
Fina tiba di sekolah pagi hari. Betapa terkejutnya ia melihat ada cowok duduk di kursinya pagi hari seperti ini, saat kebanyakan siswa belum datang. Win. Cowok itu merelakan datang pagi-pagi hanya untuk menemui Fina dan meminta penjelasan atas perlakuan Fina padanya.
Win menguap. “Oh, hai!” Win tersenyum saat melihat Fina.
Fina yang sempat terpaku, kembali berjalan menuju kursinya. Fina tak memasang ekpresi apapun. Wajahnya datar.
“Minggir. Gue lagi pengen sendiri,” sergah Fina.
Win pindah ke tempat duduk di sebelah Fina, membiarkan gadis itu duduk. Fina menaruh tasnya di atas meja. Ia duduk di kursinya. Fina menenggelamkan wajahnya, tertidur membelakangi Win. Tasnya ia jadikan bantal.
“Lo kenapa sih? Belakangan ini aneh. Gak biasanya.” Win berkata sendu. Ekspresinya sengaja dibuat melas.
“Lo ada masalah? Kita hadapi bareng-bareng, kan, bisa,” ucap Win. Meskipun mata Fina terpejam, sebenarnya ia tidak tertidur. Fina masih bisa mendengar semua ucapan Win.
“Yaudah deh kalau lo lagi capek. Istirahat dulu aja.”
“Tidur yang nyenyak, ya.” Win mengacak-acak puncak rambut Fina, lalu pergi meninggalkan gadis itu sendirian, kembali ke kelasnya.
Fina membuka kedua matanya. Ia merasa bersalah atas tindakannya kepada Win. Berulang kali hatinya mengucapkan permohonan maaf pada Win meski cowok itu tak mendengarnya. Fina berdiri. Menatap Win yang perlahan pergi dari balik jendela kelasnya. Matanya sayu, tak tega. Fina melambaikan tangannya kepada Win yang tak menyadari keberadaannya. “Dadah...”
...***
...
Sebuah kemajuan. Fina akhirnya bisa pergi ke kantin sendiri. Tanpa dampingan Win. Tapi rasanya begitu sepi tak ada Win di sisinya.Dari kejauhan Fina memandang meja tempat Win dan kawan-kawannya biasa berkumpul. Seperti biasanya, Win sedang berada di sana bersama komplotannya. Dan juga, Felisha? Fina memicing. Ya, itu benar Felisha.
Felisha duduk di samping Win dan merangkul tangan Win erat. Win membiarkan tangannya dirangkul oleh Felisha begitu saja. Meskipun sebenarnya Win tak nyaman dan hanya bisa pasrah karena Felisha terus menerus menyelinapkan tangannya ke tangan Win, tetapi Fina tetap melihat itu sebagai sebuah kemesaraan. Fina merasakan sesuatu menyerang dadanya. Sensasi yang sama saat ia melihat Gerald dan Lindy berpelukan. Fina mengelak. Mengapa dia harus merasa begitu? Dia bukan pacar kedua cowok itu.
Fina kembali ke kelasnya. Istirahat berakhir. Fina mencoba fokus dengan penerangan guru yang mengajar di kelasnya, meskipun banyak sekali hal yang menerobos pikirannya. Dokter Gerald. Win. Felisha.
__ADS_1
Suara seseorang tiba-tiba menggema di speaker, membuyarkan pikiran Fina. Suara yang tak asing di telinganya.
“Assalamualaikum teman-teman. Bagi yang melihat kunci motor Vespa matic dengan gantungan hamburger tolong diberikan kepada guru piket atau langsung ke saya, karena itu kunci motor saya, Win, dari kelas XII IPS-1. Sekali lagi bagi yang melihat kunci motor Vespa matic, tolong diberikan ke guru piket atau ke saya. Terima-kasih.” Win memberikan pengumuman. Ia baru saja kehilangan kunci motornya.
“Kebiasaan,” celetuk Fina reflek dengan wajah kesal. Tapi, ia tidak peduli. Apalagi berniat untuk membantu menemukannya.
“Gantungan hamburber? Gak sekalian kentang gorengnya?” ucap guru yang sedang mengajar di kelas Fina, yang mengundang tawa seisi kelas.
...***
...
Chat. Tidak. Chat. Tidak. Chat. Tidak.
Setidaknya itulah yang memenuhi kepala Fina. Ia ragu ingin mengechat Win atau tidak. Dia merindukannya. Dia juga merasa bersalah sudah mencampakinya. Ada 235 chat belum terbaca dari Win sejak kemarin. Sebagian besar merupakan spam.
Kalau Fina mengechat Win, mungkin Felisha tak akan tahu. Yang terpenting bukankah mereka tidak boleh terlihat bersama di sekolah? Kalau hanya di chat, Fina yakin Felisha tak punya bakat menyadap ponsel orang. Ah, tapi nanti aja. Fina mengurungkan niatnya. Jumlah chatnya belum bulat 300. Fina ingin mencapai target. Lagipula, anggap saja ini hukuman untuk Win karena sudah bergandengan tangan dengan Felisha saat di kantin.
Fina melotot. Suara itu ia kenal betul. Fina tiba-tiba merasa salah tingkah. Fina menarik selimut, mengumpat di dalamnya. Dia tak habis pikir cowok yang sedang dipikirkannya itu menghampiri ke rumahnya. Fina pura-pura tertidur.
Bapak yang membukakan pintu. Inikali pertama Bapak bertemu Win. Bapakpun sepertinya kaget ada anak laki-laki berbadan tinggi-kekar memanggil fina dengan cara menyerupai anak kecil.
“Finanya ada Om?” Win menyalami Bapak.
“Fina? Sebentar.” Bapak mengecek Fina di kamarnya. Ia melihat putrinya sedang tertidur terbungkus selimut.
“Finanya sudah tidur! Mungkin bisa ke sini lain waktu,” ujar Bapak. Win nampak kecewa mendengar pernyataan Bapak.
“Yah.., yaudah deh. Oh, iya, Pak. Bapak bapaknya Fina, kan?” tanya Win.
__ADS_1
“Iya, kenapa? Kamu siapa?”
“Saya Win, Pak, teman sekolahnya Fina,”
Fina membuka selimutnya. Ia masih mendengar sayup-sayup percakapan antara bapaknya dan Win. Cowok itu belum juga angkat kaki dari rumah Fina. Fina sedikit penasaran, apa yang mereka bicarakan. Fina berjalan mendekati pintu kamarnya, menempelkan kupingnya di sana. Sekarang ia bisa mendengar suara mereka lebih jelas.
“Saya mau ngomong sesuatu ke bapak boleh gak?” izin Win.
“Boleh boleh. Ngomong aja sekarang.”
“Tapi bisik-bisik aja Pak. Saya agak malu,” Win mendadak menjadi sosok pemalu.
Bapak tertawa kecil, mengizinkan. Win mendekatkan wajahnya ke telinga Bapak. Ia mengatakan beberapa kata. Sontak, Bapak tergelak mendengar lirihan Win.
“Gimana, Pak?” tanya Win.
Bapak memberi kode lewat tangannya, meminta Win mendekat. Ia menjawab pertanyaan Win dengan cara yang sama dengan yang Win lakukan: Berbisik.
Tiba-tiba Win kegirangan.Ia berterima-kasih kepada Bapak. Sedangkan Fina di kamarnya mengernyitkan dahi. Beberapa saat suara keduanya sempat menghilang. Fina hanya menangkap kalau Win ingin membisikkan Bapak sesuatu. Tetapi Fina tak tahu sesuatu itu apa.
Fina reflek memukul pintu kamarnya kesal, menimbulkan suara yang nyaring. Perhatian Bapak dan Win teralihkan oleh suara itu.
“Suara apa, tuh, Pak?” tanya Win.
Bapak mengedarkan pandangnnya ke atap rumahnya. “Tikus kayaknya.”
“Oh tikus. Yaudah, Pak, saya pamit dulu, ya?” Win pamit pulang.
Bapak mengiyakan. Fina kembali meloncat ke kasurnya dengan perasaan kesal dan penasaran yang bercampur menjadi satu adonan. Ia kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, kakinya menendang-nendang jengkel meringkuk.
__ADS_1
...***
...