Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Reuni Dua Teman Kecil


__ADS_3

Fina dan Gerald sedang menuju suatu tempat. Fina yang meminta Gerald untuk mengantarnya ke tempat itu. Gerald sendiri tak tahu kemana mobilnya akan melaju. Dia hanya mengikuti aba-aba dari Fina sebagai petunjuk arah.


“Mau kemana sih kita?” tanya Gerald penasaran.


“Ada deh. Ikutin aja pokoknya.” Fina masih merahasiakan. “Nanti di depan belok kanan.”


Gerald hanya terangguk patuh. Kakinya menginjak pedal gas, mempercepat laju mobilnya.


Gerald memarkirkan mobilnya di salah satu ruko kosong. Mereka jalan kaki menuju ke sebuah gang permukiman yang sempit. Fina menuntun Gerald menyusuri tempat itu. Gerald hanya mengikuti kemana Fina pergi tanpa banyak bicara.


Di tengah-tengah gang itu, ada sebuah taman bermain kecil untuk anak-anak. Fina dan Gerald duduk di ayunan yang tak berpenghuni. Mengayun-ayunkan dengan relaks tubuhnya di sana.


“Dokter tahu gak, dulunya tempat ini adalah lapangan luas.” Fina membuka topik percakapan.


“Really?” tanya Gerald.


Fina mengangguk. “Dulu, kalau ada pesawat lepas landas, kelihatan dari sini. Karena letak lapangan ini dekat dengan tempat penerbangan pesawat.”


Tiba-tiba Gerald terdiam mendengar cerita Fina.


“Dulu ada dua orang anak kecil, yang suka duduk di kursi taman lapangan ini. Melihati pesawat-pesawat yang melintas, sambil menikmati es-krim rasa stroberi.”


Gerald masih membisu. Fina melanjuitkan ceritanya.


“Tapi suatu hari salah satu anak itu harus pergi menaiki pesawat itu demi mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter.”


“Aku bangga sama anak itu. Sekarang anak itu sudah menjadi dokter yang hebat. Yang menghapus air mata pasien-pasiennya.” Fina menatap Gerald dengan binar kebanggaan.


“Fin... Kamu udah tahu semuanya? Maaf aku belum bisa bilang ke kamu. Aku gak mau hal ini mengganggu proses penyembuhan kamu.” Gerald, atau yang dulu biasa dipanggil Andro menjelaskan.


Fina tiba-tiba mengajak Gerald berdiri. Menyambut lembut tangan kekar itu. Mereka saling berhadapan. Fina mendongak lantaran tubuh Gerald lebih jangkung darinya.


“Ini pertanda apa?” lirih Fina. Ia masih tak mempercayai kalau mereka dipertemukan kembali setelah 11 tahun berpisah. Semua terasa diluar nalar. Seperti cerita-cerita dongeng dengan alur yang ajaib.


“Mungkin ini yang dinamakan takdir,” terang Gerald.


Entah mengapa, rasanya Fina ingin memeluk Gerald atau Andro lagi. Fina melingkarkan lengannya di tubuh atletis Gerald. Kepalanya bersandar di dada bidangnya. Begitu lekat sampai ia dapat mendengar suara detak jantungnya.

__ADS_1


“Terimakasih sudah kembali dan menghapus air mataku, Andro.” Fina berkata dengan penuh perasaan.


“Sama-sama, Fina.” Gerald mencoba mengusap rambut Fina. Awalnya ia ragu. Gerakannya tertatih. Namun pada akhirnya ia berhasil melakukan hal romantis itu.


-Flashback-


Andro kecil berdiri di depan tubuh Fina. Mereka saling tatap satu sama lain. Andro harus sedikit menunduk lantaran tubuh Fina yang lebih pendek darinya. Sedangkan Fina harus mendongak ke atas.


“Besok aku akan pergi, Fina,” kata Andro berpamitan.


Beberapa saat Fina kecil terdiam. Wajahnya masam.


“Tapi janji, ya, beliin aku es-krim stroberi yang banyak kalo kamu udah jadi dokter.”


Andro tersenyum dan menggangguk. Wajah masam Fina kembali berbinar menerima janji dari Andro.


Andro memeluk tubuh Fina yang mungil, selayaknya yang dilakukan Andro dewasa dan Fina dewasa saat ini.


...***...


Cuaca sore ini cerah sekali. Awan-awan terlihat menggumpal di langit biru muda bak kapas. Tidak terik, tidak juga mendung. Angin sore berseliuran, seperti alunan suling.


Fina meringkukkan tubuhnya, masuk ke mobil Gerald. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui terpasang bantal penyangga kepala di jok mobil Gerald berwarna merah muda dan bermotif stroberi. Hidungnya pun mendeteksi aroma yang baru. Fina melirik ke pengharum mobil yang menggantung di atasnya. Pengharum mobil itu beraroma stroberi.


“Do you like strawberry?” tanya Gerald tersenyum melihat Fina yang begitu senang.


“Yes...” Fina menjawab dengan semangat.


“Do you like me?” tanya Gerald sekali lagi.


“Hm... I dont know.” Fina tak bisa menjawab pertanyaan Gerald.


“Its OK.” Gerald mengambil sesuatu di jok mobil bagian tengah. Benda lembut berukuran cukup besar itu ia berikan kepada Fina. “For you.”


Fina terperangah. Boneka es-krim yang lucu. Ukurannya sangat pas untuk Fina. Ia belum melaju, tetapi dia sudah mendapatkan banyak kesenangan dari Gerald. Padahal hari ini bukan hari ulang tahunnya.


“Are you ready for more strawberry?” tanya Gerald, menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


“Yes, im ready.” Fina menyahut.


“Kok segitu doang suaranya? Kurang keras, ah.”


“IM... READYYY!!!” Teriak Fina seperti tarzan di hutan. Lantas mereka berdua tertawa. Gerald menginjak pedal gas, melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Fina sudah tahu Gerald akan membawanya kemana. Hari sebelumnya Gerald bilang kalau dia ingin menepati janjinya sewaktu kecil untuk membelikan Fina es-krim stroberi yang banyak. Tapi Fina benar-benat tak tahu soal pengharum ruangan, boneka ice-cream, dan bantal penyangga kepala dimobil. Gerald juga menyewa gerai es-krim yang kami kunjungi, sehingga hanya ada mereka dan para pelayan.


“Dok, gerai ini Dokter sewa?” tanya Fina seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


“Gerald mengangguk. Ia menarik kursi, mempersilahkan Fina duduk.


“Makasih banyak loh.” Fina tersenyum bahagia.


Tak lama beberapa pelayan datang menghantarkan makanan dan minuman serba strawberry ke meja mereka. Ada es-krim stroberi cup, es-krim stroberi cone, pancake stroberi, jus stroberi dan butiran buah stroberi asli. Meja mereka penuh oleh serba-serbi stroberi.


Senyum Fina semakin lebar. Ia mengambil satu buah stroberi segar, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


“Em...”Fina berdecak kelezatan. Fina berganti ke es-krim stroberi cone. Dia menjilati es-krim itu. Gerald hanya melihati sembari tersenyum simpul. Sebuah pemandangan yang membuatnya bahagia.


“Are you happy, Mrs. Stroberi?” tanya Gerald.


“IM SO HAPPY.....” Fina berkata lantang seraya merentangkan tangannya ke udara.


“Dokter gak mau coba?” Fina menyodorkan es-krim cone yang sudah dijilatnya kepada Gerald. Gerald menggeleng.


“Pasti gara-gara bekas aku, ya, jadi gak pengen.” Fina menyadari hal itu. Ia kembali menempelkan lidahnya ke es-krim stroberi di tangannya.


“Dokter mau pancake? Mau jus?” Fina menawarkan menu lain. Dokter tetap menggeleng.


“Engga, Fina. Habisin aja semuanya. Semua yang di meja ini milik kamu,” jelas Gerald.


“Oke...” Fina menyeruput jus stroberi. Ia mencicipi satu demi satu hidangan menu stroberi yang ada di mejanya.


Janji Gerald untuk membelikan es-krim stroberi kepada Fina terpenuhi. 11 tahun berlalu, mereka bertemu lagi. Secara tak sengaja. Sebagai dokter dan pasien. Apa rencana semesta berikutnya? Apakah takdir mereka hanya berakhir sebagai dokter dan pasien? Atau ada alasan lain mengapa mereka dipertemukan.


...***

__ADS_1


...


__ADS_2