
Liburan telah berakhir. 3 hari 2 malam geng Rantai Manusia menghabiskan waktu bersama dan bolos bersama di hari senin. Hal ini sempat menjadi pertanyaan beberapa guru. Namun, Win bisa menghandle itu. Ia cukup pandai berbicara.
Entah mengapa Fina tiba-tiba merindukan Gerald. Sudah beberapa hari ini ia tak melihat senyumnya yang berbentuk hati. Senyum itu selalu menghantarkan Fina ke mimpi-mimpi indah jika membayangkannya sebelum tidur. Fina juga memindahkan jadwal konsultasinya bersama Gerald yang biasa dilakukan di hari minggu ke hari lain.
Sepulang sekolah, Fina menyempatkan diri ke supermarket untuk memberi beberapa bahan nasi goreng nanas. Tak adil rasanya kalau Dokter Gerald tak mencicipi nasi goreng nanas buatannya. Fina mendambakan pujian dari seorang Dokter lulusan Universitas terbaik di Canberra itu.
Fina mencicipi sesendok nasi goreng di penggorengannya yang masih dalam tahap memasak. Dia langsung terbuai oleh rasanya sampai melek-merem..
“Dokter pasti suka...” Fina kembali mengaduk nasi goreng nanas di penggorengan.
Fina menjumpai Gerald di klinik. Kebetulan sedang tak ada pasien saat Fina pergi ke sana.
“Hi, Fin. Tumben kesini. Gimana liburannya?” Tanya Gerald yang langsung membahas prihal liburan. Fina memang sempat bilang ke Gerald kalau ia ingin vacation bersama teman satu sekolahnya.
“Im so happy....” Fina tersenyum senang. Digengamannya ada ompreng makan berisi nasi goreng nanas yang baru saja dibuatnya. Masih hangat.
__ADS_1
“Asik... Itu oleh-olehnya buat saya?” Gerald melirik benda yang dibawa Fina. Tergiur.
Fina mengangguk. “Nasi goreng nanas resep Ibu buatan Fina.” Fina meletakkan ompreng tersebut di atas meja Gerald. Fina membantu Gerald membuka penutup ompreng itu. Aroma sedap langsung memenuhi ruangan itu.
“Em... Tahu aja perut saya sudah keroncongan.” Gerald menghirup aroma yang keluar dari masakan itu dengan penuh penghayatan.
“Ini buat saya?” tanya Gerald berbasa-basi. Padahal percayalah, ia sudah tahu masakan itu diperuntukkan untuknya.
“Iya dong. Buat siapa lagi selain dokter kesayangan aku?” Fina menggda Gerald, membuat yang digoda tersipu malu hingga menimbulkan rona merah di pipinya.
Gerald kembali duduk di kursi putarnya, berhadapan dengan Fina yang duduk di kursi yang biasa di tempati pasien. Gerald mengambil beberapa sendok nasi goreng di ompreng yang dibawa Fina dan memindahkan ke piring. Suapan pertama mendarat di mulutnya.
“Em... Enak banget. Ini serius kamu yang buat? Bohong, ya? Beli, ya? Rasanya kayak masakan restoran.” Gerald terlena oleh rasa masakan buatan Fina.
“Enak aja! Akulah yang bikin sendiri! Gak percaya? Mau aku bikin di sini sekarang?” Fina hendak berdiri menuju dapur, namun buru-buru Gerald menahannya.
__ADS_1
“Gak usah. Percaya deh sekarang. Apasih yang pasien Dokter gak bisa.” Gerald memuji Fina. Membuat Fina rasanya ingin terbang sekarang juga.
“Kamu kayaknya harus ikut Koki Master deh. Dokter dukung.” Gerald menyarankan. Koki Master adalah acara televisi kompetisi memasak bergengsi.
“Enggak, ah. Paling lolosnya di masakan ini doang. Seterusnya aku bakal masak air atau mie goreng karena kehabisan ide.” Fina membuat Gerald tertawa. Padahal mulut dokter itu di penuhi oleh makanan.
“Masak-masak apa yang harus dilupain?” tanya Gerald membuat teka-teki.
“Masak lalu!! Receh banget, Dok, tolong!! Kayaknya anak SD juga bisa jawab.” Fina dengan mudahnya menaklukan teka-teki itu dengan sekali jawaban.
“Please, ya, Dokterku yang ganteng.. Ini bukan jadwal konsultasi.” Fina memprotes seraya reflek mengampit pipi Gerald dengan tangannya mengingat kemana arah jawaban teka-teki Gerald yang berhubungan dengan psikologi, gemas. Pekerjaan Gerald memang kadang-kadang mempengaruhi kehidupan pribadinya.
Gerald yang wajahnya menyerupai ikan koi diam saja diperlakukan seperti itu oleh Fina.
...***
__ADS_1
...