat aku jatuh cinta hanya dengan satu detik aku menatapmu.”
“Aaaa...” Cewek-cewek berdecak manja.
Selanjutnya papan spin berhenti di nama Ahdan. Ahdan menggosok-gosok telapak tangannya, membuat kehangatan, bersiap-siap menjawab pertanyaan.
Pertanyaan: Apa rencanamu untuk hubungan kamu dengan pasanganmu.
“Memusnahkan.”
Boom. Seakan ada ledakan bom di dasar laut setelah Ahdan berkata seperti itu. Ahdan menjawab dengan begitu mantap.
Tawa kembali menyebar. Ahdan mendapat protesan dari Yola.
“Siapa juga yang mau mempertahankan hubungan ini. Ah..., harusnya gue tolak permintaan lo buat ikut ke sini, ya. Dasar gak tahu terima-kasih!” Yola mencercos. Ucapannya itu menunjukkan penyesalan, namun seperti ada sisi dimana ia tak terima jawaban Ahdan untuk hubungannya. Itu terlalu berlebihan baginya.
“Iye.., iye.., Makasih Olla...” Ahdan mengalah. Berkata dengan nada yang sengaja dihaluskan. Meskipun sebenarnya dirinya terlalu gegsi melakukan itu ke musuhnya sendiri.
“Cie.. Cie..” Fina menggoda keduanya. Sebuah penampakkan yang langka Ahdan berkata dengan nada serendah itu kepada Yola, tidak melengking.
Permainan itu berakhir ketika para cewek sudah mulai berjuang untuk tetap melek. Terutama Fuji yang tak biasa tidur larut malam. Mereka pun kembali ke kamarnya, meninggalkan keempat cowok yang sebenarnya dirasuki semangat membara bermain dengan para gadis. Keempat cowok itu mengeluh bersama saat cewek-cewek memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tetapi apa boleh buat.
“Dah, Fin... See you in your dream.” Win mengucapkan selamat tinggal kepada Fina. Begitupula dengan cowok-cowok yang lain kepada pasangannya masing-masing.
...***...
__ADS_1