
Hari ini Fina sangat tidak bersemangat pergi ke sekolah. Kalau biasanya tujuannya ke sekolah untuk belajar dan menemui Win, sekarang dia sudah tidak bisa lagi melakukan opsi kedua.
Win... Maaf. Aku juga gak mau sebenarnya kayak gini.. Aku bahkan ragu bisa atau tidak menuruti perintah Mamamu. Fina bergumam sendiri dalam hati.
Orang yang disebut namanya tak lama muncul.
“Fin!!” panggil Win dari arah belakang. “Aku tadi ke rumah kamu, tapi kamunya gak ada. Terus chat aku kenapa gak di bales-bales?” Win mensejajarkan kakinya dengan Fina. Mereka tengah menuju kelasnya masing-masing. Sejak semalam Fina sengaja tak membuka whats-appnya. Win pasti megirimi chat kepadanya bertubi-tubi.
“Gak pa-pa,” jawab Fina seadanya. Langkah Fina berhenti di persimpangan menuju toilet. Itu satu-satumya cara saat ini agar ia bisa menghindar dari Win.
“Kamu duluan aja. Aku mau ke kamar mandi dulu.” Fina berbelok ke jalan menuju toilet.
Fina masuk ke toilet khusus perempuan. Ia berdiri di depan cermin, mengulur-ulur waktu agar dirinya menghilang total dari pandangan Win. 5 menit berlalu. Fina keluar dari kamar mandi. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Win ternyata menungguinya di depan toilet. Tubuhnya bersandar dengan santai di dinding sembari melipat tangannya di dada.
“Sudah? Yuk aku antar kamu ke kelas.” Win mencengkram pergelangan tangan Fina tanpa cewek itu sempat membalas. Win menarik Fina menuju kelasnya, tapi Fina merasa tak nyaman harus dituntun seperti itu.
“Win aku bukan anak kecil. Aku bisa jalan sendiri.” Fina melepaskan tangannya dari cengkraman Win.
__ADS_1
“Sorry... Aku buat salah sama kamu? Bilang ke aku kalau kamu ada salah. Aku gak suka kamu suka mendam segala sesuatu sendiri.” Win mulai merasakan ada yang ganjil dengan Fina.
“Kamu gak ngerti, Win.” Tak segampang itu buat Fina untuk menceritakan beberapa hal. Untuk masalah ini, dia tak mau merusak hubungan dia dengan Ibunya. Fina tahu sekali rasanya hilang koneksi dengan seorang Ibu.
“Apa? Apa yang aku gak mengerti? Apa ini ada hubungannya dengan Dokter itu? Kenapa kamu gak mau jawab penawaran aku buat jadi pacar kamu?”
Fina sedikit terkejut saat Win membawa-bawa nama Gerald ke permasalahannya. Mungkin Win masih ada rasa cemburu atas kejadian beberapa hari lalu. Tapi, sepertinya Fina punya ide untuk bisa menghindar dari Win.
“Iya. Ini ada hubungannya sama dokter itu.” Fina menjawab dengan mantap. Jelas-jelas ia berbohong.
Win lanjut berjalan ke kelasnya, meninggalkan Fina yang masih diterjang kebingungan.
Fina menarik napas dalam, lalu membuangnya lagi. Ia pun pergi menuju kelasnya.
...***
...
__ADS_1
Win melepas baju kaos yang digunakannya, menunjukkan badannya yang kotak-kotak dan ototnya yang keras. Ia mendekati samsak yang menggantung di halaman belakang rumahnya. Tak ada orang selainnya di rumahg itu. Jadi ini kesempatan untuk Win melampiaskan emosinya ke samsak di depannya itu.
DUK!!
Pukulan pertama dilontarkan. Rahang Win mengeras. Wajahnya berubah sangar.Pukulan pukulan berikutnya menyusul. Jeritan-jeritan kemarahan mulai mewarnai aksinya.
Win terus menghantam samsak itu tanpa ampun. Keringat bercucuran. Wajah Fina terbayang di kepalanya. Kenapa? Kenapa harus dokter itu? Batin Win tak terima.
Win kembali memukul samsaknya bertubi-tubi. Kenangan bersama Fina terputar lagi di otaknya. Kenangan saat mereka tak sengaja bertabrakan di toko, saat mereka di rooftop berdua, saat mereka makan bekal berdua dan menikmati sunrise di pantai. Apa artinya semua itu bagi Fina? Apakah semua itu hanyalah omong kosong baginya? Apakah cewek itu benar-benar mencintainya? Tapi mengapa hal seperti ini harus terjadi? Mengapa dia lebih memilih dokter itu daripadanya?
Win memukul samsaknya dengan kekuatan penuh. Emosinya telah sampai di puncaknya. Ia menjerit sekencang ia bisa. Air mata menetes dari matanya. Andai saja Fina tahu betapa besar rasa cintanya padanya.
Win menangis. Tak terima semuanya. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Win terjatuh lunglai. Lututnya menyentuh lantai. Ia melepas sarung tangan tinju yang dikenakannya, kemudia mencengkram rambutnya dengan kuat seraya meringis.
...***
...
__ADS_1