Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?

Salahkah Tuk Tak Baik-baik Saja?
Di Pangkuan Win


__ADS_3

Suara desiran ombak mengiringi, tatkala matahari tengah naik ke singgasananya. Langit menjelma menjadi orange. Udara dingin menusuk kulit. Lautan mendidih di pagi hari.


Fina terbangun dari mimpi indahnya. Ia menuju ke tepi pantai. Kaki telanjangnya mencengkam pasir halus, meninggalkan jejak.


Fina menarik napas, menikmati udara segar pagi hari. Tangannya mengusap-usap bahunya sendiri, menghangatkan diri. Ia memejamkan matanya, memfokuskan pendengarannya pada gemuruh ombak yang bersenandung. Udara dingin masuk mengalir dari lubang hidungnya, menuju paru-parunya.


“Udah bersyukur hari ini?” suara bass milik cowok tiba-tiba menyelinap diantara suara nyanyian ombak.


Fina membuka mata. Ia menoleh ke samping. Berdiri sosok Win yang sedang memasukkan tangannya di kantong celana jogger yang dipakainya.


Fina terangguk. “Sudah.”


“Untuk bisa menikmati suasana seindah ini, udara senikmat ini, dan untuk orang disebelahku,” lanjut Fina.


Win mendekap bahu Fina, menariknya mendekat. Fina spontan menyandarkan kepalanya ke bahu Win.


“Sesulit apapun hidup, aku selalu merasa Tuhan itu baik. Aku percaya, setiap kejadian datang untuk sebuah alasan.” Fina melirih.


Win menatap wajah Fina yang tengah bersandar di bahu kekarnya “Aku bangga sama kamu.” Win mengecup pangkal rambut gadis itu.


Matahari sempurna berdiri di tengah langit dengna gagahnya. Suara kicauan burung seakan melontarkan puji-pujian kepadanya. Sang penerang kehidupan.


...***


...


Matahari yang sebelumnya teduh menjadi terik di siang hari. Beberapa turis lokal dan mancanegara memanfaatkan sinar UV untuk menggelapkan kulit. Namun tidak dengan Geng Rantai manusia. Mereka sedang menikmati makan siang berupa nasi goreng nanas buatan Fina dan rekan-rekan.


Fuji sangat penasaran dengan rasa nasi goreng nanas. Akhirnya, cewek-cewek itu membuat rencana sebelum datang ke sini untuk membuat nasi goreng nanas bersama.


“Em... Ini enak banget. Dapet rersep dari mana?” puji Win yang sedang duduk di sofa sambil menikmati sepiring nasi goreng nanas dengan lahap.


“Dari Almarhumah Ibunya Fina.” Fuji membantu jawab.


“Baru tahu aku nasi goreng bisa pake nanas. Pake mengkudu bisa gak?’ humor Ahdan.

__ADS_1


“Bisa... Bisa mabok!” Yola menanggapi.


“Tapi bener kata Win. Enak banget.” Hersa setuju dengan ucapan Win. Ia tak kalah lahap, seperti sedang berlomba 17 Agustus dengan Win.


Fina yang sedang memegang sodet, mengaduk-aduk nasi goreng nanas di penggorengan, tersenyum mendengar pujian dari teman-temannya.


Bu... Aku berhasil bikin nasi goreng nanas yang enak. Fina bergumam dalam hati.


“Ayok siapa lagi nih yang mau tambah?” Fina menawarkan.


“Gue.. gue..” Para cowok berebut posisi untuk tambah nasi goreng nanas buatan Fina, dibantu teman-temannya ceweknya. Mereka mengantri di belakang punggung Fina, walaupun sebelumnya sempat senggol-sengggolan dan saling mendahului.


“Gak salah gue suka sama Fina. Udah cantik, jago masak lagi.” Win memuji Fina.


“Kalian udah jadian belum sih?” Letta penasaran, pasalnya mereka berdua sudah nampak seperti dua sejoli.


“Soon..” Win menyeringai.


“San-sun san-sun. Kelamaan! Gue udah dapet tiga!” bercanda Dery namun tak heran jika ucapannya adalah fakta.


Fuji membuang muka.


“Aw... Sakit tahu.” Fuji menghempaskan tangan Dery dari pipinya.


“Nahloh, kesabaran Fuji habis.” Win memanas-manasi.


“Antrian berikutnya!” Fina berteriak seperti sedang berjualan. Hersa maju ke depa, mengambil bagian setelah Win.


...***


...


Malam hari memang waktu paling tepat untuk menyaksikan film. Apalagi film horor dan disaksikannya ramai-ramai. Cewek dan cowok. Kalau takut si Cewek tinggal melipir ke si Cowok. Si Cowok dengan senang hati menerima.


“Aaa!” jerit Letta melipir ke bahu Hersa saat penampakan hantu berambut panjang berwajah putih muncul dengan tiba-tiba disertai dengan suara dentuman.

__ADS_1


Fuji dan Derry tak kalah romantis. Dery membantu Fuji menutupi matanya saat adegan hantu bersiap muncul. Walaupun terkesan humor, tapi menggemaskan melihat Derry melakukan hal itu.


“Udah muncul hantunya?” tanya Fuji yang ditutupi matanya oleh Dery dengan tangannya.


“Belum dikit lagi.” Dery menahan tangannya, tak membiarkan ceweknya melihat penampakan hantu seram di televisi.


Ahdan yang melihat pemandangan itu nampak heran. “Nih orang mau nonton apa mau sulap. Pake ditutupin segala matanya.”


Berbeda dengan pasangan-pasangan lain yang melakukan adegan-adegan romantis saat nonton film, Ahdan dan Yola malah seperti orang bermusuhan, duduk berjauhan. Ada ruang sekitar 5 jengkal diantara mereka. Yola melilit sekujit tubuhnya dengan selimut. Ketika hantu muncul, ia tutup kepalanya dengan selimut itu.


“Aaaa...” teriak Yola spontan berlindung di balik selimut.


“Gak usah sok takut! Setan yang takut sama lo. Kuntilanak berbando kuning.” Ahdan memaki Yola saat mendengar jeritan keluar dari mulutnya.


“Jahat banget sih lo! Orang lagi ketakutan!” Yola cemberut. Raut wajahnya penuh ketakutan. Tiba-tiba Ahdan dilingkupi rasa bersalah melihat wajah itu. Cewek itu benar-benar sedang takut. Disaat teman-teman ceweknya memiliki bahu cowok untuk berlindung, Yola memilih selimut sebagai penolongnya dari rasa takut. Tapi, Ahdan terlalu gengsi untuk memberikan bahunya pada Yola. Ia gengsi dengan Yola, juga teman-temannya.


Ahdan menggeser tubuhnya, mendekati Yola. Mereka duduk berdampingan. Paling tidak, dengan begini rasa takut Yola bisa menipis.


“AAA!!” Yola reflek mengumpat di bahu Ahdan saat jumpscare muncul.


Seketika momen menjadi canggung.


“Maaf...” Yola berkata kaku. Ia kembali menmbetulkan tubuhnya dari bahu Ahdan.


Fina dan Win duduk di sofa, Diantara cewek-cewek yang lain, bisa dibilang Fina yang paling pemberani diantara yang lain. Sejak tadi ia sama sekali tak mengeluarkan jeritan, atau melampiaskan ketakutannya ke bahu Win. Tak ada secuil pun ketakutan akan hantu pada diri cewek itu. Padahal Win sudah sejak tadi mengkokohkan bahunya, menunggu Fina mendekatinya. Tapi justru Fina malah menguap. Ia merasa cukup boring.


Fina membaringkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Win sebagai alasnya. Mereka nonton di kamar cewek. Sangat tak enak kalau Fina memilih tidur di kasur sendirian.


Win merasa akhirnya ia berguna. Perlahan cewek itu mulai meredupkan peglihatannya. Matanya tertutup sempurna. Win mengelus-elus rambut Fina dengan lembut.


Rasanya nyaman sekali diperlakukan seperti itu. Fina seperti pernah merasakan momen seperti ini. Diusap lembut rambutnya oleh seseorang. Tetapi kali ini, kelembutannya terasa dua kali lipat. Kenyamanan menghantarkan Fina pada tidur yang nyenyak.


Win memandangi wajah cantik Fina meskipun sedang tertidur. Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyuman. “Orang-orang ketakutan kamu malah tidur. Fin... Fin...”


Win terus mengusap pangkal kepala Fina. Sampai ketika film beres, Win membopong Fina ke kasurnya. Fina terlalu nyenyak. Ia sama sekali tak terbangun.

__ADS_1


...***


...


__ADS_2