
Fina terduduk di kasurnya, memandangi ponselnya. Ia dilingkupi kebimbangangan. Jarinya sejak tadi ingin mengetikkan sesuatu pada salah satu kontaknya. Tetapi berulang-kali ia membatalkannya. Orang itu adalah Win. Kemarin suasana antara keduanya sepi sekali. Tak ada obloran sepatah-dua patah pun. Kalau memang hubungan keduanya sudah berakhir, ada yang ingin Fina katakan untuk yang terakhir kalinya. Sekedar bilang makasih atau selamat tinggal.
Tetapi Fina terlalu gengsi untuk menghubunginya duluan. Bukankah harusnya cowok bertindak lebih cepat dari cewek? Kenapa Win tak menghubunginya? Menjelaskan hubungannya. Apa baginya itu tak perlu? Atau memang Win yang tak pernah menganggap Fina spesial? Apa Win merasakan juga apa yang Fina rasakan? Berjuang untuk melupakan sesseorang. Berusaha berhenti memikirkannya setiap malam. Meyakinkan diri untuk berhenti berharap akan masa-lalu. Mungkin Win sudah membuka lembaran baru dalam hidupnya, dan Fina hanyalah masa-lalu. Jadi untuk apa Fina mengganggu.
Fina menganggurkan ponselnya yang menyala. Tiba-tiba satu chat masuk beserta deringnya. Chat itu berasal dari Gerald.
Gerald: Fin!... Kamu lihat tiktok, gak? Kita VIRAL!!!!!
Fina sontak melebar matanya membaca chat Gerald. Ia buru-buru membuka aplikasi Tiktok di ponselnya.Video-video yang memperlihatkan Fina dan teman-temannya yang sedang memegang karton dengan tulisan-tulisan mengenai kesehatan mental beredar di beranda tiktoknya. Orang-orang merekam mereka yang tengah berbaur di jalanan, mengkampanyekan hari kesehatan mental sedunia, lalu mempostingnya di akun tiktok masing-masing. Video-video tersebut tembus hingga jutaan penonton. Sosok Fina disebut-sebut di kolom komentar. Banyak akun-akun yang memuji aksinya.
Cewek yang terakhir di video (Fina) keren banget. Komentar salah satu pengguna aplikasi tersebut melihat Fina dengan tulisan di karton yang dipegangnya.
Bagus nih. Biar masyarakat kita lebih aware sama kesehatan mental diri sendiri dan orang lain.
#Mentahealthawareness
Selamat hari mental sedunia #Spreadlove
Fina menganga lebar. Ia sama sekali tak berekspetasi akan hal ini.
(Chat)
Fina: Dok!!! Aku senang banget!! Akhirnya orang-orang aware sama kesehatan mental.
Tawa yang lebar itu berubah menjadi rasa haru kemudian. Air mata menetes di pipinya. Moment ini akhirnya tiba. Moment dimana bisa menunjukkan siapa dirinya ke dunia dan
menginspirasi banyak orang.
__ADS_1
Fina mengabari ke teman-teman SMA ceweknya lewat grup yang mereka miliki.
(Chat)
Letta: *Congrats Fina!! You are amazing*!!
Fuji: *You did it Fina!! I’am so proud of you*!
Fina rasanya semakin ingin menangis membaca respon dari teman-temannya. Ia sejenak membatin, berdialog dengan dirinya. After everything you did, you deserve to be happy, Fina. Ini saatnya buat bangkit.
Fina bangkit dari kursinya, berkemas, bergegas menemui Dokter Gerald.
***
Fina tiba di klinik. Gerald dengan pakaian rapi baru saja keluar dari ruang konsultasi saat Fina memasuki ruangan. Fina yang tak bilang akan mampir, sedikit terkejut saat orang tersebut sudah di depan matanya.
“Dok... Thanks for healing me.” Fina menangis di pundak Gerald.
“Its not me. But you. Cuma kamu yang bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Dokter Cuma bantu.”
“We did it, Dok.” Fina melepaskan pelukannya dan menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan video mereka yang viral pada Gerald dengan tangisan haru.
Gerald mengangguk dengan senyuman. Ia mengangkat satu tangannya, menganjak tos. “High Five.”
Fina menepuk telapak tangan Gerald. Kemudian mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Tawa mereka terhenti saat ponsel Gerald di kantong celananya berbunyi.
“Bentar.” Gerald izin mengangkat teleponnya sebentar pada Fina.
Pria itu menempelkan benda persegi itu di telinganya.
“Iya, benar. Saya dengan Dokter Gerald.” Gerald menjawab teleponnya. Fina hanya terdiam menyaksikan Gerald yang entah sedang membahas apa.
“What?? Really? Bisa dong, pasti.” Volume bicara Gerald tiba-tiba membesar, membuat Fina kaget. Namun, wajah Gerald berseri seperti sedang menerima kabar baik, membuat Fina menjadi penasaran.
Sesaat kemudian Gerald mematikan teleponnya.
“Ada apa?” Fina lebih dulu bertanya sebelum Gerald sempat memberi tahu.
“Kamu diundang ke acar talkshow untuk membicarakan prihal kesehatan mental.” Gerald membagikan kabar germbira dengan sangat antusias.
Fina menganga selebar ia bisa, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengan. “Serius?”
Gerald manggut-manggut.
“Dok, aku mau pingsan.” Tubuh Fina tiba-tiba lunglai, dan ia jatuh ke badan Gerald. Gerald membantu menopang tubuh itu. Tapi Fina tak benar-benar pingsan.
“Are you OK, Fina?” tanya Gerald.
“Im OK, Dok. Benar-benar OK.” Fina kembali membenarkan tubuhnya. Beberapa detik kemudian ia, ia malah berjingkrak-jingkrak, berteriak girang, memeluk Gerald berkali-kali seperti kesetanan.
Gerald tertawa melihat aksi bahagia Fina.
__ADS_1
...***
...